BACK TO TOPIC
OPINI PENALAR
Pengamat Kebijakan Publik, Wartawan Senior
Janji Para Badut

Bagi para pemuja capres yang sedang bertarung, rakyat hanyalah obyek untuk dibuai dengan aneka mimpi indah, sekaligus ditakut-takuti dengan mimpi buruk. Dalam arti, kepentingan rakyat dieksploitasi untuk kepentingan politik.

Posisi rakyat sekarang ini seperti penumpang sebuah kapal dengan dua tujuan. Mereka terus dibombardir dengan berbagai bualan bahwa hanya satu tujuan yang mengarah pada masa depan lebih baik. Tujuan lainnya adalah sesat.  Para pembual ini tak perduli bahwa apa yang mereka lakukan membelah masyarakat ke dalam dua kubu besar yang saling curiga dan membenci seperti anjing dan kucing.

Bila terus begini, seperti sedang terjadi terjadi di Jakarta, Pilpres 2019 tak akan berhenti pada siapa yang menjadi pemenang. Saling serang akan berlanjut karena persaingan politik telah dianggap sebagai urusan pribadi. Ibarat petinju  yang memakai prinsip kalau kalah di atas ring lanjutkan petarungan di jalanan.

Pasca Pilpres 2019 pertarungan bakal  makin konyol kalau,  seperti di Jakarta, isu ras dan agama terus dimainkan. Hal ini sangat mungkin terjadi karena para guru bangsa seperti akademisi dan tokoh agama,  yang idealnya bisa menjadi juru damai, malah menjadi bagian dari persoalan karena ikut bermain demi kepentingan pribadi masing-masing.

Konyolnya, meski saling gempur, kedua kubu capres yang sedang bertarung memiliki kesamaan komoditas politik, yaitu kesejahteraan rakyat. Mereka semua berusaha tampil seserius mungkin dalam memperjuangkan kesejahteraan yang biasanya dikemas dalam berbagai janji menggiurkan.

Semoga masyarakat sadar bahwa semuluk apapun sebuah janji, sangat mudah diucapkan oleh siapapun, terutama oleh politisi yang kerap mengandalkan janji kosong untuk pencitraan. Seperti kata pepatah Jerman:Tak ada yang lebih ringan dari sebuah janji.

Janji itu sendiri, bila keluar dari mulut pembual, juga bisa menjadi lingkaran setan. Seperti pepatah Belanda: Janji itu membuat utang, sedangkan utang membuat janji.

Maka,  di tengah situasi politik yang demikian panas dimana kedua kubu capres sangat bernafsu untuk menang,  sebaiknya jangan serius mendengar janji-janji yang digelorakan oleh para politisi dan pendukungnya. Anggap saja mereka sebagai para badut yang sedang berburu uang dan kekuasaan.(arh)

SHARE ON
close

PENALAR

PILIHAN REDAKSI

PENALAR TERPRODUKTIF

Gigin Praginanto

Pengamat Kebijakan Publik, Wartawan Senior

Ujang Komarudin, Dr., M.Si.

Pengamat Politik dan Dosen Universitas Al Azhar Indonesia

Bambang Budiono MS

Pengajar Antropologi Politik Fisip Unair

FOLLOW US

Layar Kaca dalam Ruang Demokrasi             Sebaiknya Ahok Cuti Politik Dulu             Ahok Seharunya Memainkan Peran dalam Politik Kebangsaan             Disparitas Kemiskinan Tinggi              Pertumbuhan Naikkan Pendapatan             Daerah Perbatasan Harus Outward Looking             Abu Bakar Ba’asyir Digoreng dalam Bungkus Politik             Pemerintah Belum Bisa Disalahkan             Pemerintah Seharusnya Tidak Perlu Terburu-buru             Kapasitas Sumber Daya Lokal yang Menjadi Hambatan