BACK TO TOPIC
OPINI PENALAR
Pengamat Komunikasi/ Dosen FIKOM Universitas Prof.DR.Moestopo (Beragama)
Jangan Melihat Patung dari Hanya Sudut Pandang Agama yang Dogmatis

Patung itu budaya, melihatnya dari prespektif budaya. Bukan sekadar dari sudut pandang agama saja. Jika hanya memandang dari sudut pandang agama, kita bagaikan melihat satu hal mengunakan kacamata kuda.

Karena sifat agama yang dogmatis, sehingga tidak ada analisa yang mendalam mengenai suatu hal. Sifat dogmatis dari agama hanya menekankan pada benar atau salah.

Contohnya ada makam yang berada di komplek masjid. Sebagian golongan menganggap bahwa golongan lain ke masjid tersebut karena mau mendoakan makam, padahal kelompok yang dicurigai itu bisa saja datang untuk berdoa di masjid yang kebetulan ada makamnya. Salah paham ini dikarenakan sifat agama yang dogmatis dan hanya mendasari pada pemahaman benar atay salah. Orang yang berdoa di masjid dianggap mendoakan makam yang ada di masjid tersebut.

Patung merupakan bagian dari simbol. Sejak adanya manusia di dunia, manusia terbiasa meninggalkan jejak berupa simbol untuk generasi setelahnya. Salah satunya berupa patung. Sebagai contoh, Nabi Adam sejak turun ke dunia diajarkan mengenal tanda-tanda atau simbol-simbol.

Dalam agama simbol tadi juga merupakan wasilah atau pemersatu. Masyarakat bersatu dalam satu simbol yang sama. Sebagai contoh kiblat umat Islam yang mengarah ke Ka'bah sebagai simbol pemersatu dan umat Kristen yang menjadikan Yesus sebagai simbol pemersatu keagamaannya. Jika dilihat dengan kacamata kuda dogmatis tadi, ini akan berakhir di benar atau salah. Namun jika dianalisa dengan mengunakan rasional, ada makna yang tersirat dari perwujudan itu. Yaitu pemersatuan kelompok-kelompok di bawah satu simbol.

Sama halnya dengan pembuatan patung yang merupakan bagian dari simbol. Jika dalam kacamata agama patung dikatakan musyrik, mungkin ada kurang analisa atau pemahaman makna dari satu objek atau simbol tersebut.

Penghancuran patung ini bukanlah hal yang sepele. Pemerintah harus turun tangan. Memberikan pemahaman kepada masyarakat. Bagaimana meletakan pemikiran kepada masyarakat di Indonesia. Sehingga penghancuran patung yang merupakan peninggalan kebudayaan bangsa tidak lagi terjadi. (ast)

SHARE ON
close

PENALAR

PENALAR TERPRODUKTIF

Budi Arie Setiadi

Wakil Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi Indonesia

Edgar Ekaputra

Pakar Industri Keuangan dan Ekonomi, Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis UI

Lia KIan, Dr.

Staf Khusus Dewan Pengarah Badan Pembinaan Ideologi Pancasila