BACK TO TOPIC
OPINI PENALAR
Pengamat Sepakbola/Jurnalis Senior
Jangan Rusak Olahraga dengan Ego Politik dan Kekuasaan

Persahabatan yang tulus, persaingan yang jujur, dan prestasi yang diraih dengan cara terhormat sebagai semangat dasar dalam olahraga mestinya terbebas dari kepentingan lain, apalagi politik dan kekuasaan. Tapi, fakta sejarah menunjukkan, kutub olahraga dan kepentingan lain itu justru kerap dibenturkan.

Ironisnya, usia pengingkaran terjadi setara dengan kelahiran olahraga itu sendiri. Olahraga dalam berbagai sisi kemurniannya kerap dijadikan alat propaganda politik. Di level Olimpiade memuncak pada 1980 dan 1984, ketika AS mewakili Blok Barat berbalas boikot dengan Uni Soviet mewakili Blok Timur.

Kini, olahraga kembali terseret referendum Catalan. Sorotan terbesar mengarah ke eksistensi klub elite Barcelona, kompetisi kasta tertinggi La Liga, dan timnas Spanyol. Jika ekistensi ketiganya dimentahkan dengan pemisahan diri Catalan dari Spanyol dalam spektrum politik, La Liga dan La Furia Roja merugi.

Seperti kompetisi reguler di negara lain, nilai tinggi La Liga ditentukan klub, bukan federasi atau operatornya. Apa jadinya Premier League Inggris tanpa Manchester United, Arsenal, Liverpool? Apa jadinya Serie A Italia tanpa AC Milan, Juventus, AS Roma? Apa jadinya La Liga tanpa Barcelona?

Dengan seabrek aset dan brand value-nya, Barcelona punya posisi tawar tinggi. Blaugrana bisa hijrah ke Premier League atau Ligue-1 Prancis jika tak dibolehkan lagi berkiprah di La Liga. Banyak faktor vital ikut terangkut. Larangan Presiden La Liga Javier Tebas terhadap Blaugrana emosional dan prematur.

La Liga kehilangan magnet El Clasico, kekuatan timnas Spanyol pun tergerus. Belum lagi cabang olahraga lain. Jadi, mestinya, semangat dasar olahraga yang sudah membuahkan potensi hebat tak perlu dirusak sendiri dengan sadar hanya karena ego politik dan kekuasaan. Itu setback yang meruntuhkan. (ade)   

SHARE ON
close

PENALAR

PENALAR TERPRODUKTIF