BACK TO TOPIC
OPINI PENALAR
Direktur Centre of Reform on Economic (CORE) Indonesia
Inflasi Karena Barang Impor Sampai ke Desa

Kalau saya lihat itu not necessarily karena industri yang penetrasi ke desa. Saya melihatnya wajar saja karena mestinya kota dan desa itu saling sinergi. Bahan-bahan pangan dari desa semestinya memang dijual ke perkotaan dan barang-barang hasil industri manufaktur itu seharusnya memang lebih banyak dijual di kota. Masalahnya sekarang barang industri juga beredar masif di pedesaan.

Ada beberapa penyebab, pertama, idealnya inflasi di desa itu rendah khususnya untuk bahan pangan.Tapi kalau inflasi bahan pangannya tinggi berarti para penduduknya lebih banyak membeli bahan pangan dari luar dari pada memproduksi sendiri.

Hal itu memang harus diteliti karena bahan pangan tidak mungkin diproduksi dari kota, berarti ada kemungkinan masuk dari luar negeri. Jadi kemungkinan dari barang impor yang masuk melalui pelabuhan ke kota, lalu mendistribusikan barang impor itu ke desa-desa. Itu yang membuat barang impor dari luar begitu sampai ke pedesaan harganya lebih mahal, karena adanya rantai perjalanan yang panjang sehingga butuh biaya distribusi yang barangkali tinggi. Harganya otomatis akan lebih mahal begitu sampai di pedesaan. Itu salah satu penyebab penting menurut saya. 

Jadi apa yang diproduksi desa itu semakin lama semakin berkurang baik dari sisi jumlah maupun macamnya. Semestinya desa bukan hanya bisa menghasilkan beras saja. Ada palawija dan sayur mayur. Artinya sudah semakin banyak dari sisi jumlah dan dari sisi jenisnya, barang-barang itu dipasok dari impor. Bukan hanya impor beras tapi juga yang lain-lain. Itu juga yang membuat kita melihat impor barang konsumsi termasuk bahan pangan meningkat pesat termasuk di tahun ini.

Kalau hal itu berlangsung terus menerus bisa membuat pertanian pedesaan menjadi tidak kondusif makanya kemudian terjadi alihfungsi lahan pertanian. Itu yang membuat petani jadi malas karena dihadapkan pada persaingan dengan barang impor di pasar yang memang lebih efisien. Karena barang impor itu dari negara asalnya mendapat dukungan luar biasa dari pemerintahnya, antara lain mungkin mendapat subsidi, lalu mekanisasi dan sebagainya. Sementara petani kita di desa hanya punya lahan yang kecil-kecil. Skala ekonominya juga kecil, jadi bagaimana mereka bisa menghasil sesuatu yang berdaya jual kalau tidak mendapatkan dukungan dari pemerintah.

Harusnya petani kita memang mendapatkan dukungan pemerintah dari berbagai sisi. Dari sisi benih, pupuk, kepastian pembelian yang juga penting dari pemerintah. Karena ada keluhan juga dari petani kalau dia memproduksi sesuatu maka seringkali harga produknya berada di bawah harga pasar.

Itu yang menyebabkan petani kita makin lama semakin tidak berdaya saing. Produksi petani jadi semakin sedikit dan akhirnya desa menjadi semakin tergantung untuk bahan pangan dan barang kebutuhan yang lain dari luar desa yakni dari kota, dan sebagiannya dari impor.

Dampak berikutnya memang akhirnya banyak petani kita yang alih profesi ke kota. Atau paling tidak paruh waktu diluar musim panen setelah musim tanam, maka dia akan ke kota untuk mencari pekerjaan, menjadi kuli bangunan dan sebagainya.

Karena memang betul dari sisi penghasilan NTP nya itu rendah. Tapi NTP nya bukan hanya dari tanaman perkebunan. Itu memang satu-satunya yang NTP nya di bawah 100. Tapi dari NTP tanaman pangan lainnya walaupun dia di atas 100 tapi angka indeks nya sangat tipis sekali, misalnya 102. Jadi walau di atas 100 tapi sangat tipis. Jadi kalau demikian halnya maka petani tetap saja tidak sejahtera. Itu satu hal yang patut menjadi catatan juga.

Jadi NTP petani itu walau di atas 100 tapi selama ini tidak ada perbaikan(stagnan). Kadang angka indeks nya naik tapi kemudian turun lagi. Itulah yang membuat petani menjadi enggan atau sukar untuk bertahan di pertanian. Apalagi pada generasi petani yang lebih muda. 

Reformasi agraria memang menjadi kunci tapi butuh political will yang kuat karena itu masalah lahan. Jadi sejauh mana kekuatan pemerintah untuk bisa menjalankan agenda tersebut karena tantangannya sangat besar. Tapi kalaupun tidak at least ada dari berbagai insentif yang diberikan pemerintah dan juga dukungan untuk menciptakan tata kelola dan tata niaga pangan yang harus baik. Juga kepastian pembelian yang menguntungkan bagi petani. (pso)

SHARE ON
close

PENALAR

PENALAR TERPRODUKTIF

Abdillah Ahsan, Dr., S.E, M.S.E.

Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas indonesia, Peneliti Lembaga Demografi FEB UI