BACK TO TOPIC
OPINI PENALAR
Analis Bisnis/ Pendiri Pusat Data Bisnis Indonesia (PDBI)
KLB Epidemi Ku Klux Klan Indonesia (Kriminal, Koruptor, Kudeta)

Ormas rasis Ku KLux KLan (KKK) berdiri 1865, seabad sebelum G30S, menjelang perang saudara AS di era Presiden Lincoln (1861-1865). Pernah mencapai  4-6 juta rekor keanggotaan pada 1920-1924, menjelang depresi. Setelah Presiden Roossevelt menang 4 kali, dan Demokrat menciptakan Welfare State dengan pelbagai langkah sosial demokrat, serta penghapusan diskriminasi era Kennedy-Johson pada 1960an, maka KKK praktis bubar tanpa bekas.

Di Indonesia, memang tidak ada ormas setara KKK. Tapi, dalam sejarah republik ada 2 kekuatan "jahat" yang sering bersekongkol atau berontak melalui 3 jalur. Pertama kriminal, yaitu kejahatan pencurian, perampokan, disertai kekerasan dan pembunuhan . Kedua kudeta, perebutan kekuataan melalui pelbagai jalur termasuk yang bila sukses menjadi legal. Meskipun sebetulnya merupakan kudeta terhadap pejabat pemegang kekuasaan negara dalam kurun waktu tertentu. Yang ketiga, koruptor yang menyalahgunakan wewenang dan jabatan penyelenggaraan negara. Dari yang terendah sampai yang tertinggi.

Nah Ku Klux Klan Indonesia, terutama yang kakak, dan terkait dinasti penguasa akan memperoleh kekebalan atau diskriminasi hukum. Seandainya dihukum juga akan dikurngi, remisi dan praktis menjadi ringan. Misalnya, dari kriminal pembunuh dihukum 15 tahun, turun jadi 10 tahun dan kemudian diremisi jadi 4 tahun. Sehingga, otomatis jadi ringan riwayatnya dan boleh diangkat lagi jadi pejabat publik, karena diketegorikan kriminal ringan dengan ancaman hukuman di bawah 5 tahun. 

Dengan kondisi dan situasi seperti itu, maka kriminal, pelaku kudeta maupun koruptor kakap, praktis kebal  hukum. Boleh saja ditangkap, diadili ,dipidana dan dipenjara. Tapi, segera akan lolos dari bui dan hak politiknya tetap survive, serta boleh jadi pejabat lagi. Kemudian korupsi lagi dan menikmati status penguasa penyelenggaraan negara dengan santai dan tanpa guilty complex.

Indonesia menurut saya sedang menuju jurang epidemi (KejadianLuar Biasa), dimana trio kriminal pelaku, kudeta dan koruptor besar, saling melindungi, menghidupi dan melestarikan sinergi KKK. Negara diambil alih melalui kudeta, kemudian negara dikorupsi dengan sangat mencolok. Proyek e-KTP sebesar Rp5,3 Trilyun dikorupsi Rp2,7 trilyun. Malah lebih besar dari beaya proyeknya. Ini rekor MURI Global, korupsi yang tidak terbayangkan. Kalau toh koruptornya ditangkap, bakal bebas di bawah 5 tahun dan tetap menikmati harta karun trilyunan .

Dinasti dan rezim KKK jalan terus, meski presiden di gonta-ganti 7 kali.  Presiden tidak secara langsung terlibat, meski 2 presiden pertama oleh MPRS  (yang menganggkat dan memecat Bung Karno ) dan MPR  (yang mengangkat dan memecat Soeharto) seharusnya diadili oleh Mahmilub atau Mahkamah korupsi luarbiasa. Tapi tidak pernah dituntaskan, dan sekarang rezim KKK jalan terus dengan agak malu-malu.

Karena itu segala macam "pencitraan" anti korupsi kandas dan direspon sinis oleh masyarakat, karena nyatanya "dinasti rezim KKK" tetap melangsungkan praktik KKN  dengan leluasa. Bahwa kebetulan ada yang ditangkap KPK itu hanya faktor sial, tapi secara generik KKK KKN jalan terus tanpa jera dan kapok.

Sampai kapan? Tampaknya dunia malah balapan korupsi. Seperti penahanan kapal pesiar mewah milik konglomerat Jho Low, yang melibatkan Perdana Menteri Malaysia, Najib Razak. Segala macam manuver KPK dan elite Indonesia akan kandas bagaikan kapal pesiar terdampar di Bali, karena sebetulnya praktik KKK itu telanjur jadi generik, epidemik mirip virus. Hanya bisa ditumpas dengan pemiskinan total koruptor trilyunan dan dihukum tidak boleh menjadi pejabat publik lagi. Hanya itu resepnya.  kalau sekedar dihukum sekian tahun dan denda sekian milyar, mereka tidak akan kapok malah bisa come back secara lebih dahsyat lagi.

Barangkali dinasti KKK Indonesia tidak akan pernah bisa ditumpas seperti KKK di AS. Apa boleh buat, Tuhan membiarkan KKK menguasai Indonesia karena tidak ada Abraham Lincoln yang menumpas perbudakan melalui Perang Saudara. Di Indonesia 100 tahun atau seabad setelah KKK, yang ditumpas adalah PKI dan lawan politik. Sedang pelaku KKN, dilindungi oleh solidaritas kriminal, kudeta pelaku dan koruptor (3in1). (cmk)

SHARE ON
close

PENALAR

PILIHAN REDAKSI

PENALAR TERPRODUKTIF

Abdillah Ahsan, Dr., S.E, M.S.E.

Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas indonesia, Peneliti Lembaga Demografi FEB UI