BACK TO TOPIC
OPINI PENALAR
Direktur Eksekutif Jaringan Anak Nusantara (JARANAN), Konsultan Keayahbundaan dan Perlindungan Anak.
Kasus Audrey dan Ragam Kekerasan Anak terhadap Anak

Kasus penganiayaan brutal terhadap siswi SMP bernama Audrey oleh sekelompok anak usia SMA di Pontianak baru-baru ini, menyedot perhatian luar biasa masyarakat secara nasional. Bahkan menjadi trending topic di media sosial. Kasus ini memunculkan kadar emosi yang tinggi di benak masyarakat luas, yang sebagian besar mungkin baru “ngeh”, kok bisa-bisanya para ABG perempuan SMA, masih usia anak, mampu bertindak brutal mengeroyok anak perempuan lain di bawah usianya.

Perhatian berkadar emosi yang tinggi dari masyarakat luas telah menyertai viralnya kasus itu, yang turut dipicu keberadaan informasi hoax seputar dugaan perusakan organ intim korban oleh pelaku. Serta ditambah tingkah yang dipandang "ngeyel" dari para pelaku generasi Z itu lewat postingan di medsos yang seakan bangga pada perbuatannya, bahkan sama sekali tak menunjukkan rasa bersalah saat pertama dimintai keterangan pihak berwajib. 

Sebagai kasus kekerasan atau perundungan anak perempuan terhadap anak perempuan lain, yang terjadi di Pontianak tersebut, bukanlah kasus pertama. Terlebih ketika masyarakat kita semakin akrab dengan media sosial. Kasus-kasus sejenis ini pun telah muncul sebelumnya di daerah lain, tanpa pemberitaan maupun dengan pemberitaan yang tidak seheboh kasus di Pontianak ini. Namun jejak digital berupa video beberapa kasus itu masih sering berseliweran di medsos. 

Kami, JARANAN, pun beberapa kali menerima pengaduan dan keluhan orangtua yang anak perempuannya jadi korban penganiayaan maupun perundungan teman-teman perempuannya. Saya melihat, setidaknya ada empat ragam tindakan kekerasan ataupun perundungan anak atau sekelompok anak terhadap anak lainnya yang terjadi selama ini lewat berbagai macam masalah. 

Pertama, kekerasan anak laki-laki terhadap anak laki-laki. Kedua, kekerasan anak laki-laki terhadap anak perempuan. Dan ketiga, kekerasan anak perempuan terhadap anak perempuan. Variasi lain berupa kekerasan anak perempuan terhadap anak laki-laki, meski memungkinkan terjadi, sejauh ini masih belum terlihat kasus relevan yang muncul ke permukaan, apalagi yang viral. 

Tentu saja kita semua, para orangtua dan pemangku kepentingan di tingkat lokal dan nasional, wajid terus mewaspadai dan menangkal agar variasi kekerasan anak terhadap anak, apalagi yang sudah masuk kategori tindakan kriminal, tidak menjadi tren yang terus saja menguat di tengah masyarakat. Kewaspadaan dan upaya penangkalan bersama itu bisa dilakukan dengan berbagai cara.

Pertama, pemahaman yang sama atas akar-akar penyebab yang mampu memicu munculnya agresivitas dan brutalitas yang laten dan manifes pada diri seorang anak. Produksi pengetahuan berbasis riset serius atas akar-akar penyebab hal tersebut, yang disosialisasikan ke masyarakat luas dengan bahasa rakyat, seiring penyusunan seperangkat kebijakan dan penerapannya berbasis riset itu, harus segera dilakukan. 

Misalnya dengan melakukan riset-riset berwibawa yang mampu memverifikasi kebenaran maupun kekeliruan dari kesimpulan bahwa game-game kekerasan yang dimainkan anak perlahan tapi pasti mampu membentuk watak agresif dan brutal pada anak.

Kedua, evaluasi menyeluruh terhadap sistim perlindungan anak dan sistim peradilan anak yang berlangsung selama ini, beserta kebijakan-kebijakan yang menopangnya secara langsung maupun tidak. Misalnya, bagaimana dan sejauh mana upaya pemenuhan hak-hak anak yang telah berjalan selama ini di negeri kita, dan bagaimana dampak pemenuhan hak-hak anak yang seperti itu terhadap tujuan pembentukan perilaku positif anak.

Selain itu, misalnya, seperti apa dan bagaimana proses diversi yang diberlakukan selama ini di negeri kita. Apakah proses diversi yang dilangsungkan selama ini benar-benar telah mampu berdampak positif bagi korban dan pelaku.

Ketiga, evaluasi menyeluruh terhadap sistim pendidikan nasional kita. Misalnya bagaimana sistim pendididikan yang berjalan di negeri kita selama ini dan ampaknya bagi tujuan pembentukan pemahaman dan karakter positif peserta didik. (grh)

SHARE ON
close

PENALAR

PILIHAN REDAKSI

PENALAR TERPRODUKTIF

Ujang Komarudin, Dr., M.Si.

Pengamat Politik dan Dosen Universitas Al Azhar Indonesia

Mohammad Faisal

Direktur Centre of Reform on Economic (CORE) Indonesia

Yahya Agung Kuntadi, Ir., M.M.

Kepala Kantor UGM Kampus Jakarta, Institute of Research and Community LPPM UGM

FOLLOW US

Insentif Pajak, Daya Tarik Sistem Pajak yang Paling Rasional             Menengok dan Menyiapkan SDM di Era Revolusi Industri 4.0             Polri Telah Berupaya Transparan Ungkap Rusuh 21-22 Mei             Possible and Impossible Tetap Ada             Ungkap Rusuh 21-22 Mei Secara Terang dan Adil             Banyak Masalah yang Harus Diselesaikan             Pilihan Cerdas Jadi Oposisi             Tergilas oleh Budaya Global             Penghambaan terhadap Simbol Dunia Barat             Tak Cukup Imbauan