BACK TO TOPIC
OPINI PENALAR
Ahli Hukum Tata Negara, Pengamat Politik Indonesia
KPU Jangan Perkeruh Suasana

Harus dipahami bahwa klaim menang pemilu ini merupakan dinamika yang seharusnya dianggap biasa. Karena belum ada penghitungan resmi dari KPU. Yang ada baru hasil quick count yang memenangkan Jokowi-Ma’ruf, dan kemudian hasil real count versi 02 yang memenangkan Prabowo-Sandi. Jadi, wajar-wajar saja perbedaan itu.

Tapi yang paling penting, kedua kubu jangan melakukan, misalnya, selebrasi yang berlebihan terlebih dahulu. Kemudian jangan juga melakukan tindakan-tindakan yang anarkis, misalnya. Karena bagaimanapun hasil resmi harus kita tunggu dari KPU. Tidak hanya menunggu, kita juga harus mengawal proses rekapitulasi suara oleh KPU agar suara tidak berubah di tengah jalan.

Kalaupun ada sengketa pemilu, misalnya pilpres, itu juga harus dianggap biasa sebagai hak calon untuk mengajukan sengketa. Saya yakin banyak kecurangan-kecurangan pemilu, ketimbang mengungkapkan kecurangan di jalanan maka lebih baik dikumpulkan fakta dan datanya sejauh mana kecurangan itu signifikan mempengaruhi hasil pemilu, entah itu dimenangkan atau pemungutan maupun penghitungan suara diulang.

Mekanisme-mekanisme yang sudah disediakan ini seharusnya dipakai. Pertama, mekanisme untuk mengawal penghitungan suara mulai dari tingkat PPK sampai KPU nasional. Kedua, mekanisme hukum yang disediakan untuk komplain hasil pemilu ini kepada Mahkamah Konstitusi.

Kalau mekanisme itu dipakai, maka semuanya akan aman-aman saja walaupun ada ketidakpuasan. Karena begini, tidak setiap kecurangan langsung serta merta bisa mengubah hasil pemilu.

Agar hasil pemilu bisa diterima oleh semua pihak, KPU harus mampu menampilkan sebagai sosok yang bisa dipercaya. Caranya adalah KPU tidak memperkeruh suasana, tapi harus mendamaikan suasana. Jangan terlibat terhadap polemik atau statement-statement yang tidak perlu. KPU cukup bekerja secara profesional dan memberikan statement yang bersifat kelembagaan.

Jika nantinya ada sengketa hasil pemilu, MK harus menunjukkan kredibilitasnya bahwa mereka akan bisa menyelesaikan sengketa pemilu  secara independent dan sesuai prosedur yang benar. (mry)

SHARE ON
close

PENALAR

PENALAR TERPRODUKTIF

Yahya Agung Kuntadi, Ir., M.M.

Kepala Kantor UGM Kampus Jakarta, Institute of Research and Community LPPM UGM

Ujang Komarudin, Dr., M.Si.

Pengamat Politik dan Dosen Universitas Al Azhar Indonesia

Karyono Wibowo

Pengamat Politik. Peneliti di Indo Survey & Strategy. Peneliti Senior Indonesian Public Institute (IPI)

FOLLOW US

Kapan Merdeka dari KUHP Peninggalan Belanda?             Bangsa Parasit             Tinjau Kembali Politik Pangan             Semantik Munafik Lunatik Kembali Otentik              Indonesia Kehilangan Arah dan Tujuan             74 Tahun RI: Kedaulatan Sebagai Slogan Politik              Perlu Mekanisme Seleksi Khusus             Ketahanan Pangan Indonesia Masih Rapuh             Persoalan Ada Pada Tingkat Konsumsi             Kedaulatan Pangan Didukung Pola Makan dan Perilaku Konsumsi Pangan