BACK TO TOPIC
OPINI PENALAR
Managing Director Political Economy and Policy Studies (PEPS)
Kata Kuncinya adalah Riset yang Kuat

Kalau kita lihat pekembangan teknologi digital ini sebetulnya lebih banyak pemakaiannya di industri manufaktur (secondary). Di negara maju saat ini banyak sekali pemakaian aplikasi-aplikasi teknologi di industri, di mesin-mesin produksi sehingga produktivitas industri meningkat. Bahkan kalau kita lihat di industri otomotif sekarang ada yang berkaitan dengan pemakaian Artificial Inteligents (AI) sehingga muncul produk driverless car (mobil tanpa supir), itu terjadi di industri manufaktur.

Dunia pertanian itu terbagi dua, yang pertama adalah industri primernya sendiri, dan kemudian adalah hasil pengolahannya. Kegiatan agrobisnis, agrokultur, itu sebenarnya adalah bagaimana mengolah menjadi nilai tambah yang kemudian  masuk ke industri manufaktur (secondary). Bagaimana menjadikan hasil produk pertaniannya lebih bagus. Ada mesin sortir, menjadikan diameter produk menjadi lebih besar misalnya, ada urut-urutan proses nya, dan itupun sebetulnya hanya menggunakan teknologi rendahan.

Sekarang pertanyaannya adalah, selama produktivitas primernya tidak naik, maka secondary nya juga tidak akan naik. Memang bisa dipercepat, tetapi secara total tidak naik.  Yang saya maksudkan adalah, misalnya ada produksi beras 5-6 ton per hektar, dengan penggunaan mesin-mesin produksi maka bisa lebih dipercepat, tetapi hasilnya sama 5-6 ton per hektar. Nah, sekarang bagaimana teknologi digital ini bisa mengembangkan atau meningkatkan hasil produksi beras, itu yang menjadi satu tantangan tersendiri.

Kalau kita lihat di Belanda misalnya. Negara yang besarnya kurang dari luas wilayah Jawa Barat, tapi dia salah satu negara eksportir terbesar di dunia untuk agrikultur/holtikultura. Untuk produk kentang, Belanda merupakan produsen nomor 2 dunia setelah Amerika Serikat. Mengapa bisa? Karena produknya lebih bagus. Tentu saja di sana ada penelitian-penelitian bagaimana menghasilkan bibit unggul, dan saya rasa itu dengan teknik-teknik rekayasa hasil pertanian yang mereka temukan sehingga bisa menemukan bibit unggul dan produtivitasnya sedemikian rupa.

Belanda membuat buah-buahan tropis yang dulu hanya bisa ditanam di negara tropis seperti Indonesia, jadi bisa tumbuh di negara Belanda. Uniknya bisa produktif sepanjang tahun. Itu bisa terjadi karena ada penggunaan rumah kaca. Jadi di dalam rumah kaca itu dibuat sedemikian rupa ada matahari buatan sehingga panas terus, dan temperaturnya bisa diatur.

Hal itu kan tidak benar-benar terkait dengan teknologi digital. Teknologi (rumah kaca) itu sebetulnya sudah bisa dikerjakan beberapa puluh tahun lalu karena cuma manipulasi cuaca saja, plus mekanisme hidroponik dan pengairan yang diciptakan di dalam rumah kaca (green house).

Jadi kata kuncinya adalah riset yang kuat. Riset di Belanda hanya bisa berhasil dengan campur tangan pemerintah yang memberikan subsidi. Tanpa dukungan pemerintahnya tidak mungkin bisa terlaksana. Jadi walaupun swasta tapi peran pemerintah dalam memberikan stimulus amat besar.

Di Indonesia era revolusi hijau sepertinya lebih banyak ada kegiatan riset dan teknologi pertanian, tapi sayang saya belum punya banyak data. Kalau dulu pemerintah sepertinya berperan sekali, tapi sekarang tidak begitu kelihatan. Kalau dulu sampai ada bibit diberikan kepada petani, seperti di China juga begitu. itu subsidi yang tidak kelihatan sebetulnya.

Kalau di Eropa seperti Belanda, subsidi yang diberikan benar-benar subsidi dan angkanya sangat besar sekali. Pemerintah mereka juga amat berperan dalam memberikan teknologi maju. Nah, sekarang apa yang pemerintah lakukan di Indonesia?

Aplikasi-aplikasi start up yang berkembang di Indonesia itu sepertinya basic riset nya lemah. Di Belanda ada Universitas Wageningen, itu khusus untuk agrikultur. Kita punya IPB tapi perannya juga kurang sekali. Ada, tetapi perannya tidak seperti di Belanda dengan rumah kaca yang menurut saya amat fenomenal. Sampai-sampai bisa menjadi eksportir terbesar di dunia. Lain dengan Jepang, mereka lebih fokus ke industri, untuk pertanian mereka hanya mencukupi saja, tidak untuk benar-benar tujuan eksport. Tapi di Thailand, memang eksportir hasil pertanian dan sudah lebih baik dari Indonesia. Bedanya, Thailand sudah bisa menghasilkan buah-buahan tropis sepanjang tahun. Riset di Thailand sudah cukup kuat dibanding Indonesia. (pso)

 

 

SHARE ON
close

PENALAR

PILIHAN REDAKSI

PENALAR TERPRODUKTIF

Ujang Komarudin, Dr., M.Si.

Pengamat Politik dan Dosen Universitas Al Azhar Indonesia

Christianto Wibisono

Analis Bisnis/ Pendiri Pusat Data Bisnis Indonesia (PDBI)

Dadang Trisasongko

Direktur Eksekutif Tranparency Internasional (TI) Indonesia

FOLLOW US

Perlu Pertimbangan Agar yang Dikurung Memang Pantas Dikurung             Idealnya Penjara Tidak Untuk Lansia             Selesaikan PR di Periode Kedua             Jemput Bola Tarik Investasi             Fokus Pada Daya Saing, Reindustrialisasi, Pemerataan             Memperkokoh kemampuan mewujudkan cita-cita Presiden Joko Widodo              Simbol Kemajuan Bangsa dan Rekonsiliasi dalam Pertemuan Jokowi dan Prabowo             Apapun Tafsirnya, Kita Bangga Jokowi - Prabowo Bertemu             Bukan Hidup Abadi Badaniah Semata             Hidup Abadi Masih Spekulatif