BACK TO TOPIC
OPINI PENALAR
Peneliti Institute for Development of Economics and Finance (INDEF)
Indonesia Masih Kurang Agresif dalam Penetrasi Pasar Ekspor

Perlambatan ekspor dan defisit neraca perdagangan menjadi isu penting yang perlu segera disikapi secara serius.

Dalam konteks pertumbuhan ekonomi, ekspor Indonesia hingga saat ini belum mampu memberikan kontribusi yang optimal untuk perekonomian. Hal ini terlihat dari kontribusi ekspor Indonesia terhadap PDB yang masih relatif kecil (20,19 persen) dan cenderung mengalami penurunan.

Sementara, negara-negara lain di ASEAN seperti Malaysia, Thailand dan Vietnam menunjukkan hal sebaliknya. Ekspor Malaysia berkontribusi sebesar 71 persen terhadap PDB nya, sementara ekspor Vietnam memberikan kontribusi 101,6 persen terhadap PDB nya. Artinya ekspor Vietnam lebih besar dari PDB nya.

Jika melihat peranan Indonesia dalam percaturan ekspor dunia pun masih terlihat rendah. Peringkat ekspor Indonesia di dunia hanya menempati posisi 29, dengan pangsa hanya 0,9 persen terhadap total ekspor dunia. Sementara China menempati posisi tertinggi dengan kontriusi sebesar 13 persen terhadap total ekspor dunia.

Di ASEAN, Indonesia masih tertinggal dengan Singapura, Vietnam, Thailand dan Malaysia. Pangsa ekspor Indonesia di dunia juga terlihat stagnan di kisaran 0,9 persen. Sementara pangsa ekspor Vietnam di dunia terlihat mengalami peningkatan dari 0,8 persen di 2014 menjadi 1,4 persen di 2018.

Setelah pada 2018 lalu Indonesia mencatatkan defisit neraca perdagangan terbesar sepanjang sejarah (-8,57 miliar dolar AS), sepertinya pada 2019 ini belum banyak mengalami perubahan, setelah pada Januari – April 2019 Indonesia masih mengalami defisit sebesar 2,56 miliar dolar AS.

Pembahasan selanjutnya adalah, apa penyebab sulitnya ekspor Indonesia terakselerasi dan berkontribusi lebih besar terhadap PDB?

Pertama, Negara tujuan ekspor Indonesia masih relatif terbatas pada beberapa negara traditional ekspor. Hal ini karena kurang agresifnya Indonesia dalam melakukan penetrasi pasar ekspor.

Kedua, Keputusan Indonesia dalam melakukan FTA dengan beberapa negara/regional tidak didahului persiapan dan strategi yang optimal.

Ada beberapa FTA yang akan diimplementasikan, sejauh apa persiapan yang telah dilakukan?

Ketiga, Ketergantungan ekspor Indonesia pada komoditas, yang rentan terhadap gejolak perubahan harga

Keempat, Kurangnya daya dukung untuk menciptakan produk ekspor yang bernilai tambah tinggi dan berdaya saing di pasar global, dan tentu masih terdapat penyebab lainnya selain pon 1-4.

Pelemahan ekspor dan membengkaknya defisit neraca perdagangan perlu segera disiasati dengan berbagai bauran kebijakan, beberapa strategi jangka pendek diantaranya:

Pertama, FTA jangan hanya diarahkan ke Negara maju tapi lebih penting ke Negara-Negara berkembang dan low-income yang prospek bagi pasar barang Indonesia (karena negara berkembang juga relatif minim Non Tariff Measures). Sebagai contoh FTA di Kawasan Afrika terlambat diinisiasi, sehingga produk Indonesia kurang bisa bersaing. Beberapa Negara Afrika menerapkan bea masuk hingga 40 persen terhadap produk impor-non FTA. Perjanjian kerjasama pembebasan bea masuk ke Srilanka, dan Bangladesh untuk ekspor produk transportasi (kereta api dan pesawat udara) bisa mempercepat penetrasi produk Indonesia.

Kedua, Peran KBRI dan atase perdagangan di setiap negara perlu dioptimalkan dan lebih berorientasi pada peningkatan kinerja perdagangan. Menjalankan fungsi sebagai market intelligent, untuk mengidentifikasi kebutuhan produk, identifikasi selera konsumen di Negara tujuan, hambatan perdagangan hingga jaringan distribusi di negara tujuan ekspor. Disarankan adanya kontrak antara presiden dengan para duta besar, misalnya minimum per tahun harus hasilkan pertumbuhan ekspor non-migas 10-20 persen. Ada reward dan punishment sehingga fungsi Dubes optimal untuk meningkatkan ekspor, bukan sekedar seremonial.

Ketiga, Di tengah kecamuk “perang dagang” Indonesia perlu mencari dan memanfaatkan peluang dengan upaya bilateral. Misal, ketika China menunda impor minyak kedelai dari AS, maka ekspor CPO ke China berperluang untuk ditingkatkan. Mengingat China memerlukan minyak nabati dan Indonesia berpeluang untuk mengekspor komoditas tersebut.

Keempat, Evaluasi biaya expo dan trade center yang dianggap kurang efektif dalam mencari calon pembeli dan memasarkan produk Indonesia. Lokasi expo diluar negeri yang kurang strategis, boros dan tidak berkelanjutan harus di hapus dari daftar anggaran. Lebih baik mungkin jika pemerintah banyak memfasilitasi produsen dan eksportir. (pso)

 

SHARE ON
close

PENALAR

PENALAR TERPRODUKTIF

Tauhid Ahmad

Executive Director INDEF

Agus Herta Sumarto

Peneliti INDEF

Deniey Adi Purwanto

Peneliti INDEF