BACK TO TOPIC
OPINI PENALAR
Peneliti Institute for Development of Economics and Finance (INDEF)
Industri Manufaktur Memperkokoh Internal Perekonomian

Kondisi kurs rupiah terhadap dollar AS sejak pertengahan April hingga pertengahan Mei 2019 menunjukkan pelemahan dari level di kisaran Rp14000 per dolar AS menjadi mendekati angka Rp14500 per dolar AS.

Pelemahan ini diikuti IHSG yang turun cukup dalam sejak pertengahan April hingga pertengahan Mei 2019 dari level di seputar angka 6400 yang kini anjlok mendekati angka 5800. Nilai Rupiah dan IHSG tersebut mencerminkan akibat dari kejadian ekonomi yang berkembang hangat belakangan. Beberapa kejadian tersebut merupakan kombinasi dari faktor nasional dan global yang berjalan beriringan sebulan terakhir.

Dari faktor nasional, pertama adalah rilis BPS mengenai pertumbuhan ekonomi Indonesia kuartal 1-2019 menghasilkan angka sebesar 5,07 persen, jauh dari target pertumbuhan ekonomi yang dicanangkan pemerintah pada 2019 sebesar 5,3 persen. Kedua, rilis BPS mengenai kondisi neraca perdagangan Indonesia bulan April 2019 sebagai defisit terburuk, yakni defisit sebanyak 2,5 miliar dolar AS.

Dari faktor global, kembali menguatnya perang dagang antara dua kekuatan ekonomi besar dunia, yakni Amerika Serikat dan China, menyebabkan negara-negara berkembang mengalami gonjang-ganjing perekonomian sebagaimana Indonesia mengalaminya selama satu bulan ke belakang.

Pertumbuhan ekonomi global yang masih melambat, khususnya pada negara-negara tujuan utama ekspor Indonesia, juga masih menjadi salah satu faktor karena negara-negara tersebut mengurangi permintaan, termasuk permintaan barang dari Indonesia.

Dari faktor internal dan eksternal tersebut, aspek internal yang patut dijadikan sarana introspeksi karena hal tersebut merupakan faktor-faktor yang dapat dikendalikan dan dibenahi kedepannya. Pertumbuhan ekonomi yang meleset dari target dan defisit terburuk neraca perdagangan April 2019 berakar dari, salah satunya, deindustrialisasi dini yang terjadi di Indonesia. Pembangunan industri manufaktur merupakan hal yang paling utama yang harus dikerjakan oleh Presiden terpilih periode 2019-2024.

Industri manufaktur sebagai sektor yang menyerap tenaga kerja terbesar dapat mendorong konsumsi masyarakat sehingga mampu menggenjot pertumbuhan ekonomi.

Selain itu, industri manufaktur, khususnya yang menjadi keunggulan komparatif Indonesia, bisa memberikan nilai tambah yang optimal bagi komoditas-komoditas unggulan sehingga tidak mengekspor bahan mentah begitu saja. Dengan begitu, dapat pula meningkatkan ekspor sehingga mampu menekan defisit neraca perdagangan dan transaksi berjalan Indonesia.

Dengan telah masifnya pembangunan infrastruktur beberapa tahun terakhir, perbaikan reformasi birokrasi yang terus dilaksanakan, menekan korupsi dari tingkat pusat maupun daerah sebagai 3 faktor utama penghambat kemajuan bisnis dan industri Indonesia selama ini, idealnya industri manufaktur dalam waktu 5 tahun mendatang dapat meningkat karena ketiga faktor penghambat bisnis tersebut perlahan-lahan terus dibenahi selama ini.

Dengan terus memperbaiki ketiga faktor tersebut, diiringi dengan political will dari pemerintah untuk mendorong industri manufaktur melalui pemberian insentif kebijakan yang berpihak kepada industri dalam negeri, sesungguhnya kita optimis perekonomian Indonesia di masa yang akan datang tidak lagi mengalami gonjang-ganjing karena faktor-faktor eksternal. (pso)

SHARE ON
close

PENALAR

PENALAR TERPRODUKTIF

Ujang Komarudin, Dr., M.Si.

Pengamat Politik dan Dosen Universitas Al Azhar Indonesia

Zaman Zaini, Dr., M.Si.

Dosen pascasarjana Institut STIAMI, Direktur Sosial Ilmu Politik CPPS (Center for Public Policy Studies), Staf Khusus Bupati MURATARA Sumsel

YB. Suhartoko, Dr., SE., ME

Dosen Program Studi Ekonomi Pembangunan, Keuangan dan Perbankan Unika Atma Jaya Jakarta

FOLLOW US

Pemerintah Daerah Harus Berada di Garda Terdepan             Tegakkan Aturan Jarak Pendirian Ritel Modern dengan Usaha Kecil Rakyat             Konsep Sudah Benar, Implementasinya Gagal             Tugas Terbesar Negara, Mencerdaskan Bangsa!             Indonesia Butuh Terobosan-terobosan Progresif Bidang SDM             Penekanan pada Memobilisasi Kapasitas Modal Manusia Lokal Secara Otentik             Meritokrasi vs Kabilisme             Kendalikan Harga Pangan untuk Menekan Inflasi             Utang Semakin Besar, Kemampuan Membiayai Pembangunan Berkurang             Perhatikan Belanja Non K/L yang Semakin Membesar