BACK TO TOPIC
OPINI PENALAR
Dewan Pakar PA GMNI
Kebijakan Persampahan Berbasis Lingkungan

Untuk mencapai kemajuan, setiap bangsa tentu melakukan modernisasi. Dalam modernisasi terjadi bermacam perubahan dalam masyarakat dan peradabannya. Modernisasi dan proses pembangunan kemudian menghasilkan sampah dan limbah sebagai ekses.

Bila sampah dan limbah tak dapat dikelola dan diatasi oleh pemerintah maka hal itu akan menjadi beban pembangunan, beban negara, dan beban lingkungan. Karenanya, mau tidak mau, sampah dan limbah wajib dikelola: dari beban menjadi benefit.

Dari ekses negatif menjadi nilai positif. Dari barang tak berguna menjadi "cadangan energi" masa depan (waste to energy). Dalam mengelola sampah dan limbah diperlukan keahlian dan teknologi serta sistem pengelolaan yang disebut Waste Management System. Selain itu, tak kalah pentingnya adalah "tipping fee", yaitu alokasi anggaran pembiayaan untuk pengelolaan sampah dan limbah.

Dalam me-manage pengelolaan lingkungan perlu memperhatikan 4 hal, yakni: pertama, Pengelolaan lingkungan tersebut dalam hal ini sampah dan limbah seharusnya secara ekonomi menguntungkan (economically profitable); kedua, Pengelolaan sampah dan limbah juga secara sosial dapat diterima oleh masyarakat sekitar kawasan terkelola (socially acceptable); ketiga, pengelolaan sampah dan limbah tersebut dapat berkelanjutan (sustainable); dan keempat, serta yang sangat perlu diperhatikan bahwa pengelolaan sampah dan limbah tersebut secara teknologi dapat dikelola oleh masyarakat dalam hal ini para ahli terampil yang bermukim disekitar kawasan atau area terbangun.

Untuk sampah plastik pemerintah harus segera membuat regulasi tentang "auto and very fast degradable" yaitu kewajiban semua produsen plastik agar memproduksi plastik kemasan ramah lingkungan dengan masa tenggang sebagai pencemar (misalnya) maksimal 2-3 tahun, dimana dalam rentang waktu tersebut (2-3 tahun) kemasan plastik jenis apapun itu akan hancur atau mengalami "self-destruction" dengan kembali menjadi humus, baik dalam posisi di permukaan tanah, tertimbun di tanah maupun diatas permukaan yang tinggi.

Produk kemasan ramah lingkungan berteknologi tinggi ini jika bisa disandingkan atau dikerjasamakan dengan gerakan "Zero plast" atau "say no to plast" tentu akan sangat menyehatkan bagi upaya jangka pendek dan panjang (sustainable development) untuk memperbaiki kualitas lingkungan hidup alam, lingkungan hidup buatan (man made enviromental), dan lingkungan hidup sosial. (yed)

SHARE ON
close

PENALAR

PILIHAN REDAKSI

PENALAR TERPRODUKTIF

Ujang Komarudin, Dr., M.Si.

Pengamat Politik dan Dosen Universitas Al Azhar Indonesia

Christianto Wibisono

Analis Bisnis/ Pendiri Pusat Data Bisnis Indonesia (PDBI)

Dadang Trisasongko

Direktur Eksekutif Tranparency Internasional (TI) Indonesia

FOLLOW US

Rekonsiliasi Politik di Level Elit Diharapkan Terjadi di Level Sosial.              Tak Ada yang Salah dengan Pertemuan Jokowi Prabowo             Perhatikan Lag antara Demand Side dan Regulasi dari Sisi Supply Side             Tantangan yang Harus Dihadapi Masih Besar             Kemiskinan Makin Sedikit, Sulit Dikurangi             Bansos Tak Efektif Kurangi Kemiskinan             UNHCR Harus Keluar             Pembangunan Negara Hukum Harus Jadi Agenda Prioritas             ‘Visi Indonesia’ Tidak Prioritaskan Pembangunan Hukum dan HAM             Perlu Pertimbangan Agar yang Dikurung Memang Pantas Dikurung