BACK TO TOPIC
OPINI PENALAR
Guru Besar, Spesialis Bisnis Internasional, Ahli dalam Bisnis, Pemasaran, Pendidikan, Organisasi dan Manajemen
Jadikan Perbankan Sebagai Learning Organization

Kemajuan teknologi digital di era revolusi industri zaman now sulit dibendung, apalagi dikendalikan. Betapapun dicoba, tidak akan bisa karena akan seperti menegakkan benang basah. Termasuk jika pada suatu saat bakal menggusur atau meredusir sistem perbankan konvensional.

Mengapa ada kekuatiran bakal terjadi penggusuran bank konvensional tadi? Menurut saya sebaiknya kita anggap saja sebuah keniscayaan, sesuatu yang pasti impending atau yang tidak bakal tidak terjadi. Makanya kita bersiap siaga seperti dalam menghadapi banjir besar DKI. Kita punya banyak pakar IT misalnya di ITB dan sebagainya. Mengapa tidak mengarahkan agar para pakar IT menciptakan perangkat, sistem serta teknologi IT yang bisa kita gunakan sebagai suatu sistem perbankan berbasis IT? Mengapa kita hanya seperti menunggu dan menunggu "bis sekolah" dalam nyanyian Koes Plus?

Demikian juga laju cryptocurrency tidak perlu dihadang. Sebaiknya kita minta BI dan OJK menyiapkan perangkat serta sistem anyar agar cryptocurrency tertentu, bukan semuanya, bisa menjadi alat pembayaran yang sah, aman dan, legal. Mengapa? Melarangnya hanya seperti membangkitkan "batang tarandam" istilah orang Minang. So, if you cannot beat them, you join them. Tentunya, sekali lagi, dengan persiapan yang sangat lintas sektoral melibatkan para stakeholders keuangan, bank sentral (Indonesia, bukan Asia!), IT, pemerintah, dan lain-lain.

Yang namanya teknologi baru bagaimana akan dicegah? Dulu sekali transfusi darah dilarang oleh sebagian kelompok. Kini transfusi darah sebagai mukjizat pengobatan zaman modern terbukti menolong begitu banyak manusia.

Dalam kaitan dengan bank-bank kecil yang belum mempunyai kemampuan modal dan teknologi, tidak ada jalan lain mereka mesti merger. Bank adalah institusi bisnis yang heavily regulated. Ini dapat dipahami karena bank adalah bisnis yang mayoritas terbesar modalnya dimiliki orang lain. Kita lihat bagaimana Basel Accord perlahan tapi pasti menaikkan angka CAR perbankan sampai 8 persen dari modal, bahkan akan dinaikkan lagi rencananya. 

Tidak mungkin bank-bank kecil dan tetap kecil dibiarkan beroperasi dengan apologi faktor modal dan kekurangan resources apapun. Apalagi dengan batas jaminan LPS demikian rendah, bisa menjadi bahaya jikalau terlambat diurus tuntas.

Terakhir, kesiapan para penegak hukum, para pengelola keuangan, para pakar IT, dan praktisi perbankan perlu menjadikan lembaga mereka sebagai sebuah "learning organization" sehingga mereka menjadi jauh lebih pandai dan lebih siap daripada para "outlaws". Baik di bidang perbankan konvensional kini ataupun di bidang mata uang virtual nantinya. (pso)

SHARE ON
close

PENALAR

PILIHAN REDAKSI

PENALAR TERPRODUKTIF

Ujang Komarudin, Dr., M.Si.

Pengamat Politik dan Dosen Universitas Al Azhar Indonesia

Christianto Wibisono

Analis Bisnis/ Pendiri Pusat Data Bisnis Indonesia (PDBI)

Dadang Trisasongko

Direktur Eksekutif Tranparency Internasional (TI) Indonesia

FOLLOW US

Rekonsiliasi Politik di Level Elit Diharapkan Terjadi di Level Sosial.              Tak Ada yang Salah dengan Pertemuan Jokowi Prabowo             Perhatikan Lag antara Demand Side dan Regulasi dari Sisi Supply Side             Tantangan yang Harus Dihadapi Masih Besar             Kemiskinan Makin Sedikit, Sulit Dikurangi             Bansos Tak Efektif Kurangi Kemiskinan             UNHCR Harus Keluar             Pembangunan Negara Hukum Harus Jadi Agenda Prioritas             ‘Visi Indonesia’ Tidak Prioritaskan Pembangunan Hukum dan HAM             Perlu Pertimbangan Agar yang Dikurung Memang Pantas Dikurung