BACK TO TOPIC
OPINI PENALAR
Pemerhati Politik
Isu Papua itu Sensitif

Isu papua itu sangat sensitif, baik dalam politik atau skala nasional maupun internasional. Jika kasus penyanderaan itu terjadi di wilayah selain Papua semisal di Jakarta atau kota lain, saya yakin aparat keamanan kita dapat menyelesaikannya dengan singkat. Tapi ini Papua, wilayah yang tak kunjung padam dilanda konflik. Juga bergesekan dengan isu HAM, isu self determination atau separatisme.

Di Jakarta, ada 10 begal yang di “dor” polisi, maka isunya akan selesai pada kisaran kriminalitas semata. Tetapi di Papua, isu kriminal biasa bisa melebar pada isu lain seperti yang saya sebutkan di atas yaitu HAM, separatisme, dan lain sebagainya yang bisa dijadikan propaganda kelompok tertentu dalam politik internasional.

Jadi, bukan karena aparat keamanan belum melakukan tindakan pembebasan sandera atau tidak mampu, melainkan saya lihat aparat keamanan dan pemerintah agak hati-hati dalam kasus ini supaya tidak liar. Mereka nampaknya sengaja melokalisir.

Info yang saya dapat dari Papua, ini memang murni tindakan dari OPM. Kelompok-kelompok yang selama ini dicurigai sebagai “OPM bentukan” yang tujuannya sekadar ekonomi sudah menyingkir dari wilayah konflik. Mereka paham itu bukan konflik mereka. Karena itu saya yakin bahwa pelaku penyerangan dan penembakan di akawasan Tembagapura serta penyanderaan terhadap warga itu dilakukan oleh OPM.

Tetapi karena sekali lagi isu di Papua selalu sensitif, saya paham mengapa polisi menyebut penyandera dengan sebutan KKB, bukan dengan OPM, pemberontak, separatis, atau sejenisnya. Karena penyebutan terhadap mereka itu berkonsekuensi pada siapa penanggungjawab di lapangan. Kalau kelompok kriminal, artinya itu tugas polisi. Tapi kalau OPM atau separatis, itu artinya TNI yang harus di depan.

Persoalannya sekarang, apakah OPM itu benar-benar bergerak berdasarkan strategi politik mereka ataukah ada yang mengendalikan? Itu yang saya belum menemukan jawabannya. Ini aneh karena selain terhadap pendatang, OPM juga melakukan penganiayaan terhadap warga lokal. Video penganiayaan itu malah sengaja diposting di facebook mereka sehingga dapat diakses banyak orang. Ini sangat kontraproduktif terhadap kampanye mereka.

Sehingga wajar kemudian jika muncul asumsi yang melihat ada 'tangan lain' di belakang OPM yang memainkan mereka. Isunya bisa politik maupun sekadar ekonomi. Untuk alasan politik, saya tidak berani mengungkapnya secara gamblang. Konon ada kaitan dengan suksesi politik nasional dari kelompok yang hendak berkontestasi dalam pemilu mendatang. Sementara soal ekonomi, ini memang isu lama perebutan wilayah antara Polri dan TNI. Ada Rp 100 miliae lebih anggaran keamanan dari PTFI yang bisa dikelola.

Kalau memang dugaan itu benar, maka untuk menyelesaikan papua harus dilakukan di dua wilayah. Pertama, wilayah lokal (selesaikan urusan dengan OPM), kedua di tingkat nasional. (ast)

SHARE ON
close

PENALAR

PILIHAN REDAKSI

PENALAR TERPRODUKTIF

Ujang Komarudin, Dr., M.Si.

Pengamat Politik dan Dosen Universitas Al Azhar Indonesia

Christianto Wibisono

Analis Bisnis/ Pendiri Pusat Data Bisnis Indonesia (PDBI)

Dadang Trisasongko

Direktur Eksekutif Tranparency Internasional (TI) Indonesia

FOLLOW US

Rekonsiliasi Politik di Level Elit Diharapkan Terjadi di Level Sosial.              Tak Ada yang Salah dengan Pertemuan Jokowi Prabowo             Perhatikan Lag antara Demand Side dan Regulasi dari Sisi Supply Side             Tantangan yang Harus Dihadapi Masih Besar             Kemiskinan Makin Sedikit, Sulit Dikurangi             Bansos Tak Efektif Kurangi Kemiskinan             UNHCR Harus Keluar             Pembangunan Negara Hukum Harus Jadi Agenda Prioritas             ‘Visi Indonesia’ Tidak Prioritaskan Pembangunan Hukum dan HAM             Perlu Pertimbangan Agar yang Dikurung Memang Pantas Dikurung