BACK TO TOPIC
OPINI PENALAR
Arsitek, Aktivis dan Penulis
Itu Imperialisme Kawan!

Sederhana sekali pandangan saya terhadap kasus pendudukan Israel terhadap wilayah Palestina; yaitu sebuah pengkhianatan. Awal mula perkara ini adalah: Runtuhnya Kesultanan Ottoman; sebuah negeri yang sangat perkasa; Super Power menurut istilah masa kini. Macam-macam alasannya; salah satunya adalah perang. Beberapa negara yang tidak bersepakat dengan pola-pola perdagangan yang berat sebelah; mengumumkan perang.

Pukulan paling berat tentu ketika: bangkitnya Kerajaan Portugis, Spanyol, Inggris dan Belanda. Satu persatu; negeri bekas jajahan kesultanan Ottoman mengumumkan kemerdekaannya; termasuk sejumlah Negara Arab, atas dasar kepentingan penduduk lokal, memutuskan untuk membuat negeri sendiri yang merdeka. 

Kerajaan Inggris adalah negeri yang paling berminat menjadi ‘mentor’ dalam urusan pemberontakan terhadap Kekaisaran Utsmaniyah. Sambil menjadi ‘mentor’ juga menjajah dengan gaya baru. Ini sebenarnya urusan politik; bagaimana politikus Arab (biasanya dipelopori keluarga saudagar) dan sekitarnya melobi modal kapital pembangunan dari Pemerintahan Inggris yang kaya; setelah Kesultanan Utsmaniyah bangkrut kalah perang di mana-mana. Pejuang Palestina: meminta Inggris untuk  menyokong penuh perang kemerdekaan Palestina atas cengkraman Kekaisaran Utsmaniyah pada November 1914. 

Sebelum itu, sejarah menulis: atas berkat dan rahmat Penguasa Palestina sebelumnya yaitu: Kekaisaran Ottoman, telah mengijinkan orang-orang Yahudi yang telah tercerai berai dan mengalami hinaan sepenjuru dunia untuk kembali ke Palestina. Sebagian kajian, mengatakan itu merupakan salah satu sikap toleran; sebagai kaum kerabat sejarah (sesama keturunan nabi Ibrahim).

Politik terus berkembang; dan orang-orang yahudi yang merasa tidak puas atas politik diskriminasi di Palestina merencanakan pendirian sebuah negara yahudi yang merdeka. Kemudian sejarah menyebutnya sebagai sebuah pemerintahan Zionis Israel yang didukung banyak pakar politik yahudi di Eropah. Maka; dimulailah sejarah aneksasi tersebut sampai kini. Perlahan-lahan, Pemerintahan Zionis Israel mempeluas wilayah kekuasaannya.

Langkah pertama adalah : Deklarasi Balfour tanggal  2 November 1917.  Menteri Luar Negeri Britania Raya: Arthur Balfour mengirim surat kepada Lord Walter Rothschild, pemimpin komunitas Yahudi Britania. Isinya adalah :

Pemerintahan Sri Baginda memandang positif pendirian di Palestina tanah air untuk orang Yahudi, dan akan menggunakan usaha keras terbaik mereka untuk memudahkan tercapainya tujuan ini, karena jelas dipahami bahwa tidak ada suatupun yang boleh dilakukan yang dapat merugikan hak-hak penduduk dan keagamaan dari komunitas-komunitas non-Yahudi yang ada di Palestina, ataupun hak-hak dan status politis yang dimiliki orang Yahudi di negara-negara lainnya.

Bapak Presiden kita yang pertama; Soekarno; menyadari betul skenario sejarah pendirian pemerintahan zionis Israel, dan konsekuensi-konsekuensi masa depannya. Yaitu ada sekelompok minoritas di Eropah yang telah hidup nyaman merencanakan untuk membuat negara sambil mengisap cerutu di hotel-hotel mewah sepanjang Eropah tanpa perlu merasa ikut berpeluh dan berkeringat; bahkan ikut mati dalam peperangan dan tinggal bersama-sama rakyatnya. Mereka ini sebenarnya para pedagang dan ikut aktif dalam perebutan wilayah di era Kolonialisme dan Imperealisme Eropah selama 300 tahun. Satu-satunya negeri cantik nan eksotik terakhir yang tak mampu direbut para penjajah Eropah adalah Palestina, karena berada dalam pengaruh hebat Dinasti Ottoman. Dan akhirnya Inggris berhasil merebut Palestina dari Kekaisaran Ottoman melalui permainan nan cantik yaitu: melibatkan penduduk local.

Setelah para penduduk local bertempur habis-habisan memukul mundur tentara Ottoman; kekuasaan ternyata diberikan kepada: yahudi yang notabene hanya berkisar 3% dari total penduduk Palestina! Tidak bertempur, kok bisa punya negara? Tolak-tarik hitung-hitung dagangnya berlangsung di tanah Eropa. Dan inilah yang paling dibenci oleh bapak Presiden kita: seorang Pejuang Revolusioner: Soekarno! Mengakui Israel sama saja dengan: mengakui bahwa pengkhianatan itu lumrah! Dan ini luar biasa berbahayanya untuk sejarah pembangunan humanisme negeri-negeri yang baru merdeka yang masih labil dengan masa depan bangsanya.

SHARE ON
close

TOPIK TERPOPULER

PENALAR

PENALAR TERPRODUKTIF

Lana Soelistianingsih, Dr., S.E., M.A.

Ekonom Universitas Indonesia, Kepala Riset/ Ekonom Samuel Aset Manajemen

Mohammad Faisal

Direktur Centre of Reform on Economic (CORE) Indonesia

Ahmad Heri Firdaus

Peneliti Institute for Development of Economics and Finance (INDEF)

FOLLOW US

Pajak lebih Besar untuk Investasi Tidak Produktif             Semua Program Pengentasan Kesenjangan Harus dikaji Ulang             Perkuat Investasi, Industri dan Ikatan Kewilayahan di ASEAN             Perubahan Nomenklatur Tak Efektif dalam Jangka Pendek             Ketergantungan pada Komoditas Dikurangi, Perbanyak Industri Olahan Berbasis Komoditas             Setia Ekspor Komoditas Alam, atau Diversifikasi Ekspor?             Perlu, Optimalisasi Non Tariff Measure (NTM)             Kebijakan NTM akan Bermanfaat, Selama Tidak Berlebihan.             Sesuaikan pilihan jenis NTM dengan karakteristik produk impor             Kebijakan Mandek Terganjal Implementasi, Koordinasi, Eksekusi