BACK TO TOPIC
OPINI PENALAR
Pengelola majalah POTRET dan Majalah Anak Cerdas. Direktur Center for Community Development and Education (CCDE) Banda Aceh
Jangan Serahkan Semua Tanggung Jawab Membangun Moral Anak Ke Sekolah

Edan. Ini benar-benar edan. Ya, benar. Semakin gila. Ini memang sudah zaman edan. Ya. Begitulah reaksi banyak orang ketika mendengar atau menyaksikan kasus-kasus perilaku anak yang semakin menyimpang selama ini. Apalagi, ketika membaca tulisan Galuh Ratnatika, bertajuk “Tren Siswa SMP Sayat Diri Sendiri, Gejala Apa?”, membuat hati ini seperti teriris-iris, pedih, prihatin dan bertanya-tanya, mengapa kasus-kasus seperti itu kini terjadi? Ya, mengapa perilaku menyakit diri di kalangan anak-anak yang masih usia SMP itu bisa terjadi dan berulang, walau bukan pada anak-anak yang sama. Kasus-kasus menyakiti diri bukan hanya terjadi di satu tempat, tetapi terjadi di beberapa tempat dan bukan lagi kasuistik, tetapi dikatakan menjadi tren. Sangat memprihatinkan bukan?

Ya, jelas sangat memprihatinkan. Kasus-kasus seperti itu tidak selayaknya terjadi, apalagi di kalangan pelajar yang masih usia sekolah. Namun, apa mau dikata, ibarat kata pepatah, nasi telah jadi bubur. Bukan hanya sekali yang terjadi, tetapi malah sudah terlanjur berkali-kali. Lalu, ketika perilaku buruk ini terjadi dan terjadi lagi, sayangnya tidak ada pihak yang mau disalahkan. Bahkan orang tua yang diberikan Allah tanggung jawab untuk mendidik, merawat, menjaga dan melindungi anak, secara serta merta menyalahkan pihak sekolah. Coba telaah paragraph di bawah ini.

Terlepas dari bagaimana pun motif anak-anak dalam melukai diri mereka. Hal itu jelas harus menjadi perhatian dari pihak sekolah, khususnya para pendidik. Dari ketiga kasus tersebut, apakah itu artinya para pendidik selama ini kurang memperhatikan kondisi mental anak-anak didiknya? Bukankah tugas mereka tak hanya memberikan pelajaran, tetapi juga membentuk karakter dan membangun mental anak-anak? Selain itu, hampir setiap sekolah memiliki guru yang bertugas khusus untuk memberikan konseling (BK) kepada siswanya yang bermasalah. Lantas, mengapa sampai ada puluhan siswa depresi yang tak mendapatkan bimbingan konseling dengan baik? Apakah selama ini peran guru BK di sekolah belum mampu mengatasi permasalahan anak-anak?”

Membaca paragraph di atas, sangatlah tidak adil bila kita semua meletakkan kesalahan kebobrokan moral anak kepada guru di sekolah. Dikatakan demikian, karena sesungguhnya tanggung jawab utama untuk mendidik dan membentuk perilaku anak yang baik adalah di keluarga. Sebab, baik dan buruknya  moralitas anak, sesungguhnya berawal dari rumah (keluarga). Oleh sebab itu, selayaknya pula kita bertanya, dimana letak tanggung jawab orang tua? Bukankah mentalitas atau moralitas anak rusak dan mengalami depresi lebih banyak disebabkan oleh faktor persoalan rumah tangga yang telah  merusak jiwa anak?

Harus diakui bahwa kasus anak drepresi banyak bersumber dari factor orang tua, hancurnya mahligai rumah tangga. Drepresi anak yang bersumber dari kehancuran rumah tangga, yang seharusnya disembuhkan oleh kedua orang tua yang mendapat amanah untuk mendidik, melindungi dan memberikan kesempatan anak untuk berkembang. Rumah tangga memiliki tanggung jawab yang pertama dan utama dalam mendidikan anak, namun betapa ironisnya kalau banyak orang tua meletakkan tanggung jawab itu bulat-bulat di pundak guru. Cobalah hitung alokasi waktu anak di sekolah dan di rumah. Berapa lama anak-anak berada di sekolah? Berapa lama anak berada dalam dekapan orang tua? Bukankah waktu di rumah lebih lama dibandingkan di sekolah?

Kita juga lupa bahwa factor lingkungan (meliu) yang semakin apatis terhadap perkembangan anak merupakan fakor eksternal yang semakin besar kontribusinya terhadap kerusakan moralitas anak dewasa ini. Jadi, harus dipahami bahwa munculnya kasus-kasus anak menyakiti diri, tidak disebabkan oleh single factor dan single actor, tetapi multi factors dan multi actors. Maka, akan lebih bijak, bila kita secara bersama melakukan refleksi dan mengambil kembali tanggung jawab mendidik anak tersebut sesuai porsi masing-masing. Sinergikan kembali tri pusat pendidikan untuk mengedukasi anak-anak, agar tidak menjadi destruktif dan self-injured. (grh)

 

SHARE ON
close

PENALAR

PENALAR TERPRODUKTIF

Ahmad Heri Firdaus

Peneliti Institute for Development of Economics and Finance (INDEF)