BACK TO TOPIC
OPINI PENALAR
Dosen Fakultas Hukum Universitas Islam Indonesia (UII)
Jangan Hanya Berharap Dari Pecahnya Suara Paslon Lain

Dengan mengusung Pasangan Calon (Paslon) sendiri, yaitu TB. Hasanudin dan Irjen   Anton Charliyan, dalam Pilkada Jawa Barat, PDIP bukan hanya terlalu percaya diri, bahkan “gambling”. Pertama,dari segi popularitas, figur TB. Hasanudin sebagai Calon Gubernur (Cagub), meskipun pada level nasional cukup dikenal, tapi khusus untuk di Jawa Barat masih jauh kalah populer dibandingkan dengan Ridwan Kamil (RK), Deddy Mizwar (Demiz), dan Mayjen Pur. A. Sudrajat (AS). Calon Wakil Gubernur (Cawagub) Anton relatif lebih dikenal di Jawa Barat daripada Cawagub lain karena belum lama ini menjabat Kepala Kepolisisan Daerah (Kapolda) Jawa Barat. Sedangkan Cawagub lain baru dikenal secara terbatas, misalnya Uu Ruhzanul Ulum hanya dikenal di Tasikmalaya; Dedi Mulyadi meskipun belakangan mulai dikenal dikancah nasional, tapi tidak terlalu popular di Jawa Barat; dan Muhammad Syaikhu tidak banyak orang Jawa Barat yang tahu. Meskipun demikian, figur Anton memiliki kelemahan, yaitu akan dikenang oleh banyak orang Jawa Barat sebagai figur yang pernah “menyakiti" hati para ulama dan kaum muslim.

Kedua, ada persyaratan tidak tertulis bahwa untuk menjadi pemimpin di Jawa Barat harus memenuhi 3 Ny: Nyunda, Nyantri, dan Nyakola. TB Hasanudin meskipun orang Jawa Barat tetapi tidak kelihatan Nyunda atau setidaknya tidak menonjol pemakaian bahasa dan logat Sundanya. Anton yang mengaku dirinya sebagai orang USA (Orang Sunda Asli) sangat Nyunda. Penguasaan Bahasa Sundanya luar biasa dan logat Sundanya sangat medok. Dari sisi Nyundanya ini Anton bisa menutupi kelemahan TB Hasanudin. Namun nama Anton Charliyan sendiri sangat tidak Nyunda. 

Persyaratan Nyantri, baik cagub maupun cawagub tampaknya keduanya kurang memenuhi. Meskipun keduanya secara pribadi merupakan pribadi-pribadi yang religius, tetapi keduanya lebih dikenal ke-tentaraan dan ke-polisian-nya. Selain itu mereka lebih dikenal sebagai "Nasionalis" sesuai dengan partai pengusungnya.

Satu-satunya syarat yang terpenuhi adalah Nyakola. Kedua figur Paslon ini tidak diragukan pendidikan dan intelektualitasnya, bahkan Anton selain seorang berpangkat Irjen, beliau juga seorang Doktor.

Ketiga Paslon lain relatif telah memenuhi syarat tersebut, sehingga cukup berat bagi Paslon PDIP ini untuk bersaing. Meskipun demikian tidak ada yang mustahil dalam politik. Paling tidak, ada tiga hal yang harus dilakukan untuk memenangkan hati masyarakat Jawa Barat. Pertama, kerja keras mesin partai untuk menjangkau wilayah-wilayah pedesaan dengan tetap mengusung 'name tag' sebagai partai masyarakat bawah. Selain itu, konsolidasi partai mutlak diperlukan untuk merangkul kembali anggota-anggota yang terlanjur mendukung paslon lain.

Kedua, isu yang diusung adalah tetap konsisten dengan PDIP yakni infrastruktur, tetapi fokusnya adalah infrastruktur pertanian, pendidikan khususnya pesantren dan kesehatan yang sangat dibutuhkan oleh masyarakat pedesaan Jawa Barat.

Ketiga, komunikasi politik dengan pemuka-pemuka masyarakat, termasuk pimpinan-pimpinan pesantren dengan pendekatan ala santri menghadap kyai juga perlu dilakukan. Anton sangat handal dalam komunikasi. Dia cerdas, supel dan impresif. Tantangannya adalah, dia harus membuktikan bahwa dia bersahabat dengan para ulama, dia adalah polisi yang santri dan santri yang polisi.

Jika kesemua itu tidak efektif maka satu-satunya harapan dari Paslon Cagub dan Cawagub Jawa Barat dari PDIP ini adalah terpecahnya suara pemilih untuk ketiga paslon lain, tetapi harus menang dalam satu putaran.

(cmk)

SHARE ON
close

PENALAR

PENALAR TERPRODUKTIF