BACK TO TOPIC
OPINI PENALAR
Sejarawan UI, pemerhati sejarah Islam Indonesia
Jilbab Mayoritas, Ada Kontribusi Industri Fesyen

Saya kurang tahu kalau sekarang ada yang merasa ditekan untuk berjilbab. Namun jumlah yang mengenakan jilbab atau yang sekarang disebut hijab memang tampak jauh lebih besar dibanding dahulu. Bahkan ada beberapa produk yang dulu tak menyentuh kaum jilbabers kini justru menyasarnya.

Tidak pernah terbayangkan oleh kita sebelumnya mereka akan menggunakan perempuan berjilbab sebagai bintang iklannya. Hari ini malah mereka seolah merayakan itu. 

Artinya, soal jilbab yang tampak jadi mayoritas ini karena ada dampak yang kuat juga dari industri fesyen. Malah orang yang berjilbab saat ini menjadikannya juga sebagai mode, selain pertimbangan syariahnya. Perempuan tetap ingin tampil cantik saat menggunakan jilbab. Saya suudzon-nya begitu. 

Maka, dari sisi penggunaan jilbab karena alasan syariah, belum 100 persen dakwah jilbab berhasil. Karena alasan fesyen, mengikuti mode dan tren ikut mengemuka. Juga ada pula perempuan yang on/off pakai jilbab. Ketika pergi ke suatu acara (bernuansa keagamaan Islam) saja memakai, kali lain tidak. 

Para aktivis dakwah punya standar penggunaan jilbab sendiri, menutup seluruh tubuh kecuali telapak tangan dan wajah, tidak memperlihatkan lekuk tubuh. Beda dengan jilbab fesyen. Namun, fenomena jilbab dipakai mayoritas wanita ini tahapan yang bagus buat dakwah mereka. Paling tidak, orang sudah masuk ke satu fase menutup aurat.  

Perlu diketahui, penggunaan simbol seperti jilbab ini tak hanya terjadi di perempuan. Di laki-laki muslim pun juga ada. Ketika ke Tanah Suci, Mekkah saya melihat orang Indonesia tampak berpakaian seperti orang Arab, Pakistan atau India. Saya menjadi minoritas ketika ke sana pakai sarung. 

Kita memang masih menganggap simbol-simbol dalam berpakaian ini penting. Padahal, saya lihat, orang Turki lebih rileks. Saya pernah lihat ada orang Turki shalat di Masjidil Haram memakai jas. 

Perlu diingat juga, kapitalisme selalu bermain di berbagai kesempatan. Ia akan selalu mendukung gejala baru, tak terkecuali fenomena maraknya jilbab, yang penting para kapitalis ini untung. 

Sayangnya orang Indonesia kurang perhatian soal itu. Karena kita konsumen, kita bangsa yang gemar mengkonsumsi. Begitu ada perubahan tren, kita ikutan. Termasuk perubahan mode, kita anggap konsumsi baru yang perlu dikonsumsi.

Namun bila dikaitkan maraknya jilbab dengan apa kita sedang cari uniform identitas nasional baru, rasanya masih jauh. Menurut saya ini hanya fenomena di perkotaan dan Indonesia luas sekali. Di wilayah pelosok yang belum terjangkau televisi atau budaya konsumtif akibat iklan yang sangat masif, uniform atau busana lokal masih dipertahankan. 

Yang patut dicatat di sini, kalaulah kita sedang mencari bentuk uniform (seragam) nasional baru lewat jilbab yang kini tampak mayoritas, itu gejala budaya yang alamiah. Asalkan, ketika uniform nasional itu diwujudkan hal tersebut tidak menjadi kewajiban bagi setiap orang mengenakannya. Tidak boleh ada tekanan untuk memakai uniform tersebut--apapun itu jenis busananya. (ade)

SHARE ON
close

PENALAR

PENALAR TERPRODUKTIF