BACK TO TOPIC
OPINI PENALAR
Ekonom Konstitusi
Kembali ke Aliansi Strategis Asia Afrika

Terkait masalah ekspor, sebenarnya sudah sejak awal periode pemerintahan sekarang ini, sudah diberikan masukan yang jelas bahwa untuk meningkatkan ekspor Indonesia harus memerluas kerjasama tidak saja dengan negara yang selama ini menjadi partner dagang. Akan tetapi sayangnya tidak ditanggapi.

Sekarang momentumnya sudah lewat. Padahal, Asia Afrika adalah pasar yang cukup bagus. Jadi mengapa dulu Bung Karno membangun aliansi strategi itu adalah dalam kerangka jangka panjang. Beliau sangat visioner.

Karena, negara-negara Asia Afrika itulah yang berpotensi menjadi emerging market bagi Indonesia. Sekarang menurut saya sudah terlambat. Siapapun presidennya akan tersandera. Tersandera oleh Barat. Sebab, utang sudah menjadi besar dan ada komitmen yang harus dipenuhi.

Komitmen itu adalah hal politis dan itu hanya bisa disiasati oleh presiden yang tidak bisa disandera. Artinya tidak punya beban masalalu. Jokowi dan Prabowo itu sama saja. Keduanya punya beban masa lalu. Jokowi disandera oleh para Taipan yang mengkhianati pak harto ketika krisis ekonomi 1997-1998, Prabowo disandera pula oleh para Taipan yang membesarkan Orde Baru.

Jadi keduanya sama saja. Oleh karena itu kemudian jika kelompok menengah akan Golput, itu menjadi wajar.

Terkait posisi neraca perdagangan, akan defisit terus kalau tidak ada breakthrough atau terobosan dalam meningkatkan kerjasama ekonomi. Kecuali dengan Australia yang sekarang sudah bagus, khususnya dalam proses impor sapi tambahan untuk targeting 2022 tempo hari agar supaya Indonesia bisa berswasembada daging. Tetapi apakah Australia benar-benar memberikan sapi yang berkualitas, masih menjadi tanda tanya. Karena pengalaman masyarakat yang menerima sapi bantuan dari Pemerintah sebagian besar hanya bisa lahir satu kali dalam setahun. Apakah sapinya dimandulkan ataukah bagaimana, masih menjadi pertanyaan. Sepertinya agak tricky.

Sebenarnya Indonesia harus membangun kemampuan ekonomi sendiri pada sektor hulu. Sektor hulu banyak diganggu oleh para pemain yang hanya mementingkan kepentingan kelompok.

Tidak akan mungkin neraca perdagangan bisa surplus kalau cara mengelola negara seperti ini. Hal ini adalah impact dari masalalu, tetapi tidak ada effort dari tim ekonomi untuk melakukan terobosan. Terutama juga para Duta Besar kita. Mereka tidak memainkan peran sebagai marketing of our country di negara bersangkutan. Dia hanya sebatas diplomasi yang itupun tidak optimal, hanya berperan sebagai adminstratur. Hal ini yang harus diperluas. Seharusnya para Dubes menjadi etalase dari kerjasama ekonomi atau kerjasama luar negeri yang lebih luas. Bukan seperti yang sekarang yang dilakukan oleh Menteri Pariwisata dengan memasang iklan “Wonderful Indonesia” di kendaraan-kendaraan yang menghabiskan biaya besar. Itu sama sekali tidak efektif dan hanya memboroskan uang negara.

Strategic thingking dari para pembantu presiden juga tidak menunjang. Tim ekonomi saat ini adalah mereka yang berasal dari tim masalalu. Mereka textbook thingking yang tidak akan bisa keluar dari ilmu kapitalisme. Sementara mereka tidak paham bagaimana cara nya menurunkan amanat konstitusi dari Pasal 33 UUD 1945. Terkait blue print ekonomi, Bappenas memiliki hal tersebut, tetapi tidak dipergunakan.

Sekarang arena pilpres adalah arena kontestasi. Karena kontetasi merupakan janji, maka konstituen kita gampang dibuai janji jangka pendek dengan politik uang, tetapi tidak menyadari bahwa dalam jangka panjang perilaku seperti itu akan membunuh diri sendiri. Mindset masyarakat yang seperti ini yang harus dirubah.

Sekarang sekali lagi, kedua capres yang ada tidak ada bedanya. Hanya mengaduk-aduk emosi saja. yang satu membawa agama secara ekstrim, yang satunya biasa-biasa saja membawakan Pancasila. Tetapi yang diadu tetap saja rakyat terbesar di Republik ini. Hal itu yang mengkhawatirkan jika sebagian besar masyarakat tidak pandai membaca situasi. Sekarang kita sebenarnya sedang memainkan gendang orang lain.

Itu bedanya dengan Bung Karno. Beliau membangun aliansi strategis Asia Afrika adalah untuk mengkokohkan NKRI sebagai pioneer dalam berhadapan dengan negara-negara imperialis. (pso)

SHARE ON
close

PENALAR

PENALAR TERPRODUKTIF

Jerry Massie, Dr., M.A., Ph.D.

Direktur Eksekutif Political and Public Policy Studies

Ujang Komarudin, Dr., M.Si.

Pengamat Politik dan Dosen Universitas Al Azhar Indonesia

FX Sugiyanto, Prof.

Guru Besar Universitas Diponegoro

FOLLOW US

Sampah Kita Adalah Tanggung Jawab Kita!             Kebijakan Persampahan Berbasis Lingkungan             Mencermati Spirit Konvensi Basel             Impor Sampah, Menambah Musibah             Pemerataan Pendapatan Tak Bisa Lewat Pasar Modal             Menggabungkan Masa Lalu, Masa Kini, dan Masa Depan             Adakan Cerita Seru yang Tidak Selalu Mengacu pada Benda Koleksi             Pembuktian Terbelenggu Prosedural Hukum Acara MK             “The Comedy of Errors”             Penyatuan Picu Kepincangan Pemerintah