BACK TO TOPIC
OPINI PENALAR
Guru Besar, Spesialis Bisnis Internasional, Ahli dalam Bisnis, Pemasaran, Pendidikan, Organisasi dan Manajemen
Indonesia Perlu Satrio Piningit

Kebijakan ekonomi politik yang berkolaborasi dengan modal asing telah berlangsung secara paripurna sejak tiga orang menteri senior diutus Suharto di awal Orde Baru, untuk bertemu dengan wakil-wakil perusahaan multinational di Eropa melakukan pembagian wilayah eksploitasi masing-masing terhadap sumber daya alam Indonesia, demi sebesar-besarnya keuntungan bisnis mereka.

Sebagai pendatang dari luar, mereka berprilaku kongruen dengan perilaku penjajah Belanda selama ratusan tahun sebelumnya di Hindia Belanda dengan cara mengeruk habis sumber daya alam Indonesia.

Apakah kondisi ini dapat diperbaiki? Saya adalah seorang yang optimistik sehingga jawab saya tentu bisa oleh karena sumber daya alam itu kita perlukan untuk membangun negara kita. Tetapi kita memerlukan seorang "Satrio Piningit" yang mampu berjuang dan bertekad bulat untuk melakukan apa yang Bung Karno selalu katakan: Umwertung aller Werte. Satrio Piningit yang berani berjuang habis-habisan macam tokoh besar Hugo Chavez dulu di Venezuela. Tentu mesti berani menghadapi tekanan politik dan peradilan international berupa tuntutan para pemodal asing yang dirugikan.

Salah satu kritik besar terhadap Foreign Direct Investment seperti misalnya Freeport adalah berkurangnya sovereignty atau kedaulatan negara yang seolah-olah lemah lunglai tanpa daya menghadapi modal asing international. Ada banyak kepustakaan mengenai fenomena ke tidak berdayaan negara. Salah satu yang baik adalah karangan JK Johannson tentang Global Marketing Management terbitan dari McGraw-Hill.

Seperti saya sampaikan di atas, intervensi kekuatan modal asing telah berlangsung pada awal pemerintah Orde Baru berupa pelembagaan bantuan asing dalam koordinasi IGGI lalu kemudian CGI.

Gagasan apa yang dapat diajukan agar cara pandang negara bangsa kembali kepada identitas bangsa yang berdaulat secara ekonomi dan politik?

Banyak sekali gagasan yang bisa dan barangkali sudah sering diajukan. Namun masih diperlukan munculnya Satrio Piningit. Lalu apakah ada kebulatan tekad dan dukungan kuat dari segenap bangsa Indonesia guna mengembalikan roda pembangunan bagi "sebesar-besarnya kepentingan rakyat?". Kita tahu selalu akan ada bagian bangsa yang memilih ikut pemodal asing international asal bisa hidup senang. (pso)

SHARE ON
close

PENALAR

PILIHAN REDAKSI

PENALAR TERPRODUKTIF

Ujang Komarudin, Dr., M.Si.

Pengamat Politik dan Dosen Universitas Al Azhar Indonesia

Christianto Wibisono

Analis Bisnis/ Pendiri Pusat Data Bisnis Indonesia (PDBI)

Dadang Trisasongko

Direktur Eksekutif Tranparency Internasional (TI) Indonesia

FOLLOW US

Rekonsiliasi Politik di Level Elit Diharapkan Terjadi di Level Sosial.              Tak Ada yang Salah dengan Pertemuan Jokowi Prabowo             Perhatikan Lag antara Demand Side dan Regulasi dari Sisi Supply Side             Tantangan yang Harus Dihadapi Masih Besar             Kemiskinan Makin Sedikit, Sulit Dikurangi             Bansos Tak Efektif Kurangi Kemiskinan             UNHCR Harus Keluar             Pembangunan Negara Hukum Harus Jadi Agenda Prioritas             ‘Visi Indonesia’ Tidak Prioritaskan Pembangunan Hukum dan HAM             Perlu Pertimbangan Agar yang Dikurung Memang Pantas Dikurung