BACK TO TOPIC
OPINI PENALAR
Executive Director Para Syndicate
Kaum Nahdliyin dan Kaum Nasionalis Sebagai Faktor Kunci

Fenomena politik di Jawa Timur memang menarik. Dari pasangan calon (paslon) yang bertarung memang sama, dilihat sebagai sama-sama 'orang'-nya Pak Jokowi. Tapi, apa yang terjadi di Jawa Timur tersebut, antara paslon (figurnya) tidak linier dengan kekuatan politik yang bekerja sebagai mesin politik yang berada di belakang para paslon tersebut. Dari segmentasi kekuatan politik yang bertarung di belakangnya, kelihatan ada dua kelompok kepentingan yang sedang bermain: loyalis "pendukung Jokowi" vs loyalis "asal bukan Jokowi".

Dalam peta kontestasi ini, konsolidasi kekuatan politik kaum Nahdliyin dan kelompok Nasionalis menjadi kunci. Karena siapapun yang bisa dan berhasil mengkonsolidasikan kedua kekuatan tersebut dengan baik, maka dia akan berpotensi untuk menang dalam kontestasi Pilkada di Jawa Timur ini.

Kalau dilihat, siapa yang bisa mengkonsolidasikan kedua kekuatan besar tersebut, maka paslon nomor urut 2, yakni Syaifullah Yusuf (Gus Ipul) dan Puti Guntur Sukarno Putri yang berpotensi untuk menang. Meski begitu, kontestasi di Jawa Timur ini boleh dibilang kedua paslon memiliki kans yang sama dan seimbang, fifty-fifty.

Nah, potensi ‘keunggulan’ paslon Gus Ipul atas Khofifah yakni, sebagai petahana, Gus Ipul punya rekam jejak bagus dengan prestasi dia selama ini sebagai wakil gubernur Jawa Timur. Jika dilihat dukungan dari dua kekuatan besar yang menjadi latar belakang pemilih yang paling dominan di Jawa Timur, yakni: kaum Nahdliyin dan kaum Nasionalis, maka paslon nomor urut 2, Gus Ipul – Puti Guntur lebih diuntungkan. Meski antara Gus Ipul dan Khofifah sama-sama berlatar belakang NU (Nahdliyin), namun kehadiran Puti Guntur yang merupakan representasi dari kaum nasionalis menjadi poin penting yang tidak dimiliki oleh paslon nomor urut 1, Khofifah – Emil.

Sementara, untuk Khofifah yang sudah tiga kali maju mencalonkan diri dalam Pilkada di Jawa Timur --kedua kali sebelumnya tidak pernah menang, secara psikologis, tentu hal ini akan menjadi beban politik bagi Khofifah dalam pertarungan Pilkada Jawa Timur kali ini. Yakni, beban politik sebagai ‘the loser preseden’.

Selain itu, ngototnya Khofifah untuk maju kembali dalam Pilkada Jawa Timur dengan melepaskan jabatan Menteri Sosial yang sebelumnya ia pegang, tentu menjadi pertanyaan publik, ada apa kok Khofifah rela bela-belain melepas jabatan menteri yang sudah ia pegang demi jabatan gubernur (dengan ikut mencalonkan diri sebagai calon gubernur dalam Pilkada) yang belum tentu dapat ia raih?

Kedua hal ini tentu menjadi faktor pemberat bagi Khofifah dalam kontestasi Pilkada Jawa Timur kali ini.

Hal ini pula lah yang menjadi alasan kenapa paslon nomor urut 2 lebih punya peluang untuk menang dibandingkan dengan paslon nomor urut 1. Karena, dalam Pilkada Jawa Timur kali ini Khofifah hadir dengan faktor pemberat, sementara di sisi lain, Gus Ipul hadir dengan faktor pendorong.

Jadi, faktor calon wakil gubernur yang dibawa oleh masing-masing calon gubernur memang sangat berpengaruh dan menentukan. Karena kultur politik Jawa Timur lebih kepada para pemilih ideologis. Sehingga, sebagai calon wakil gubernur, kehadiran Puti Guntur dan Emil Dardak ikut menjadi bahan perhitungan bagi pemilih di Jawa Timur. Puti sebagai representasi dari kaum Nasionalis dan Sukarnois, mengingat beliau merupakan keturunan (cucu) Bung Karno, sehingga ada sentimen ideologis yang sangat kuat dari kaum Nasionalis dan Sukarnois di sana. Hal inilah yang menjadi faktor pendorong bagi Gus Ipul untuk lebih berpeluang memenangkan kontestasi Pilkada di Jawa Timur kali ini.

Sementara Emil Dardak, meskipun beliau memiliki kemampuan dengan gelar akademis yang mentereng, sebelumnya juga merupakan menjabat Bupati Trenggalek, sehingga dalam sisi birokratis lebih berpengalaman, dan berasal dari partai yang sama dengan Puti Guntur, namun saat mencalonkan diri sebagai calon wakil gubernur, Emil ‘melompat’ pagar dengan berpindah partai. Hal ini pulalah yang menjadi bahan pertimbangan dari para pemilih ideologis di Jawa Timur. (afd)

SHARE ON
close

PENALAR

PENALAR TERPRODUKTIF