BACK TO TOPIC
OPINI PENALAR
Psikolog Klinis Forensik/Humas Asosiasi Psikologi Forensik/Humas Ikatan Psikologi Klinis
Kelompok Radikal Di Indonesia Telah Bertransformasi

Perjuangan kelompok radikal telah mengalami beberapa kali proses transformasi dibandingkan gerakan yang berawal sejak puluhan tahun lalu. Pergerakan kelompok radikal tidak bisa dilepaskan dari pergerakan kekuatan geopolitik dunia. Banyak tokoh-tokoh radikal dunia dan nasional telah ikut berperan dalam proses transformasi tersebut, hingga mencapai kondisi masa kini, yang melibatkan perempuan dalam jihad.

Umumnya para pelaku terorisme memiliki pemahaman dan sikap ekstrim terhadap nilai tertentu. Kita mengenal ada yang sayap kanan seperti pelaku teror New Zealand, atau sayap kiri oleh kelompok sosialis, atau yang didasari oleh pemahaman agama tertentu.

Di Indonesia, pergerakan kelompok radikal diawali oleh gerakan DI/TII yang pada masa itu memperjuangkan penegakan syariat Islam secara penuh. Namun sejak tahun 1962, sebagian besar tokoh DI/TII sudah menyatakan kesediaan untuk mendukung negara Kesatuan Republik Indonesia, walaupun sebagian tokoh lainnya belum sepakat.

Di bawah rezim Orde Baru, pergerakan menjadi sangat ditekan, sehingga banyak tokoh harus mengamankan diri ke luar negeri, antara lain ke Malaysia. Namun pergerakan kelompok yang menginginkan penegakan syariat agama Islam tidak pernah surut. Tampil dalam berbagai jubah nama kelompok dan berafiliasi dengan kelompok internasional yang berbeda, perjuangan terus berkobar. 

Kemudian muncul kelompok-kelompok yang di kenal sebagai Jamaah Islamiyah, Mujahidin Indonesia Barat dan Timur, Jamaah Ansharut Tauhid dan Jamaah Ansharut Daulah. Perbedaan pengaruh dari kelompok Internasional juga turut mewarnai perbedaan perjuangan kelompok radikal di Indonesia. 

Kalau dulu JI dengan struktur yang ketat dipengaruhi oleh Al Qaeda. Kali ini JAD dengan struktur Yang cair dipengaruhi oleh ISIS. Seiring dengan perubahan kelompok dunia yang mulai melibatkan perempuan dan anak, demikian pula dengan Indonesia. Perempuan dilibatkan tidak hanya sebagai tenaga perekrut, tetapi juga sebagai penyedia jasa logistik, pendidik anak, memenuhi kebutuhan apapun, sampai menjadi tentara jihad.

Hal yang berbeda jika dibandingkan dengan kelompok radikal masa sebelumnya. Tak hanya itu, lebih jauh lagi, kelompok-kelompok yang ada pada masa kini juga bertransformasi dan mulai mengenal istilah lone wolf yang artinya bergerak sendiri tanpa koordinasi dengan jaringan kelompoknya. (grh)

SHARE ON
close

PENALAR

PENALAR TERPRODUKTIF

Ujang Komarudin, Dr., M.Si.

Pengamat Politik dan Dosen Universitas Al Azhar Indonesia

Deddy Herlambang

Pengamat Transportasi

Djoko Setijowarno

Pengamat transportasi

FOLLOW US

Karena Tak Melibatkan Ahli Kesehatan             Perlu Rekayasa Kebijakan Naikkan Daya Beli             Civil Society Perlu Awasi Hitung Suara             Holding BUMN Penerbangan             Saatnya Rekonsiliasi             Klaim Prabowo-Sandi Perlu Dibuktikan             Perlu Sikap Kesatria Merespons Kekalahan Pilpres             KPU Jangan Perkeruh Suasana             Gunakan Mekanisme Demokratik             Pemerintah Harus Bebas dari Intervensi Pengusaha