BACK TO TOPIC
OPINI PENALAR
Peneliti Institute for Development of Economics and Finance (INDEF)
Kemampuan Investasi dalam Menyerap Tenaga Kerja Semakin Rendah

Dalam kesempatan ini saya ingin sedikiti saja membahas hal-hal yang terkait dengan:

1. Permasalahan struktural tenaga kerja, dapatkah terjawab dalam 5 tahun ke depan?;

2. Isu dan tantangan strategis ketenagakerjaan Indonesia;

3. Strategi Akselerasi Pembangunan ketenagakerjaan.

Tabel 1: Capaian Ketenagakerjaan 2019

 

Jika dilihat secara makro, capaian ketenagakerjaan Indonesia pada 2019 memang terlihat mengesankan, salah satunya terlihat dari Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) yang semakin menurun. Namun sebenarnya masih banyak residu yang dapat mengancam keberlanjutan pembangunan.

Pertama, adalah terkait struktur tenaga kerja kita berdasarkan tingkat pendidikan yang masih didominasi oleh tamatan pendidikan rendah (SMP ke bawah).

Table 2 : Presentasi Pekerja Menurut Pendidikan Tertinggi yang ditamatkan

masih sekitar 58,7 persen dari total tenaga kerja Indonesia masih lulusan SMP ke bawah. Angka ini terlihat cukup sulit diturunkan selama 10 tahun terakhir.

Merubah porsi ini yang terlihat belum mampu dijawab oleh pemerintah sebelumnya, padahal anggaran pendidikan sudah 20 persen terhadap APBN.

Inilah yang menyebabkan hampir 30 persen tenaga kerja sulit beranjak dari sektor pertanian ke manufaktur. Kontribusi pertanian terhadap PDB 13,45 persen, namun tenaga kerja yang terserap mencapai 29,5 persen.

Artinya kue ekonomi yang relatif kecil, diperebutkan banyak tenaga kerja, oleh sebab itu, income per kapita di sektor ini relatif kecil. Sementara Manufaktur yang sudah menjadi leading sector (19,6 persen), hanya menyerap Tenaga kerja 14,1 persen

Tabel 3 : Industri Penopang Utama Ekonomi

 

Masalah struktur ketenagakerjaan inilah yang menjadi salah satu sumber ketimpangan sektoral dan pendapatan.

Kedua, memasuki era digital tentu akan banyak berhadapan faktor disrupsi teknologi. Bagaimana nanti tenaga kerja Indonesia yang masih > 58 persen berskill rendah (karena masih lulusan SMP ke bawah) menyikapi era digital dan automasi?

Tabel 4 : tantangan Disrupsi Teknologi 4.0

Tabel 5 : Daftar Pekerjaan yang Hilang di Era Automasi

Dari banyak survei kita sudah mengetahui bahwa automasi di satu sisi memberikan peluang namun juga memberikan ancaman terhadap tenaga kerja.

Apakah program kartu pra kerja dan program-program ketenagakerjaan dalam 5 tahun ke depan dapat membantu menjawab permasalahan struktural dan tantangan ini?

Terkait dengan kartu pra kerja, sekiranya pemerintah masih butuh waktu untuk menyiapkan dengan matang program  ini, khususnya penguatan basis data untuk penetapan calon penerima kartu pra kerja. Perlu verifikasi, uji coba, konfirmasi data, baru bisa meluas. Karena kalau tidak maka akan menimbulkan kerugian kepada pemakainya.

Kartu Pra Kerja juga berpotensi kehilangan manfaat jika dilakukan tanpa basis data yang terverifikasi. Untuk lebih mematangkannya, pemerintah dapat bekerja sama dengan dunia usaha agar calon tenaga kerja yang menerima pelatihan vokasi pada akhrnya dapat terserap di perusahaan. Durasi pelatihan juga perlu lebih lama, tidak bisa hanya 1-2 bulan dengan infrastruktur seadanya.

Tabel 6 : Automasi

 

Jadi untuk menghadapi automasi yang kian cepat, maka diperlukan upaya kolaboratif. Automasi merupakan keniscayaan, diberbagai negara telah terbuktu dampaknya dapat berpengaruh terhadap tingkat pendapatan, demografi dan lain-lain.

Tabel 7 :

Sebagian besar anak yang memasuki sekolah dasar pada tahun 2018 diprediksi akan bekerja dalam pekerjaan yang belum ada saat ini.

Ketiga, perlu adanya upaya mempercepat perbaikan kualitas ketenagakerjaan dengan melihat keterbatasan di sisi Pemerintah, maka perlu kolaborasi dengan lembaga-lembaga pendidikan swasta (formal/informal) dan dunia usaha.

1. Membangun Teaching Factory / Production Based (Pembelajaran Berbasis Kegiatan Produksi).

2. Pelatihan yang diberikan dalam berbagai sarana, belum cukup. Perlu diseleraskan dengan kebutuhan tenaga kerja. Revitalisasi BLK agar sesuai dengan kebutuhan pasar.

3. Memberdayakan lembaga kursus agar bermitra dengan Balai Latihan Kerja (BLK) di seluruh daerah. Ini dilakukan untuk meningkatkan kualitas tenaga kerja pendidikan rendah.

4. Membuka praktek kuliah kerja praktek/magang.

Keuntungan :

  1. Relevansi pendidikan bisa tercapai pada tingkat tertentu
  2. Lulusan mengenal langsung etos dan suasana industri
  3. Melalui kegiatan supervisi, dosen/instruktur terkinikan pengetahuannya
  4. Industri dapat pra-rekrut lulusan

Keperluan :

  1. Institusi pendidikan memberikan pendidikan dasar yang kuat
  2. Dukungan kebijakan kewajiban kerjasama pendidikan dan industri, BUMN bisa menjadi “pioneer”
  3. Dukungan peraturan yang memungkinkan sabbatical leave bagi dosen/instruktur.

Jadi memang betul saat ini kemampuan investasi dalam menyerap tenaga kerja semakin rendah. Berikit datanya:

Table 8 : Kemampuan Investasi dalam Menciptakan Lapangan Kerja Semakin Pudar

 

Dan telah terjadi pergeseran juga, pada 2013 direct investement msh dominan ke sektor sektor sekunder/manufaktur, tapi lima tahun berselang (2018) banyak masuk ke tersier (jasa).

Tabel 9 : Sektor Tradable Semakin Ditinggalkan Investor

 

Investasi banyak masuk, tapi dari investasi yang masuk itu belum berdampak besar terhadap pertumbuhan ekonomi. Hal ini karena Indonesia tergolong negara yang masih boros modal. Untuk memproduksi 1 unit barang di Indonesia diperlukan lebih banyak modal, dibanding barang yang sama diproduksi di negara lain. Terlihat juga dari ICOR kita yang masih tinggi.

Investasi di sektor sekunder semakin ditinggalkan, karena sektor ini semakin tidak memberikan insentif bagi investor, justru sektor ini menyuguhkan banyak masalah:

Sulitnya akses lahan untuk investor (bandingkan dengan vietnam), masalah ketenagakerjaan, biaya logistik, fiskal, regulasi daerah, dan lain-lain.

Di sisi lain, sektor perdagagan digital, fintech, transportasi online, dan platform digital lainnya semakin diserbu konsumen dan pertumbuhannya lebih 2 kali pertumbuhan ekonomi nasional. Jelas investor tergiur investasi ke sektor-sektor ini (tersier).

Namun sayangnya sektor ini lebih kedap terhadap penyerapan Tenaga Kerja. Terutama yang tercatat sebagai formal worker (krn ojol blm tergolong dalam formal worker, tapi jumlahnya kian banyak).

Jadi tumbuhnya sektor jasa di Indonesia bukan ditopang oleh industri yang kuat. Seharusnya kemajuan sektor jasa ditopang oleh industri yang kuat. Industri yang kuat disokong oleh SDM berkualitas. (pso)

SHARE ON
close

TOPIK TERPOPULER

PENALAR

PILIHAN REDAKSI

PENALAR TERPRODUKTIF

Fithra Faisal Hastiadi, Dr., S.E., MSE., M.A

Direktur Eksekutif Next Policy, Dosen FEB UI

Andry Satrio Nugroho

Peneliti Institute for Development of Economics and Finance (INDEF)

Teguh Santoso, S.E., M.Sc.

Dosen Departemen Ilmu Ekonomi FEB Unpad, Peneliti Center for Economics and Development Studies

FOLLOW US

Aturan Timbulkan Administration Cost, Beban Bagi UMKM                Pelaku Bisnis E-commerce Tak Perlu Berbadan Hukum             Hambat Usaha Kecil Naik Kelas             Investor Tak Terpengaruh Prediksi Ekonomi RI             Moody’s Tak Tahu Jeroan Indonesia             Ada  Gap, Ada Ketimpangan             Prioritas Utama Tingkatkan Pertumbuhan             Dana Desa Berhadapan dengan Kejahatan Sistemik             Pembangunan Desa Tidak Bisa Berdiri Sendiri             Harus Disadari, Korupsi akan Mengikuti Kemana Uang Mengalir