BACK TO TOPIC
OPINI PENALAR
Politikus Senior Golkar, Mantan Anggota DPD RI, Mantan Menteri Kelautan dan Perikanan, Mantan Menteri Negara Lingkungan Hidup, Mantan Menteri PAN
Kembalikan Golkar Pada Aktivis dan Profesional

Kita perlu memberikan perhatian kepada peristiwa-peristiwa sekitar tahun 1965-66. Apapun versi orang cerita tentang peristiwa masa itu, kenyataannya bahwa tentara memenangkan pertarungan politik waktu itu. Tentara ini dipimpin Jendral Suharto. Apapun yang dia mau tidak ada yang bisa menolak. Pada saat itu militer begitu kuat organisasinya. Ada hal menarik yaitu tentara--Pak Harto khususnya--tidak ingin mendirikan pemerintahan militer.

Pak Harto mengambil rumusan jalan tengah Pak Nasution, yaitu kerjasama militer dan sipil. Kerjasama antar militer dengan sipil ini sudah ada dari tahun 1950-an. Tekad dari Pak Harto mengambil rumusan ini adalah untuk menolak berdirinya pemerintahan militer. Pak Harto ingin segera dilaksanakan pemilu, namun ada kelompok budayawan dan sipil yang menginginkan Pak Harto memimpin dulu. Tujuannya untuk membersihkan partai-partai, setelah itu baru pemilu.

Pak Harto berkata, kalau kaya gitu sampai ubanan kita tidak akan punya pemimpin. Pada waktu itu sebagai partner ABRI (TNI pada waktu itu), diambillah sipil. Dipilih organisasi yang sudah ada, yaitu Sekretaris Bersama Golongan Karya (Sekber Golkar) terdiri dari 120 organisasi profesi (Ikatan Sarjana Hukum, PIG, dan lain sebagainya). Awalnya Sekber ini dipimpin militer aktif, pemimpin pertama waktu itu dari Asospol Pak Sukowati.

Golkar pertama kali itu adalah organisasi profesi. Beda orang yang profesi dan orang partai, kalau orang partai dia akan ngomong ideologi dan dikaitkan dengan kejadian di masa lalau. Marx ngomong apa, John Lock ngomong apa, dan sebagainya. Kalau orang profesi, orientasinya berpikir ke depan. Berpikir program ke depan, dan dikaitkan dengan ideologi. Dari sinilah kemudian muncul definisi Pancasila sebagai ideologi terbuka.

Sampai suatu ketika Pak Harto bilang, Golkar ini harus dipersiapkan untuk memasuki sistem multi partai. Dia sendiri belum tahu nama partai-partai itu apa. Kumpullah saya, Pak Manihuruk, dan lainnya di Slipi. Dari situlah keluar yang namanya karakter desk, pembinaan kader fungsional, dan dimulai juga kebiasaan menulis Renstra. Golkar bergerak cepat, namun militer tidak suka pergerakan Golkar cepat. Ini karena kalau begitu fungsi pengawasannya tak jalan.

Lantas kapan Golkar mulai berubah? Waktu itu saya sebagai sekretaris fraksi mengusulkan pengumpulan iuran untuk kas partai. Anggota MPR sebagian besar menolak karena honor mereka dari gaji sebagai MPR itu. Namun ada konstituen Golkar yang baru masuk dari kalangan pengusaha. Saat itu ada tiga orang anggota MPR pertama kali dari golongan pengusaha, yaitu Baramuli, Sofyan Wanandi, dan B Sutano. Dari sinilah pengusaha rame-rame melamar ke Golkar. Dari HIPMI, Kadin, dan sebagainya.

Kemudian terjadilah apa yang kemudian saya sebut tragedi, dialami Akbar Tandjung. Di mata saya Akbar itu seorang yang istimewa. Saat Golkar menderita dengan stigma Orba 1999 dan 2004, Akbar gigih memperjuangkan Golkar sedemikian rupa hingga pada 2004 Golkar meraih perolehan suara terbanyak. Ketika menyampaikan pertanggungjawaban, dia mendapat standing ovation. Namun sore harinya, hadirin yang memberikan standing ovation menolak Akbar kembali menjadi Ketum Golkar. Akhirnya yang naik Jusuf Kalla. Apa yang bisa merubah pikiran dan hati manusia? Ya ‘fulus’/uang.

Golkar itu dulu punya yang kita sebut dengan Golkar dengan 'g' kecil, dan Golkar dengan 'G' besar. Mereka yang disebut dengan Golkar dengan 'G' besar adalah mereka yang aktif di Partai, sedangkan 'g' kecil itu mereka yang tidak aktif di partai namun membawa nilai-nilai partai. Golkar dengan 'g' kecil ini lama-kelamaan hilang, diambil partai lain. Sementara Golkar dengan 'G' besar sibuk nguntit fee dari kanan kiri, sebagian disetor ke partai sebagian dikantongi sendiri. Saya kira ini bukan Cuma terjadi di Golkar, tetapi hampir semua partai di Indonesia.

Golkar yang tadinya dikuasai oleh aktivis dan profesional, kini dikuasai pengusaha. Kalau pengusahanya itu benar pengusaha tidak apa-apa. Tetapi ada juga yang pengusahanya karena “diusahakan”. Golkar perlu diselamatkan, karena Golkar berisi orang-orang yang berpikir jauh ke depan dan mengaitkannya dengan ideologi. Kalau tidak ada Golkar, masa kita mau main terima-terima saja ideologi yang dikaitkan dengan zaman ribuan tahun lalu. (ast)

SHARE ON
close

PENALAR

PENALAR TERPRODUKTIF