BACK TO TOPIC
OPINI PENALAR
Pembelajar Kebudayaan dan Peradaban Umat Manusia
Kebaya Tak Perlu Dipertanyakan

Demokrasi menghadirkan kebebasan termasuk kebebasan di bidang kebudayaan seperti misalnya menggemari busana tradisional. Tidak bisa dipungkiri bahwa kebaya adalah busana tradisional Nusantara yang berasal dari masyarakat aristokrat kemudian dikembangkan oleh masyarakat keturunan Belanda dengan ornamen renda dan masyarakat keturunan China dengan ornamen bordir.

Setelah batik diakui sebagai warisan kebudayaan dunia mahakarya Indonesia oleh UNESCO, maka bangkitlah semangat kebanggaan nasional bangsa Indonesia untuk mengenakan busana tradisional bangsa Indonesia sendiri.

Di masa kini, kaum perempuan Indonesia terlepas dari daerah mana bangga mengenakan kebaya. Para desainer kreatif mencipta kebaya gaya baru. Suatu fenomena pengembangan kebudayaan yang sebenarnya tidak perlu dipertanyakan maknanya selama bukan bersifat memaksa atau dipaksa atau demi kepentingan politik kekuasaan tertentu di masyarakat demokratis yang pluralis seperti masyarakat Indonesia.

Sayang belum ada kebaya untuk kaum lelaki maka sementara saya “hanya” mengenakan selendang dan sarung batik saja. Hidup Kebaya! (yed)

SHARE ON
close

PENALAR

PENALAR TERPRODUKTIF

Budi Arie Setiadi

Wakil Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi Indonesia

Edgar Ekaputra

Pakar Industri Keuangan dan Ekonomi, Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis UI

Lia KIan, Dr.

Staf Khusus Dewan Pengarah Badan Pembinaan Ideologi Pancasila