BACK TO TOPIC
OPINI PENALAR
Kepala Badan Ekonomi Kreatif / BEKRAF
Internet Bukan Penyebab Ritel Lesu

Sebenarnya, e-Commerce ini pengaruhnya kecil sekali. Mungkin daya beli kelas menengah-bawah yang ada penurunannya. Di segmen kelas menengah-atas tidak terjadi. Hal ini disebabkan, masyarakat saat ini memiliki kecenderungan untuk memilih barang sesuai dengan seleranya, dan lebih tailor made. Jika kita amati, masyarakat sekarang mengalami perubahan selera yang cepat. Dari yang awalnya hanya menginginkan barang A, tiba-tiba menginginkan yang B. Hal itu wajar, mengingat banyaknya referensi yang mereka dapatkan, menyebabkan cepat terjadi perubahan perilaku konsumen. Untuk saat ini, yang bisa mengakomodir perilaku konsumen tersebut, ya, e-Commerce.

Namun juga tidak serta merta menyebut bahwa e-Commerce lah sebagai penyebab terjadinya penurunan di industri ritail kita. Karena, sebenarnya internet ini hanya sekadar sarana penunjang untuk membantu percepatan layanan informasi. Sedangkan penurunan, bahkan penutupan yang sebuah pusat perbelanjaan, itu karena department store tersebut tidak mau mempercantik diri, dan tidak bisa beradaptasi dan mengikuti perubahan selera pasar. Makanya, ditinggalkan konsumen.

Namun dengan sinyalemen yang watyutink.com sebutkan, untuk ukuran mal, mungkin masih belum berlaku. Karena, saat ini masyarakat itu sudah menjadikan mal sebagai gaya hidup, dan parameter ‘kekinian’ mereka. Kecuali, kalau mal tersebut tidak mau berbenah, merenovasi, dan mempercantik diri, ya pasti akan ditinggalkan juga oleh masyarakat.

Kalau kita berbicara fakta, justru beberapa mal mengalami kenaikan selama tahun 2016-2017. Seperti: Gandaria City, +20 persen; Kasablanka Mall, +18 persen; Mall Central Park, +14 persen; Plaza Indonesia, +12 persen; dan Pondok Indah Mall, +9 persen. Meski, juga ada beberapa mal yang mengalami penurunan, seperti: Metro Pasar Baru, -59 persen; Taman Palem Mall, -49 persen; Glodok Plaza, -34 persen; Mangga Dua Mall, -23 persen; dan ITC Roxy Mas, -17 persen.

Artinya, jika kita menyalahkan internet dengan kehadiran e-Commerce nya sebagai biang dari penurunan di industri ritel, itu sangat tidak relevan. Selain itu, jika disebutkan bahwa penurunan daya beli menyebabkan retail mengalami penurunan di semua sektor, itu juga tidak tepat. Saya kira ini hanya kelesuan industri retail saja akibat penurunan daya beli masyarakat. (afd)

SHARE ON
close

TOPIK TERPOPULER

PENALAR

PENALAR TERPRODUKTIF

Lana Soelistianingsih, Dr., S.E., M.A.

Ekonom Universitas Indonesia, Kepala Riset/ Ekonom Samuel Aset Manajemen

Mohammad Faisal

Direktur Centre of Reform on Economic (CORE) Indonesia

Ahmad Heri Firdaus

Peneliti Institute for Development of Economics and Finance (INDEF)

FOLLOW US

Perkuat Investasi, Industri dan Ikatan Kewilayahan di ASEAN             Perubahan Nomenklatur Tak Efektif dalam Jangka Pendek             Ketergantungan pada Komoditas Dikurangi, Perbanyak Industri Olahan Berbasis Komoditas             Setia Ekspor Komoditas Alam, atau Diversifikasi Ekspor?             Perlu, Optimalisasi Non Tariff Measure (NTM)             Kebijakan NTM akan Bermanfaat, Selama Tidak Berlebihan.             Sesuaikan pilihan jenis NTM dengan karakteristik produk impor             Kebijakan Mandek Terganjal Implementasi, Koordinasi, Eksekusi               Pemerintah Sibuk Urusi Poliitk             Tinjau Kembali Struktur Industri Nasional