BACK TO TOPIC
OPINI PENALAR
Ekonom Universitas Indonesia, Kepala Riset/ Ekonom Samuel Aset Manajemen
Indonesia Masih Menarik Sebagai Negara Tujuan Investasi

Pertama, kalau melihat data di BKPM kemarin khususnya PMA memang ada penurunan. Tapi dari penurunan itu barangkali juga faktor dari sektor yang banyak diminati investor asing adalah pada sektor sumber daya alam (SDA). Sektor SDA, yang kebetulan harganya juga tidak menarik dalam beberapa tahun terakhir. Sehingga bagi investor yang menjadikan harga sebagai faktor utama dalam pengambilan keputusan investasi, pasti ada “delay” atau pembatalan.

Kalau kita lihat data BKPM tentang investor asing di sektor SDA--termasuk semua pertambangan lain--mencapai sekitar 18 persen. Jadi kalau ada penurunan investasi asing bisa jadi diantaranya dari sektor SDA.

EoDB Indonesia memang ada penurunan dari sebelumnya, yakni dari peringkat 72 ke 73. Tapi kalau dilihat dari komponen-komponen EoDB yang ada sebetulnya banyak yang naik daripada yang turun. Hanya saja memang ada negara yang mengalami lompatan lebih tinggi dari Indonesia sehingga akhirnya secara total kita menjadi turun. Padahal sebetulnya secara per item Indonesia mengalami perbaikan. Ada beberapa item penilaian dalam EoDB semisal perizinan, electricity, perpajakan dan lainnya Indonesia mengalami kenaikan. Sayangnya perbaikan itu memang kurang disosialisasikan.

Ihwal kendala adanya pungli dan lain-lain, diakui itu memang masih menjadi masalah. Dulu ada faktor tumpang tindih kebijakan pusat dan daerah yang per tahun kemarin sudah coba diperbaiki dengan adanya OSS (online single submission). Hal itu memang belum terlihat hasilnya. Tetapi sudah diupayakan ke arah sana. Walaupun memang ada kelemahan pengawasan terhadap pungli dan semacamnya. Hal Itu masih jadi kendala karena salah satu faktor yaitu korupsi, memang masih tinggi. Investor luar negeri kalau tidak paham tentang Indonesia, pasti menjadi hal yang memusingkan.

Investor asing memang perlu mengadakan riset sendiri karena mereka membawa uang yang hendak diinvestasikan di Indonesia, hal mana sekali masuk harus jangka panjang.  Tidak seperti hot money portofolio yang “datang pagi pulang sore”. Kalau investor FDI, boleh jadi dia akan datang hari ini dan baru balik sekitar 10 tahun lagi. Tentu perhitugannya lebih matang dibandingkan portofolio.

Jadi memang meski kendala di lapangan memang masih cukup besar, tapi sebenarnya secara sistem sudah terus diupayakan diperbaiki.  Pemerintah sebenarnya harus terus menerus mengupayakan agar iklim usaha mengalami perbaikan.

Kalau kita bandingkan dengan negara-negara lain, Indonesia sebetulnya masih menjadi negara yang diminati. Atau masih menjadi negara tujuan investasi. Di JBIC (Japan Bank International Corp.), setiap tahun melakukan survei atas perusahaan-perusahaan Jepang yang ada di Asia. Yang diteliti adalah negara mana yang paling disukai untuk investasi. Terdapat jawaban, nomor 1 adalah negara China, dan nomor 2 itu berganti-ganti antara Indonesia dan India. Kalau Vietnam, mereka masih belum melihat sebagai pesaing Indonesia walaupun kita selalu bilang ada Vietnam yang terus membuntuti Indonesia, atau malah mengungguli Indonesia. EoDB Vietnam memang lebih tinggi dari Indonesia, tapi untuk perusahaan Jepang yang relatif lebih lama mengerti tentang Indonesia, pengusaha Jepang masih melihat Indonesia sangat menarik.

Profitabilita (tingkat keuntungan) yang menjadi nomor 2 setelah China membuat Jepang--dengan segala kendala yang ada di Indonesia--tetap menjadikan Indonesia sebagai negara tujuan investasi utama.

Masalahnya adalah how to deal dengan local culture di Indonesia.

Bagi mereka yang paham dengan tingkat profitabilitas yang tinggi di Indonesia, pasti perhitungan biaya-biaya tidak resmi seperti pungli dan lain-lain masih bisa diupayakan tertutupi oleh tingkat keuntungan.

Jika ada satu atau dua perusahaan asing yang tidak terlalu paham tentang Indonesia, dan kemudian akhirnya menyerah batal masuk, itu pasti karena tidak paham dengan kondisi lokal. Tapi kalau bicara investor tradisional yang ada seperti Jepang, Singapura, dan Korea Selatan yang paham tentang Indonesia, tentu tidak menjadi masalah. Buat pengusaha, selama profit masih tinggi jelas tidak menjadi persoalan. (pso)

SHARE ON
close

PENALAR

PENALAR TERPRODUKTIF