BACK TO TOPIC
OPINI PENALAR
Pengelola majalah POTRET dan Majalah Anak Cerdas. Direktur Center for Community Development and Education (CCDE) Banda Aceh
Kasus Kekerasan Terhadap AU, Tidak Cukup Dengan Simpati

Malang nian nasib AU, gadis yang masih berusia 14 tahun dan masih duduk di bangku sekolah SMP di Pontianak, Kalimantan Barat. Ya, ia dianiaya dengan sadis, tragis, brutal dan sangat kejam oleh 12 siswa SMA. Kejadian itu juga membuat gadis belia itu harus dirawat di rumah sakit, karena mengalami luka fisik dan trauma yang yang berat.

Lebih malang lagi, seperti diberitakan oleh banyak media yang membuat kejadian ini menjadi viral di medis sosial, adalah ia yang menjadi korban tindak kekerasan remaja tersebut, tidak mendapatkan keadilan, karena pelaku masih berstatus di bawah umur. Sehingga pelaku bisa dengan lega dan leluasa, tanpa rasa bersalah, apalagi takut kena hukuman berat. Wajar saja, ketika mereka berada di kantor polisi, pelaku masih sempat membuat boomerang dan mengunggahnya ke akun Instagram. Artinya, bagi mereka ini tindakan biasa, walau akibatnya sudah luar biasa.

Sontak saja, banyak orang yang bersimpati kepada AU dan  mengecam tindakan bejat para pelaku lewat berbagai media, terutama di media sosial dengan membuat hastag atau tagar Justice for Audrey (#JusticeforAudrey). Bahkan seperti ditulis Galuh Ratnatika di laman watyutink.com ini, sudah ada warganet yang membuat petisi agar korban mendapatkan bantuan hukum yang tegas dan kini sudah ditandatangani oleh jutaan orang.

Bukan hanya warganet, Gubernur Kalimantan Barat, Sutarmidji, juga meminta agar 12 siswi SMA yang diduga pelaku pengeroyokan terhadap AU tetap ditindak, dan mendapat efek jera. Pokoknya, kita umumnya menuntut agar kasus tersebut diproses hukum, bukan proses damai yang sesungguhnya sangat mengorbankan AU.

Nah, kita semua terheran-heran dan secara serentak mengecam tindakan bejat yang dilakukan 12 siswa SMA tersebut terhadap AU. Bahkan kita meminta para pelaku tetap diganjar dengan hukuman yang setimpal dengan maksud memberikan efek jera. Namun, ketentuan hukum, menempatkan mereka pada posisi lex specialis, karena masih di bawah umur dan seperti ditulis oleh Retno Listyarti, M.Si harus diselesaikan lewat SPPA. Ya, menggunakan ketentuan dalam UU Nomor 11 Tahun 2012 tentang Sistem Peradilan Pidana Anak (SPPA) untuk anak pelaku. 

Sama seperti AU, saat ini kita sedang menunggu proses diberlakukannya hukum terhadap pelaku. Oleh sebab itu, sebagaimana lazimnya, sesungguhnya setiap tragedi atau peristiwa, yang membuat emosi kita terbakar, kita harusnya bisa mengambil pelajaran atau iktibar, agar tindakan-tindakan kekerasan yang menurut kita sangat kejam ini, tidak terjadi lagi terhadap siapa pun, juga tidak dilakukan oleh siapa pun.

Karena tindakan seperti itu adalah tindakan kejahatan yang merugikan pihak korban dan juga merugikan diri kita.  Selayaknya, kita bertindak lebih cerdas dan bijak. Karena, kalaupun kita terus mengecam dan menjatuhkan hukuman berat kepada pelaku pengeroyokan dan penganiayaan ini. Solusi yang didapat adalah menyelesaikan satu kasus.

Bahkan untuk kasus seperti ini, juga seharusnya tidak boleh ditempuh dengan cara damai, karena damai tersebut tidak bisa mengobati luka dan trauma AU. Kalau pun ini dilakukan, maka semakin memperkuat premis kita bahwa dalam banyak kasus tindakan penyelesaian yang kita lakukan adalah hanya menyelesaikan yang ada di puncak gunung es. Sementara akar masalah, penyebab masalah tidak pernah kita sentuh.

Buktinya, kasus-kasus kekerasan seperti ini, akhir-akhir ini semakin sering terjadi di tengah masyarakat kita, tanpa ada batas umur. Bahkan sampai anak-anak yang masih usia SD sudah terjerumus dalam dunia kekerasan, baik sebagai korban, maupun sebagai pelaku. Apalagi kasus kekerasan seksual terhadap anak dan juga oleh anak terhadap anak-anak.

Lalu, ketika setiap kali kasus ini muncul ke permukaan, kita hanya bisa merasa prihatin, merasa sedih, ikut mengecam dan menuntut agar hukum ditegakkan. Inilah sekali lagi yang kita sebut dengan mengatasi fenomena gunung es. Kita baru bertindak setelah ada kejadian, dan menyelesaikan kejadian kasus per kasus, sementara penyebab kejahatan kita cenderung mengabaikannya.

Lalu, apa akar masalahnya? Inilah yang harus kita cari. Mengidentifikasi masalah dan menganalisis masalahnya dengan benar, akan melahirkan solusi yang lebih tepat. Maka, dalam kasus-kasus tindak kekerasan yang saat ini terus terjadi dan berulang, secara kasat mata kita bisa melihat penyebabnya.

Kita sedang mengalami proses demoralisasi yang kaffah. Mungkin ini tidak kita akui. Namun, inilah akar masalahnya. Semua terserah kita, percaya atau tidak, itulah akar masalah yang harus dicari cara memperbaikinya. Mereka melakukan itu semua, karena mereka memiliki akhlak dan karakter yang buruk. Bila ini sudah dilakukan, maka hukum akan bisa tegak, seperti yang kita harapkan. (grh)

SHARE ON
close

PENALAR

PILIHAN REDAKSI

PENALAR TERPRODUKTIF

Ujang Komarudin, Dr., M.Si.

Pengamat Politik dan Dosen Universitas Al Azhar Indonesia

Mohammad Faisal

Direktur Centre of Reform on Economic (CORE) Indonesia

Yahya Agung Kuntadi, Ir., M.M.

Kepala Kantor UGM Kampus Jakarta, Institute of Research and Community LPPM UGM

FOLLOW US

Insentif Pajak, Daya Tarik Sistem Pajak yang Paling Rasional             Menengok dan Menyiapkan SDM di Era Revolusi Industri 4.0             Polri Telah Berupaya Transparan Ungkap Rusuh 21-22 Mei             Possible and Impossible Tetap Ada             Ungkap Rusuh 21-22 Mei Secara Terang dan Adil             Banyak Masalah yang Harus Diselesaikan             Pilihan Cerdas Jadi Oposisi             Tergilas oleh Budaya Global             Penghambaan terhadap Simbol Dunia Barat             Tak Cukup Imbauan