BACK TO TOPIC
OPINI PENALAR
Pemerhati Migas, Dosen Fak. Teknik Perminyakan UP 45 Yogyakarta, author of “Kapita Selekta Energi Baru Terbarukan”. TA Komisi VII DPR RI.
Insentif Pengembangan Energi Baru Terbarukan (EBT) dan Migas Non Konvensional

Langkah terbaik meningkatkan eksplorasi terkait kritisnya cadangan minyak adalah dengan pemberian insentif bagi KKKS Eksplorasi. Insentif tersebut bisa berupa insentif fiskal seperti pembebasan PPh, PPN, atau pajak lainnya, sehingga tidak memberatkan investor.

Di sisi lain, perizinan eksplorasi harus dipermudah, misalnya dengan sistem satu pintu di Kementerian ESDM. Lebih jauh lagi, pemerintah wajib mendukung kegiatan eksplorasi dengan jalan mensubsidi dana eksplorasi tersebut, tentunya bukan dari dana APBN tapi sumber lain yang sah, seperti Petroleum Fund yang saat ini sedang dibahas untuk dimasukkan dalam RUU Migas. Harapannya, jika semua insentif tersebut diberikan, investor akan lebih semangat untuk melakukan eksplorasi sehingga cadangan yang baru bisa ditemukan.

Termasuk yang harus diekplorasi besar-besaran adalah minyak dan gas non-konvensional, seperti Coal Bed Methane (CBM) & Shale Oil/Gas yang potensinya sangat melimpah di Indonesia. Jika pemerintah serius memberikan insentif untuk pengembangan ini, bukan tidak mungkin produksi migas non-konvensional akan mengalahkan migas konvensional, seperti yang terjadi di Amerika Serikat dan beberapa negara lainnya.

Selain itu, pengembangan Energi Baru Terbarukan (EBT) mutlak tetap harus dilakukan karena kita tidak bisa terus tergantung pada energi fosil yang memang sangat terbatas. Potensi EBT Indonesia sangat luar biasa, mulai dari energi surya, air, angin, panas bumi, biofuel, bahkan energi dari sampah (waste to energy). Dan pengembangan EBT akan lebih intensif jika mendapat support pendanaan yang cukup besar, misalnya dari Petroleum Fund tersebut.

Kemungkinan macetnya eksplorasi blok migas baru karena klik kepentingan, itu sangat mungkin, tapi bukan yang utama. Justru adanya pemberantasan korupsi akan membuat semua pihak lebih hati-hati dalam melangkah, termasuk melakukan kegiatan eksplorasi. Akan tetapi upaya ini memang mutlak perlu dilakukan agar dunia migas kita lebih bersih, dan suatu saat nanti pasti akan bangkit jika upaya memerangi korupsi berhasil. Tetapi jika penemuan blok cadangan migas baru tersendat, dapat mengakibatkan produksi tidak akan meningkat dan impor minyak akan semakin besar. Tentunya ini akan berdampak pada ketergantungan kita pada negara lain, sehingga kedaulatan dan kemandirian energi tidak akan tercapai.

Upaya meningkatkan iklim bisnis migas yang kondusif, kuncinya pada kegiatan eksplorasi yang bisa meningkat jika ada insentif dari pemerintah. Harus ada pula kesadaran untuk tidak mempersulit perizinan, termasuk memperkecil peluang terjadinya korupsi, sehingga investor akan lebih mudah dalam melakukan bisnis hulu migas yang memiliki risiko cukup besar. Harapannya jika iklim tersebut bisa membaik, maka cadangan migas kita akan bertambah dan secara otomatis akan meningkatkan produksi dan menciptakan kemandirian energi di Indonesia. (pso)

SHARE ON
close

TOPIK TERPOPULER

PENALAR

PENALAR TERPRODUKTIF

Lana Soelistianingsih, Dr., S.E., M.A.

Ekonom Universitas Indonesia, Kepala Riset/ Ekonom Samuel Aset Manajemen

Mohammad Faisal

Direktur Centre of Reform on Economic (CORE) Indonesia

Ahmad Heri Firdaus

Peneliti Institute for Development of Economics and Finance (INDEF)

FOLLOW US

Perkuat Investasi, Industri dan Ikatan Kewilayahan di ASEAN             Perubahan Nomenklatur Tak Efektif dalam Jangka Pendek             Ketergantungan pada Komoditas Dikurangi, Perbanyak Industri Olahan Berbasis Komoditas             Setia Ekspor Komoditas Alam, atau Diversifikasi Ekspor?             Perlu, Optimalisasi Non Tariff Measure (NTM)             Kebijakan NTM akan Bermanfaat, Selama Tidak Berlebihan.             Sesuaikan pilihan jenis NTM dengan karakteristik produk impor             Kebijakan Mandek Terganjal Implementasi, Koordinasi, Eksekusi               Pemerintah Sibuk Urusi Poliitk             Tinjau Kembali Struktur Industri Nasional