BACK TO TOPIC
OPINI PENALAR
Pengamat Kebijakan Publik, Wartawan Senior
Kelangkaan Tanggung Jawab

Bila terjadi di Jepang, tragedi Kosambi sudah memicu gelombang pengunduran diri di kalangan pejabat pemerintah. Menteri tenaga kerja negeri sakura ini bahkan mungkin sudah bunuh diri. Namun karena terjadi di Indonesia, pernyataan maaf pun tidak terdengar. Bahkan ada kesan semua pihak terkait dengan tragedi tersebut berusaha cuci tangan.

Ini tentu saja menunjukkan bahwa tanggung jawab masih menjadi barang langka di Indonesia. Sebuah kenyataan yg membuat Indonesia lebih sering dilanda kegaduhan ketimbang kemajuan.

Berharap keadaan semacam ini akan segera usai jelas bagaikan mimpi di siang bolong karena inflasi nasehat masih sangat tinggi, sementara ketauladanan mengalami defisit yang kian mengenaskan.

Lihat saja dahsyatnya kasus korupsi yang tak kunjung reda. Hampir semua melibatkan orang orang besar yang seharusnya menjadi tauladan masyarakat. Para pencoleng uang rakyat bahkan suka tersenyum lebar di depan kamera milik awak media.

Badingkan dengan yang menimpa Menteri Pertanian Jepang Toshikatsu Matsuoka. Pada 2007, Matsuoka bunuh diri setelah dituduh korupsi sekitar 250 ribu dolar AS.

Pada April lalu, menteri rekonstruksi pasca bencana Imamura Masahiro mengundurkan diri setelah membuat pernyataan yang dianggap merendahkan para korban bencana tsunami dan nuklir Fukushima. "Syukurlah yang terkena bencana adalah wilayah Tohoku. Kalau yg kena metropolitan Tokyo, kerugian akan jauh lebih besar," tutur Masahiro, yang menuai kecaman dari berbagai penjuru Jepang.

Kini pemerintah menghadapi berbagai kecaman dari berbagai penjuru Indonesia karena terbukti bahwa pabrik petasan di Kosambi yang telah menewaskan puluhan orang ternyata juga telah melakukan pelanggaran hukum selama bertahun-tahun. Dari perizinan yang tak beres, pembayaran upah dibawah UMR, sampai eksploitasi tenaga kerja di bawah umur.

Tapi seperti biasanya, ketika terjadi bencana, tak ada pejabat pemerintah yang mau mengaku bersalah, apalagi bertanggungjawab. Indonesia banget! (pso)

SHARE ON
close

PENALAR

PILIHAN REDAKSI

PENALAR TERPRODUKTIF

Ujang Komarudin, Dr., M.Si.

Pengamat Politik dan Dosen Universitas Al Azhar Indonesia

Christianto Wibisono

Analis Bisnis/ Pendiri Pusat Data Bisnis Indonesia (PDBI)

Dadang Trisasongko

Direktur Eksekutif Tranparency Internasional (TI) Indonesia

FOLLOW US

Temuan TPF Novel Tidak Fokus             Bentuk TGPF Independen untuk Kasus Novel Baswedan             Pilah Skema Untuk Proyek Strategis             Risiko Penyertaan Equity Proyek Macet             Diskresi Kepolisian Bermasalah?             Penanganan Tak Sesuai Perkap             Polisi Tidak Dikondisikan Menjadi Arogan             Kita Tidak Dapat Menduga Kondisi Mental Polisi saat Menembak             MPLS Harus Diselenggarakan Sesuai Pedoman             Pendidikan Swasta Semi Militer Harus Ditertibkan