BACK TO TOPIC
OPINI PENALAR
Pengamat Politik. Peneliti di Indo Survey & Strategy. Peneliti Senior Indonesian Public Institute (IPI)
Jokowi harus Mewaspadai Tiga Isu Sensitif

Tiga isu utama yang dilontarkan LSI Denny JA, yakni isu primordial, ekonomi, dan tenaga buruh asing memang patut untuk diwaspadai oleh Jokowi, karena isu tersebut sangat sensitif. Dalam kasus Pilkada DKI Jakarta, isu agama terbukti efektif membangun sentimen pemilih.

Seperti diketahui, sebelum isu agama bergolak, elektabilitas Basuki Tjahaja Poernama berada di paling puncak meninggalkan kandidat lain. Tapi pada saat isu agama menjadi komoditas politik, elektabilitas Ahok-- sapaan akrab mantan Bupati Bangka Belitung tersebut, perlahan menurun dan akhirnya pasangan Ahok-Djarot terjungkal dalam pertarungan pilkada DKI, dikalahkan oleh pasangan Anies-Sandi. Tentu saja, ada faktor lain yang menyebabkan kekalahan pasangan Ahok-Djarot. Namun fakta ini menunjukkan isu agama yang dirancang secara sistematis terbukti efektif untuk mendowngrade kompetitor.

Isu agama mampu membuat situasi anomali, dimana tingkat keberhasilan dan kinerja yang memuaskan mayoritas pemilih ternyata tidak linear dengan tingkat elektabilitas, seperti yang terjadi pada pilkada DKI. Fenomena anomali yang terjadi di Pilkada DKI Jakarta lalu perlu menjadi pelajaran bagi Jokowi jika maju kembali di Pilpres 2019 untuk periode kedua.

Isu sensitif yang kedua adalah isu ekonomi. Isu ini harus menjadi perhatian serius, karena isu ekonomi menyangkut perut rakyat. Isu ekonomi yang perlu menjadi perhatian serius adalah masalah harga dan ketersediaan sembilan kebutuhan pokok. Selain itu, persoalan tarif dasar listrik juga perlu menjadi perhatian karena banyak keluhan masyarakat. Isu tenaga kerja asing dan investasi asing dari Cina juga harus diantisipasi karena isu-isu tersebut akan diolah menjadi komoditas politik untuk mendowngrade kredibilitas dan elektabilitas Jokowi.

Hasil survei LSI Denny JA yang dirilis 2 Februari 2018 lalu menyebutkan, elektabilitas Jokowi berada di paling atas tapi belum aman karena belum mencapai 50 persen. Temuan LSI tersebut tentu saja banyak yang mengamini. Karena sejumlah lembaga survei yang lain juga menyampaikan data yang tidak jauh berbeda. Tapi yang menggelikan adalah framing-nya. Data yang dipublikasikan LSI Denny JA yang membagi dua kategori capres, yaitu Joko Widodo dan pemimpin baru yang difavoritkan. Dari survei tersebut elektabilitas Jokowi 48.50 persen dan pemimpin baru yang difavoritkan 41.20 persen, sementara yang belum menentukan pilihan 10.30 persen.

Yang dimaksud LSI dengan membuat istilah pemimpin baru yang difavoritkan barangkali adalah gabungan dari beberapa nama yang ditokohkan. Anehnya, LSI Denny JA tidak menampilkan data elektabilitas nama-nama tokoh yang difavoritkan secara terperinci. Lucunya lagi, LSI membagi 3 divisi dalam kontestasi pilpres tetapi hanya berdasarkan popularitas, sementara elektabilitasnya tidak ditampilkan. Tentu saja ini menimbulkan pertanyaan publik. (ast)

SHARE ON
close

PENALAR

PILIHAN REDAKSI

PENALAR TERPRODUKTIF