BACK TO TOPIC
OPINI PENALAR
Anggota Institute Sukarno for Leadership Universitas Bung Karno (UBK)
Kembali Ke Prinsip Dasa Sila Bandung

Untuk kondisi global, ada baiknya kita lihat faktanya dulu. Sebetulnya dunia saat ini sama-sama sedang mengalami krisis. Krisis tersebut ditandai oleh tiga hal, pertama, Krisis Over Production atau kelebihan produksi. Apa yang dibutuhkan oleh umat manusia sebetulnya sudah berlebihan. Otomotif, elektronik dan gadget, besi baja, oil & gas, food. Bahkan pangan yang sering kita bicarakan sebagai krisis pangan sebetulnya yang terjadi adalah kelebihan pangan di dunia. Padahal hanya 10 – 40 persen saja pangan yang masuk ke perut manusia. Selebihnya dibuang menjadi makanan sisa atau sampah. Hal itu karena tidak terserap oleh pasar.

Krisis Kedua, terjadi under consumption, atau kondisi dimana manusia tidak punya cukup sumber daya keuangan untuk membeli. Barang diketahui berlimpah ruah tapi masyarakatnya ternyata tidak punya uang atau tidak punya daya beli. Hal itu terjadi pada dua level, yang pertama level rakyat (people) dan kedua level state. Uang banyak, tetapi negara tidak cukup kuat untuk membeli. Di negara-negara berkembang saat ini, lebih dari 1,5 miliar penduduknya tidak bisa makan. Kelaparan karena tidak punya makanan. Jadi bukan lagi krisis, tapi kesengsaraan.

Ketiga, terjadi krisis Unbalance yang ditandai dengan terjadinya bubble finance. Terjadi bubble di pasar keuangan yang tidak sebanding dengan produksi yang ada. Sekarang menambah produksi untuk mengejar bubble finance sudah tidak mungkin karena terjadi over production. Jadi situasinya tidak ada jalan keluar.

Secara spesifik, harus diidentifikasi sebetulnya apa yang dialami saat ini oleh negara-negara maju. Negara-negara maju saat ini menghadapi krisis utang yang luar biasa besar. Public Debt Amerika Serikat (AS) sampai sekarang sudah berjumlah 21 triliun dolar AS. Sudah sekitar 300 persen lebih dari GDP AS. Utang negara-negara Eropa sendiri saat ini sudah 50 sampai dengan 130 persen GDP.

China sendiri public debt nya sudah di atas 300 persen GDP. Public debt China menjadi masalah bagi dalam negeri China karena sektor keuangan China sudah sangat terbuka. “BUMN” di China juga punya masalah, dan pemerintah daerah di China boleh mencari utang ke luar negeri. Akibatnya, utang China membengkak sangat besar dan itu sekarang yang sedang dihadapi China.

Negara-negara miskin di dunia saat ini justru menghadapi situasi ketidaklayakan untuk berhutang. Misalnya seperti Indonesia yang ingin berhutang banyak tetapi tidak mempunyai kelayakan lagi untuk berhutang, karena kemampuan membayar nya sangat membahayakan. Bukan Indonesia tidak bisa berhutang, tetapi risiko utang di negara-negara berkembang saat ini sangat tinggi.

Karena risikonya tinggi, maka imbal hasil nya harus tinggi. Hal itulah yang dihadapi negara berkembang sekarang. Akibat imbal hasil yang tinggi, maka lembaga-lembaga keuangan internasional menjadi kurang lazim memberi pinjaman dengan bunga-bunga tinggi sedari dulu, seperti World Bank (WB), ADB, IMF dan Africa Development Bank yang biasa menetapkan bunga sekitar 2 persen an.

Bank-bank yang berani melakukan ekspansi ke pasar-pasar berisiko hanya bank-bank internasional yang beroperasi lintas negara, yang bukan bagian dari IMF atau WB.  Era IMF dan WB sendiri sebetulnya sudah berakhir sebagai bank pembangunan atau untuk mengatasi masalah-masalah negara berkembang. Itu disebabkan karena risiko di negara-negara berkembang saat ini sudah tinggi sekali.

Kondisi ini yang kemudian menjadi “santapan” dari para “rentenir” murni internasional tersebut. Jenis-jenis lembaga keuangan seperti itulah yang banyak tumbuh di dalam sistem keuangan China sekarang. Kita mau berhutang berapa saja diberi dan persyaratannya mudah tetapi bunganya tinggi. Memang karena risiko nya juga tinggi, jaminannya biasanya aset atau kekayaan.  Jika gagal bayar maka asetnya diambil alih atau disita. Kalau dengan WB tidak ada model penyitaan seperti itu.

Bahkan sekarang saran-saran dari IMF dan WB menjadi aneh-aneh. Misalnya menyarankan mengurangi ketergantungan kepada hutang, membicarakan HAM dan kemiskinan dan sebagainya. Sementara negara-negara miskin dan berkembang sekarang sudah tidak mengacu kepada saran dan masukan IMF dan WB.

Jadi sistem perekonomian yang sekarang memang tidak memungkinkan negara berkembang untuk maju. Soekarno menyatakan, krisis kapitalisme itu seperti harimau lapar di padang yang tandus. Dia pasti akan garang sekali dan apa saja akan disantap. Motivasi untuk melampiaskan kerakusan akan sangat besar.

Hal itulah yang sedang terjadi. Krisis tertinggi di dalam kapitalisme itu adalah terjadinya financial crisis. Terjadi krisis dalam sistem keuangannya. Sehingga daya rusaknya besar karena kerakusannya juga besar.

Kita akan sulit sekali membayangkan. China sendiri punya public debt sekitar 31,7 triliun dolar AS pada akhir 2018. Pertumbuhan ekonomi China turun dari dua digit ke satu digit menjadi hanya 6, 5 persen dari 11 persen pada 2010. Itu adalah angka penurunan yang dahsyat sekali. Dengan demikian, China sudah tidak bisa ekspansi di dalam lagi dan dia harus intervensi pasar-pasar di luar China. Dalam rangka ekspansi sektor keuangan ke luar China inilah yang menimbulkan kerusakan di negara-negara yang menjadi sasaran investasi nya, dan pasti akan dikeruk habis. Bukan karena maunya China, tapi karena tekanan ekonomi yang mereka hadapi. Jadi China menghadapi pertumbuhan ekonomi yang rendah, sementara ada risiko menghadapi dana-dana yang mereka pegang yang sebetulnya juga bukan uang China, tapi dana dari pinjaman. China harus menghutangkan juga kepada pihak lain yang tentunya akan berkali lipat imbal hasilnya.

China menghutangkan ke luar China dalam bentuk proyek-proyek yang seluruh kebutuhan proyeknya akan diekspor dari China. Hal itulah yang seringkali menyebabkan proyek-proyek tersebut tidak berpengaruh kepada perekonomian lokal. Tetapi justru hanya menambah kewajiban saja. Itu hanya akan menyebabkan dampak bagi ekonomi China seperti penciptaan lapangan kerja dan lain-lain. Tetapi sekeras apapun China akan ekspansi keuangan dalam bentuk mega proyek, tetap saja ekonomi China akan jatuh, dan itu harus kita waspadai.

Harus diwaspadai karena penduduk China yang besar akan menyebabkan warga China berlarian ke sana kemari, dan seluruh Asia akan menghadapi dampaknya.

Jadi memang masalah ini harus menjadi masalah yang sangat serius yang harus dipikirkan oleh pemerintah China dan para pemberi utang kepada negara China.

Sekarang, urgent harus mengevaluasi sistem perekonomian dan sistem keuangan global. Jika hendak dilanjutkan proses ini, maka siap-siap saja kita akan runtuh bersama-sama. Ekonomi Amerika dan China akan runtuh, lalu Jepang Korea juga runtuh, dan kemudian menyebar ke seluruh dunia.

Bagi Indonesia, sepanjang jalan yang digunakan oleh dunia internasional adalah jalan persaingan, kompetisi lalu saling mengunci dan saling memproteksi maka masalah global tidak akan bisa diselesaikan. Tetapi kalau kembali kepada komitmen Soekarno maka akan kembali ke model yang lain seperti kerjasama, cooperation.

Rujukannya sudah jelas dan hanya satu, yakni setelah Komunisme dan Kapitalisme hancur dan sekarang kapitalisme sudah menciptakan kerusakan parah di sektor keuangan, maka jalan keluarnya adalah kembali kepada “Bandung Sprit”.

Kembali kepada komitmen “Dasa Sila Bandung”. Karena justru di sana lah ajaran untuk menentang segala bentuk persaingan, dominasi, eksploitasi dan saling memangsa. Dunia hanya bisa menyelesaikan masalah ini melalui kerjasama atau cooperation dalam pengertian yang genuine, yang original.

Sebuah kerjasama yang dibangun atas dasar prinsip-psinsip saling tolong menolong. Bukan dalam bentuk menumpuk keuntungan. (pso)

SHARE ON
close

PENALAR

PILIHAN REDAKSI

PENALAR TERPRODUKTIF

Abdillah Ahsan, Dr., S.E, M.S.E.

Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas indonesia, Peneliti Lembaga Demografi FEB UI