BACK TO TOPIC
OPINI PENALAR
Sarjana Filsafat UI & Keguruan IKIP Jakarta, Pendiri Pusat Kajian Ideologi Pancasila Jakarta - Pendiri Padepokan Filosofi dan Pondok Tani Organik Yasnaya Polyana Purwokerto
Kebodohan Sumber Kegaduhan

Bung Karno benar, kita akan menghadapi yang lebih susah lagi ketimbang pada zamannya menghadapi Belanda , karena kita menghadapi bangsa sendiri. Tetapi sekarang yang lebih benar lagi adalah kita menghadapi 'tipu-menipu' sesamanya. Kita tidak lagi menghadapi wujud konkret melainkan a-rupa tanpa bentuk yang lebih mengerikan dampak nya. Salah satu dampak yang mengerikan itu adalah konflik, hoax, dan anomie.

Banyak yang harus dilakukan dalam kerumitan masalah bangsa ini yang sedemikian kalut karena kebodohannya. Sering orang tidak mau repot-repot dan mencari jalan pintas dengan mengatakan lebih enak kita tidak tahu atau masa bodoh saja dari pada ini dan itu, dan inilah yang menjadikan kebiasaan pada bangsa ini menikmati kebodohan nya.

Socrates pernah menyatakan dirinya bahwa yang" Ia tahu bahwa Ia tidak tahu". Ungkapan nya itu bukan berarti menjadikan ia  tidak mau tahu, tapi mulai dari standpoint itu dia mengadakan investigasi kebenaran. Tidak berhenti pada kebodohan, istilah dalam bahasa sansekerta nya Avidya, ketidaktahuan menjadi kebodohan.

Rasa ingin tahu dan pengetahuan harus dibangun, eager to know sebutan Aristoteles sebagai martabat mulia manusia. BK pernah melontarkan bahwa Rakyat itu bukan bodoh. Mereka dapat mengetahui dengan caranya sendiri. Kita tahu dulu ada kearifan lokal yang mendidik rakyat juga cerdas dalam artian bukan IQ tapi intuisi. Hanya saja dalam proses perpolitikan kan kita seperti dalam pidato doktor Hc Mbak Mega di Padang bahwa politik bukan  mencari kekuasaan tapi pengabdian kepada rakyat. Lebih pasnya lagi menurut saya, pencerahan rakyat bukan pembodohan rakyat. Sesuai dengan apa yang kita ikrar kan pada Preambule UUD45 bahwa tugas dan tujuan bangsa adalah mencerdaskan kehidupan bangsa, bukan pembodohan rakyat. Konflik-konflik timbul karena proses ini.

Mencerdaskan ditafsirkan mencetak doktor sebanyak mungkin di kampus dengan konsep pasar intelektual. Semakin panjang gelarnya seolah-olah bisa menyelesaikan konflik. Tugas universitas dilupakan yaitu membangun ketulusan moralitas intelektual. Derek Bok, rektor universitas Harvard periode 80an dalam bukunya University and the future of America menyatakan bahwa tetap soal integritas moralitas intelektual di universitas diperlukan sebagai syarat kualitas manusia yang namanya universitas. Jadi bukan bursa kuliah kampus tapi bursa Pemikiran untuk mencegah pembodohan bangsa. Tugas inilah yang harus diemban para manusia bertitel agar jujur pada dirinya tidak menjadi aktor penguasa intelektual konflik. Bila ini terjadi kita akan menikmati kebodohan dan kebebalan yang memelihara konflik itu sendiri. Ini akan termanifestasi dan dampak dalam berbagai bentuk di kehidupan sosial politik budaya bangsa yang suka konflik sebagai tujuan dan alat.

Gejala universal manusia, bukan karena hanya dampak penjajahan yang selalu kita jadikan kambing hitam, tetapi gejala yang kuat memakan yang lemah, yang pintar dan berkuasa membodohi yang tidak berkuasa dengan segala cara. Apakah itu lewat kampus maupun alat komunikasi sosial dan pers. Tujuan mereka mencapai suatu bentuk coûte que coûte antara penguasa dan rakyat. Dan kita sudah hampir.mencapai titik kesempurnaan dimana politisi mengajari money politics, sehingga akan mencapai sebuah tatanan hukum Vox Populi Vox Duit, bukan Vox Dei. Rakyat akan diajarkan dan dijejalkan kebohongan yang diulang-ulang menjadi kebenaran jauh dari sikap kritis, sehingga menanggapi hollocoust peristiwa 65 setiap tahun menjadi geger politik nasional dengan agenda konflik yang baru dan segar untuk menghadapi musuh yang tidak jelas tadi yang diuraikan pada tulisan awal ini.

Semua ditempatkan pada posisi kebingungan dan ketakutan, inipun sudah bisa memulai bibit konflik yaitu konflik batin menjadi konflik terbuka dengan dendam tanpa akhir dan dipelihara tanpa kecerdasan solusi. Revolusi sosial yang sering dikumandangkan almarhum Gus Dur bisa saja tapi itu yang harus dicegah karena dalam kondisi kebodohan dan pembodohan massal seperti ini yang timbul adalah para profiteur dan avonturir politikus. Keberanian mereka harus keberanian Berpikir, meminjam istilah Immanuel Kant, Sepere Aude...!

(cmk)

SHARE ON
close

PENALAR

PILIHAN REDAKSI

PENALAR TERPRODUKTIF

Abdillah Ahsan, Dr., S.E, M.S.E.

Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas indonesia, Peneliti Lembaga Demografi FEB UI