BACK TO TOPIC
OPINI PENALAR
Peneliti INDEF
Induk Holding, Pilih BUMN yang Berkinerja Baik

Pada dasarnya pembentukan holding company BUMN adalah untuk lebih mengefisienkan operasional BUMN yang akan di-holding. Selain itu, manajemen dari BUMN yang di-holding akan mampu dimanfaatkan secara optimal. Akan ada share support antar BUMN tersebut seperti share biaya operasional, human capital, dan informasi yang didapatkan akan lebih selaras.

Jadi memang pada dasarnya tujuan dasar pembentukan holding BUMN patut didukung untuk menjadikan BUMN Indonesia mampu bersaing di tataran global.

Setelah membentuk beberapa perusahaan holding BUMN, kali ini pemerintah sudah yakin akan menggabung beberapa BUMN dalam satu holding BUMN Minyak dan Gas (Migas). Holding ini terdiri dari PT Pertamina sebagai induk dan PT Perusahaan Gas Negara (PGN). Proses ini juga akan memindah PT Pertagas (anak perusahaan PT Pertamina) menjadi anak perusahaan PT PGN. Proses ini sudah memasuki babak akhir.

Proses holding BUMN Migas ini terkait dengan masalah harga gas yang menjadi salah satu kendala terbesar dalam upaya pemerintah untuk mengefisienkan sektor industri.

Fakta ini didasarkan pada komponen harga gas merupakan salah satu komponen struktur biaya industri. Harga gas di Indonesia saat ini jauh lebih mahal daripada harga gas di negara-negara ASEAN lainnya (Awal tahun 2017). Hingga saat ini rata-rata harga gas untuk industri menyentuh level 9 hingga 10 dollar AS per Million Metric British Thermal Unit (MMbtu). Sedangkan di Singapura hanya 4-5 dolar AS per MMbtu, Malaysia 4,47 dolar AS, dan Vietnam sekitar 7,5 dolar AS.

Harga di Indonesia tersebut sebenarnya sudah lebih rendah jika dibandingkan dengan adanya komitmen pemerintah Indonesia untuk menurunkan harga gas. Sebelumnya harga gas di Indonesia mencapai level harga 13 dolar AS per MMbtu. Walaupun turun tapi tetap belum mampu untuk meningkatkan daya saing.

Strategi holding ini memang dipandang sebagai salah satu jalan keluar menurunkan harga gas. Ada tiga alasan yang mendukung hal tersebut. Pertama, strategi holding akan membuat penguasaan aset untuk industri gas jauh lebih besar dan lebih kuat. Kedua, biaya operasional organisasi perusahaan jadi lebih rendah sehingga mampu untuk mengurangi margin perusahaan. Ketiga, penambahan modal perusahaan relatif lebih mudah.

Dengan adanya penambahan aset dan perbaikan organisasi perusahaan, perusahaan pembiayaan akan lebih percaya dalam memberikan pendanaan. Manfaatnya adalah capital market akan lebih cepat tumbuh. Hal ini yang tidak didapatkan oleh Badan Usaha Khusus Migas (BUK Migas) yang digagas oleh DPR. Pada bentuk perusahaan, BUMN lebih leluasa dalam mengelola operasionalnya dibandingkan dengan BUK Migas.

Namun di balik manfaat tersebut, tentu ada hal-hal yang harus diperhatikan oleh Kementerian BUMN sebagai penggagas dan penanggung jawab proses pembentukan holding BUMN ini. Salah satunya seperti yang sudah pernah saya jelaskan di artikel http://watyutink.com/opini/jangan-salah-pilih-perusahaan-induk-holding-bumn beberapa bulan lalu.

BUMN yang dipilih sebagai induk holding haruslah BUMN yang mempunyai kompetensi dalam pengelolaan perusahaan yang lebih baik daripada BUMN yang dibawahinya. Dalam hal ini pemilihan PT Pertamina sebagai induk holding apakah lebih baik daripada PT PGN sebagai BUMN di bawah PT Pertamina.

Kinerja keuangan dan operasional BUMN induk holding harus dijadikan salah satu tolak ukur penunjukan induk holding. BUMN yang sudah menghasilkan keuntungan dan manfaat tinggi dengan produksi yang efisien harus terus dijaga kinerjanya. Jangan sampai dengan adanya beban mendongkrak induk holding malah membuat BUMN yang sudah bagus secara kinerja keuangan dan operasional menjadi lebih buruk dari sebelum menjadi BUMN holding.

Pembentukan holding BUMN harus dapat menghindari kesalahan yang terjadi pada holding BUMN yang sudah terbentuk yaitu BUMN Semen dan BUMN Perkebunan. BUMN Semen pun belum menunjukkan kinerja yang memadai dari segi produksi. Ada ekspansi ke luar negeri, namun di dalam negeri sendiri kinerjanya tidak begitu terjamin.

Demikian pula dengan holding BUMN Perkebunan yang belum menunjukkan perubahan yang berarti, salah satunya masih kalah dengan sektor swasta. Maka pembentukan Holding BUMN kali ini harus mempertimbangkan beberapa faktor termasuk faktor internal BUMN. (pso)

SHARE ON
close

PENALAR

PENALAR TERPRODUKTIF