BACK TO TOPIC
OPINI PENALAR
Pengamat Politik dan Dosen Universitas Al Azhar Indonesia
Kedaulatan Rakyat Dibayang-bayangi Money Politics

Secara teori rakyat berdaulat. Dan memang harus berdaulat. Termasuk berdaulat di bilik suara. Rakyat bebas menentukan siapapun capres dan cawapres, partai dan calegnya. Namun kedaulatan rakyat dibayang-bayangi oleh money politics. Saat ini sudah banyak caleg di daerah-daerah yang terkena OTT melakukan money politics.

Jadi jangan sampai kedaulatan rakyat rusak, karena suara pemilih dapat dibeli. Namun saya yakin, masyarakat independent dalam memilih. Mereka bebas memilih siapapun. Seaindanya ada yang membagi-bagikan amplop. Namun bisa saja uang diambil. Tapi suara ke yang lain.

Sulit “serangan fajar” dikendalikan. Karena hampir semua caleg yang kuat secara finansial akan melakukan pembagian amplop untuk masyarakat. Walaupun Bawaslu berpatroli. Caleg-caleg permainannya lebih canggih. Bisa menyiasati apa yang dilakukan Bawaslu. Bawaslu juga tidak memiliki instrumen untuk menyadap. Karena perintah money politics kepada tim biasa dilakukan melalu percakapan melalui handphone.

Yang paling penting agar serangan fajar dapat diminimalisir yaitu, menuntut KPK bekerja sama dengan Bawaslu. Agar KPK ikut mengawasi. KPK punya cara dan instrumen untuk mengetauhi percakapan-percakapan kepada caleg-caleg yang diduga akan melakukan money polititics. Kita juga harus membangun kesadaran masyarakat, agar masyarakat menolak amplop-amplop yang dibagikan oleh para caleg.

Kecurangan saat pemungutan dan perhitungan suara bisa dicegah. Jika masing-masing partai menyiapkan saksi-saksi di TPS. Jika ada saksi yang lengkap di TPS dari semua partai. Maka bagi para kontestan sulit untuk berlaku curang. Namun memang biaya saksi itu sangat mahal. Partai politik banyak yang tidak sanggup membayar saksi di seluruh Indonesia. Buka mata dan buka telinga. Mari kita awasi bersama-sama.

Kecurangan pemilu dilakukan karena mental kalah masih belum dimiliki oleh para peserta pemilu. Yang ada masih mengagungkan mentalitas menang. Jika tidak siap kalah. Maka nanti banyak caleg-caleg yang stres. Mentalitas siap menang dan siap kalah harus dimiliki oleh para kontestan. Apapun yang terjadi harus siap. Kalah menang dalam kontestasi politik itu hal biasa. (mry)

SHARE ON
close

PENALAR

PENALAR TERPRODUKTIF

Yahya Agung Kuntadi, Ir., M.M.

Kepala Kantor UGM Kampus Jakarta, Institute of Research and Community LPPM UGM

Ujang Komarudin, Dr., M.Si.

Pengamat Politik dan Dosen Universitas Al Azhar Indonesia

Karyono Wibowo

Pengamat Politik. Peneliti di Indo Survey & Strategy. Peneliti Senior Indonesian Public Institute (IPI)

FOLLOW US

Kapan Merdeka dari KUHP Peninggalan Belanda?             Bangsa Parasit             Tinjau Kembali Politik Pangan             Semantik Munafik Lunatik Kembali Otentik              Indonesia Kehilangan Arah dan Tujuan             74 Tahun RI: Kedaulatan Sebagai Slogan Politik              Perlu Mekanisme Seleksi Khusus             Ketahanan Pangan Indonesia Masih Rapuh             Persoalan Ada Pada Tingkat Konsumsi             Kedaulatan Pangan Didukung Pola Makan dan Perilaku Konsumsi Pangan