BACK TO TOPIC
OPINI PENALAR
Bloger - Pengamat Media Sosial dan Teknologi Informasi
Karena Mayoritas yang Tak Percaya Diri

Gerakan tagar #UninstallTraveloka tak terlepas dari konteks politik. Dilihat dari peristiwa yang menyertai gerakan boikot itu adalah aksi walk out di sebuah acara, yang bagi orang-orang yang mendukung aksi itu, dianggap langkah berani dan heroic. Tapi bagi yang mendukung Gubernur Anies itu dianggap langkah melecehkan. 

Di sini kemudian muncul mentalitas beraninya ramai-ramai. Seakan orang ramai tergerak cari cara bagaimana untuk membalasnya. Lucunya, yang membalas ini mengatasnamakan Islam secara keseluruhan. Mereka menganggap yang melecehkan gubernur kemarin berarti menghina Islam pula secara keseluruhan.  

Gerakan boikot ini bukan kali pertama terjadi. Sebelumnya menimpa Sari Roti. Sekarang brand jadi rentan untuk berada memihak di satu posisi. Trigger-nya ternyata memang ada yang memprovokasi gerakan boikot Traveloka ini. Pelaku utamanya kan Ananda Sukarlan. Tapi memang tak ada yang bisa diboikot dari Ananda Sukarlan ini. Kebetulan disebut juga nama Traveloka di acara tersebut.   

Kalau kita lihat underlying problem-nya seolah ada ketidak-percayaan diri, di mana (kelompok) mayoritas justru merasa terancam. Kelompok masyarakat yang jumlahnya mayoritas ini justru menjadi unsur masyarakat yang lemah. Dari sini ada rasa ketidak-percayaan diri yang berusaha ditampilkan dengan menunjukkan "Lihat kita ini (jumlahnya) banyak!" bukan dengan cara bersaing di bidangnya. Misalnya, di bidang akademis. Ternyata di bidang-bidang itu tak banyak yang menonjol. Yang akhirnya yang bisa dilakukan banyak-banyakan orang untuk dijadikan salah satu senjata.     

Saya tak melihat di balik ini ada taktik bisnis kotor dari pesaing Traveloka. Justru dari peristiwa ini malah banyak yang jadinya mendukung Traveloka. Yang tadinya nggak instal, malah instal. Peristiwa ini malah bisa dijadikan publikasi gratis, sebenarnya. Yang bisa dicermati dari peristiwa ini adalah ketidaksetujuan, entah pada pemerintah atau seorang tokoh, itu wajar, akan tetapi preferensi kita sekarang diwarnai oleh konteks politik. Jadi ada kubu-kubuan.

Yang jadi masalah bila preferensi itu dibangun atas dasar hoaks dan tanpa diteliti dulu sebab-sebabnya. Seperti sebelum ini kan ada kasus boikot Sari Roti yang ternyata pihak Sari Roti tak terlibat. Begitu juga kasus Traveloka ini ternyata bos travel agent tersebut tak ada di acara itu. 

Pada umumnya bisnis seharusnya tidak mengenal politik. Pemilik bisnis tidak membeda-bedakan konsumennya. Maka dari itu kita sebagai masyarakat harus bisa lebih bijak lagi sebagai pengguna media sosial. Jangan buru-buru ikutan menyebarkan tagar. Pas ternyata salah, kan malu.   

Brand terganggu atau tidak aksi boikot ini? Ujung-ujungnya yang berpengaruh pada sebuah brand adalah layanan dan produknya sendiri. Masyarakat Indonesia sebenarnya kurang loyal terhadap brand. Masyarakat Indonesia cenderung mencari yang lebih murah dan yang paling menguntungkan.             

Akan tetapi tetap saja gerakan boikot ini tak sehat. Setiap kali ada gerakan boikot dari agama atau golongan tertentu, dan akhirnya nggak berhasil (menumbangkan yang diboikot), artinya yang diboikot tak terpengaruh, akan melahirkan rasa semakin tidak percaya diri tadi. Maka dari itu energi yang disalurkan untuk boikot-boikot ini disalurkan untuk sesuatu yang lebih berarti, lebih positif dan produktif. Kalau mau bikin bisnis ya bikin bisnis yang bagus atau berkarya di berbagai bidang. Jangan ikut boikot-boikotan yang tak ada hasilnya pula. (ade)      
 

SHARE ON
close

PENALAR

PENALAR TERPRODUKTIF

Andry Satrio Nugroho

Peneliti Institute for Development of Economics and Finance (INDEF)

Ahmad Heri Firdaus

Peneliti Institute for Development of Economics and Finance (INDEF)