BACK TO TOPIC
OPINI PENALAR
Penulis buku
Kampanye Nikah Muda, Upaya Mendomestikasi Perempuan

Ada dua argumentasi yang paling sering digunakan kelompok fundamentalis dalam mengampanyekan nikah muda. Pertama dari sisi individu adalah menghindari diri dari hubungan seks di luar nikah yang dalam terminologi agama termasuk perbuatan dosa besar. Kedua, dari sisi kemajuan umat yaitu  keyakinan bahwa dengan cepat menambah populasi niscaya akan kuat pula sebagai kelompok masyarakat.  

Jika dilihat, kedua argumentasi ini memang cenderung bersifat simplistik dan tidak memperhatikan derajat kompleksitas kehidupan manusia.  

Dugaan saya, dalam konstelasi pertarungan pemikiran dan kekuatan politik, pilihan menggunakan isu yang primal (seperti seksualitas, hubungan intim manusia dan keluarga) didorong oleh kondisi sosial budaya yang membuat  kampanye tersebut  mudah ‘dibeli’ oleh publik. Kampanye seperti ini dipilih karena hanya melanggengkan nilai-nilai patriarki yang usianya mungkin lebih tua dari agama itu sendiri. 

Jika diperhatikan, kampanye menikah muda itu juga berbanding lurus dengan semakin kerasnya tekanan untuk berhijab bagi perempuan, gencarnya kampanye poligami dan seruan lain yang senada. Semua kampanye ini memiliki kesamaan yaitu dorongan yang besar untuk mengendalikan perempuan dan menjadikannya alat untuk mencapai kekuasaan. Ada kekuatan yang berupaya kembali mendomestikasi perempuan dan melucuti otoritas perempuan atas dirinya, karena itu adalah strategi tertua dan sayangnya masih kerap berhasil hingga sekarang. 

Padahal salah satu terobosan terpenting yang dibawa ajaran Islam adalah kesetaraan perempuan dan laki-laki yang antara lain terlihat dari ajaran yang mengutamakan pernikahan monogami, memberikan ruang bagi perempuan untuk menjadi  pemimpin dan tidak menghakimi cara perempuan berpakaian. Namun dari waktu ke waktu, nilai-nilai keadilan terhadap perempuan yang diusung Islam justru kerap dimanipulasi oleh sebagian pihak yang ingin melanggengkan kemapanan sistem patriarkis.  

Sejarah dan tradisi Islam dipenuhi kisah figur perempuan yang berdaya. Khadijah istri pertama Rasulullah adalah seorang pedagang sukses. Aisyah istri Rasulullah setelah Khadijah wafat adalah seorang intelektual yang bahkan pernah memimpin perang. Banyak lagi figur seperti ini dalam sejarah Islam yang sepertinya justru dikaburkan dan nyaris tak pernah diangkat. Jadi kampanye nikah muda dengan pesan-pesan yang mendomestikasi dan bahkan merendahkan perempuan sesungguhnya tidak dapat dianggap sepenuhnya mewakili ajaran Islam. 

Jadi fenomena gerakan menikah muda ini tidak dapat dianggap berdiri sendiri. Ia mesti ditempatkan di dalam konteks besar sebagai upaya kelompok tertentu untuk menggalang kekuatan mereka demi mendapatkan kekuasaan. Agama dijadikan alat untuk menghilangkan keunikan individu dan menjadikan manusia tak ubahnya sekadar suatu sekrup saja untuk mendorong kepentingan amat besar. Kelompok ini tidak akan melakukan upaya serius untuk memberikan pendidikan keluarga terlebih seks, karena mereka tidak benar-benar peduli pada isu tersebut dan karena pendidikan kesetaraan hanya akan mengguncang dan  mengancam agenda politik mereka. (ade)

SHARE ON
close

PENALAR

PENALAR TERPRODUKTIF