BACK TO TOPIC
OPINI PENALAR
Psikolog Klinis Forensik/Humas Asosiasi Psikologi Forensik/Humas Ikatan Psikologi Klinis
Kasus Kekerasan Seksual Bagaikan Fenomena Gunung Es

Melihat kasus pelecehan seksual yang menimpa salah satu mahasiswi UGM, dapat dikatakan bahwa memang inilah fakta yang terjadi di lapangan, sehingga sering disebutkan bahwa kasus kekerasan seksual bagaikan fenomeno gunung es, karena yang terlihat hanya puncaknya.

Kasus kekerasan seksual menjadi benar-benar sulit diberantas karena terdapat berbagai kelemahan. Seperti lemahnya penagakan hukum terhadap kasus kekerasan seksual di Indonesia.

Penegakan hukum yang lemah ini pada dasarnya dapat ditingkatkan dengan kerjasama yang baik antar instansi, seperti Kementrian Kesehatan, lembaga sosial perlindungan perempuan dan anak bersama ke Polisian, dan sebagainya. Meski demikian, kerjasama itu sudah lebih baik dibandingkan masa lalu.

Kemudian adanya faktor-faktor yang berperan menyebabkan kekerasan seksual, antara lain masalah nutrisi fisik dan stimulasi psikologis yang mengakibatkan seseorang tergerak menjadi pelaku, sementara yang lain berada di posisi menjadi korban.

Peran keluarga dan pola asuh juga menjadi faktor yang penting untuk membentuk kepribadian. Selain itu, pelecehan seksual juga dapat terjadi karena adanya adiksi pornografi. Oleh sebab itu, sistem perlindungan dan keamanan terhadap perempuan dan anak harus lebih ditingkatkan.

Tak hanya itu, sistem sosial budaya yang kurang berpihak kepada perempuan, juga menjadi faktor disalahkannya perempuan jika kasus pelecehan seksual terjadi. Banyak pihak yang kerap menyalahkan perempuan, padahal yang salah adalah otak laki-laki. Ditambah lagi, adanya tekanan dari suatu kelompok.

Jika kebanyakan kampus memilih untuk menyelesaikan masalah secara internal, jelas hal itu bukan merupakan langkah terbaik. Kekerasan terhadap perempuan itu merupakan tindak pidana, dan harus diproses secara hukum.

Namun untuk mengetahui apakah itu menimbulkan efek jera atau tidak, maka relatif harus ada pemeriksaan untuk mengetahuinya. Kurungan dan denda selama ini belum tentu efektif karena masalah utamanya terletak pada kapasitas pengendalian diri yang ditentukan otak. (grh)

SHARE ON
close

PENALAR

PILIHAN REDAKSI

PENALAR TERPRODUKTIF

Gigin Praginanto

Pengamat Kebijakan Publik, Wartawan Senior

Ujang Komarudin, Dr., M.Si.

Pengamat Politik dan Dosen Universitas Al Azhar Indonesia

Bambang Budiono MS

Pengajar Antropologi Politik Fisip Unair

FOLLOW US

Layar Kaca dalam Ruang Demokrasi             Sebaiknya Ahok Cuti Politik Dulu             Ahok Seharunya Memainkan Peran dalam Politik Kebangsaan             Disparitas Kemiskinan Tinggi              Pertumbuhan Naikkan Pendapatan             Daerah Perbatasan Harus Outward Looking             Abu Bakar Ba’asyir Digoreng dalam Bungkus Politik             Pemerintah Belum Bisa Disalahkan             Pemerintah Seharusnya Tidak Perlu Terburu-buru             Kapasitas Sumber Daya Lokal yang Menjadi Hambatan