BACK TO TOPIC
OPINI PENALAR
Industri Harus Digenjot

Kalau kita lihat tren current account defisit  (CAD) dan defisit APBN. Untuk defisit APBN sendiri suatu hal yang tidak bisa dihindari karena ditujukan memberi stimulus perekonomian.

Yang bisa diintervensi itu, kalau kita melihat defisit di CAD tadi. Masalahnya pada tidak kuatnya basis industri kita. Ekspor kita masih mengandalkan komoditas. Nilainya masih sangat volutal di jangka panjang dan tidak bisa terlalu diandalkan.

Dari neraca perdagangan, beberapa kali kita surplus tapi lebih banyak defisit. Tren defisit CAD mulai kita alami sejak 2012, dampaknya pada 2013 kita mengalami tekanan dari sisi nilai tukar sehingga pada 2013-2014 kita mengalami depresiasi yang cukup signifikan dipicu melemahnya kinerja ekspor.

Ke depan, produk yang minim nilai tambah tidak lagi bisa diandalkan. Industri harus digenjot. Masalahnya, dari sisi industri kontribusi sektor manufaktur terhadap PDB terus turun. Pada 2001 masih 29 persen sekarang tinggal 20 persen. Strategi industrialisasi signifikan amat dibutuhkan. Semuanya berpangkal pada keterbatasan infrastruktur. Infrastruktur penopang industri dan penopang ekspor. Ketepatan antisipasi pemerintah diperlukan untuk atasi dampak jangka pendek volatilitas nilai tukar yang kecenderungannya terus terdepresiasi.

Sebenarnya fenomena nilai tukar ini bukan semata-mata pada fenomena moneter, tapi juga dipicu oleh fenomena di sektor riil yakni melemahnya sisi industri tadi.

Agak sulit bicara reorientasi anggaran defisit. Perspektif di seluruh dunia, bicara anggaran memang cenderung defisit. Karena pemerintah butuh spending lebih banyak untuk menstimulasi perekonomian. Yang bisa dilakukan, menjaga defisit anggaran APBN berada pada rentang yang bisa ditoleransi. Dalam UU No 17/2003, defisit dijaga maksimal 3 persen PDB, dan itu masih dalam rentang aman sampai sekarang. Masih di kisaran 2,3 sampai 2,5 persen. Perlu juga fokus membiayai pembangunan dengan melaksanakan  reformasi pajak. Sehingga basis-basis pajak juga bisa meningkat dan tax rasio nya naik signifikan, aman dan sehat.

Kita masih jauh dari krisis seperti Yunani dan Portugal. Indikator-indikator yang kita miliki masih jauh lebih baik. Debt to GDP ratio kita masih cukup rendah. Inflasi, defisit APBN semua masih terkendali. Di Yunani dan Portugal, indikator-indikator mereka sudah pada level berbahaya dan melampaui batas. Inflasi juga berlebihan sehingga terjadi krisis.

Ihwal capital outflow, kita memang masih tertekan. Suku bunga internasional memiliki ekspektasi yang meningkat, sehingga memicu terjadinya capital outflow. Tapi saya rasa itu masih dalam tahap wajar. Dari sisi depresiasi sendiri masih wajar. IHSG masih sekitar 5 persen turunnya. Dibandingkan Argentina, Brazilia dan negara-negara Amerika Latin, kita masih wajar.

Ke depan untuk memperbaiki CAD, infrastruktur masih harus terus dilanjutkan, karena infrastruktur inilah salah satu faktor yang bisa mendorong industri. Sehingga kontribusi industri terhadap PDB kita bisa meningkat. Tidak bisa hanya mengandalkan komoditas yang minim nilai tambah, dan kita bisa masuk dan berpartisipasi dalam global solution dan production network, dengan Jepang dan pabrikan besar dunia. Kita kehilangan momen itu. Jadi solusinya lebih ke jangka menengah dan jangka panjang.

Berbicara CAD, ada 3 hal dibenahi: pertama Infrastruktur, kedua, SDM. Infrastrutur dan SDM penting untuk laju industrialisasi, jangan sampai infrastruktur sudah dibuat tapi SDM nya tidak tanggap. Dibutuhkan juga peningkatan kapasitas SDM. Infrastruktur dan SDM tidak hanya bicara penguatan sisi ekspor manufacturing, tapi juga penguatan sisi tourism. Hal itu bisa menopang current account balance. Any kind of tourism. Hal itu yang juga bisa digenjot sehingga bisa menekan laju dari current account defisit (CAD) tadi.

Yang ketiga dan tidak kalah penting adalah kualitas institusi. Institusi ini bisa kita lihat dalam ukurannya ada regulatory quality (kualitas regulasi) dan efektifitas pemerintahan. Selama ini indeks nya belum terlalu baik. Hubungan lintas sektoral  kementerian dan Bank Indonesia koordinasinya masih harus ditingkatkan lagi. Sehingga kebijakan-kebijakan itu bisa efektif di lapangan. Keberadaan satgas-satgas yang mengawal implementasi 16 paket deregulasi juga masih perlu ditingkatkan efektivitasnya. (pso)

 

 

 

 

 

SHARE ON
close

PENALAR

PENALAR TERPRODUKTIF

Christianto Wibisono

Analis Bisnis/ Pendiri Pusat Data Bisnis Indonesia (PDBI)

Didin S. Damanhuri, Prof., Dr., SE., MS., DEA

Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Manajemen (FEM) IPB

Riza Annisa Pujarama

Peneliti Institute for Development of Economics and Finance (INDEF)

FOLLOW US

Presiden sedang Menggali Kuburnya Sendiri             Duet Tango DPR & KPK             Utamakan Tafsir Moral ketimbang Tafsir Hukum dan Ekonomi             Langkah Menkeu Sudah Benar dan Fokuskan pada SKM 1             Industri Rokok Harus Tumbuh atau Dibiarkan Melandai             Perizinan Teknis Masih Kewenangan Daerah             Kiat Khusus Pangkas Birokrasi Perizinan di Indonesia             Politik Etika vs Politik Ekstasi              Kebutuhan Utama : Perbaiki Partai Politik             Pengaruh High Class Economy dalam Demokrasi di Indonesia (Bagian-1)