BACK TO TOPIC
OPINI PENALAR
Dosen jurusan film Universitas Bina Nusantara
Indonesia Krisis Ikon Budaya Pop yang Mengglobal

Menggaet pemilih milenial penting buat kubu Jokowi. Sebab, kubu sana, Prabowo-Sandi milenial banget kesannya. Kubu sana selalu mengejek pilihan Jokowi meminang Ma'ruf Amin jadi cawapres. Tapi dalam konteks pidato Game of Thrones sebenarnya ditujukan buat masyarakat internasional. Istilahnya, Jokowi berbahasa dengan "bahasa kaum". Jadi, ia perlu referensi yang nge-pop tapi global. Dan akhirnya kena dua-duanya, tuh: masyarakat internasional dan milenial.

Pidato menyebut referensi budaya pop ini bukan kali pertama. Sebelumnya, di forum ASEAN ia mengutip film Marvel Infinity War. Tahun 2016 yang dikutip ucapan dari film Terminator, "Hasta la visata, baby" dan "I'll be back." Semua diucapkan di forum internasional. Dan kaum milenial tak dituju secara langsung. Jadi itu hanya imbas.Namun begini, Jokowi itu di positioning-nya pertama sebagai anak (penggemar musik) metal. Ia ngepop. Itu yang membuatnya unik. Maka, yang penting (dicari tahu) siapa (penulis pidato) ghost writer-nya, karena ia tahu referensi budaya pop.  

Dari kajian budaya pop pidato itu penting karena sudah banyak yang bilang atau melakukan kajian, film atau cerita fiksi bisa merepresentasikan atau menjelaskan problematika dan keruwetan di dunia nyata. Dari karya fiksi kita berefleksi atau mengambil pelajaran. 

Sebetulnya, yang dilakukan Jokowi ini bukan hal baru. Presiden Soeharto juga pernah melakukannya. Pada 1998 ketika melakukan pidato laporan pertanggung-jawaban di MPR/DPR ia mengutip judul film dan lagu "Badai Pasti Berlalu" yang merujuk krisis ekonomi waktu itu segera berlalu. Semua orang langsung paham dengan apa yang dirujuk. 

Sebab kita juga (memiliki) bermain-main dengan referensi budaya juga. Istilahnya, saya menyebutnya film kain perca. Ada film Warkop Reborn (yang mengangkat lagi Warkop DKI) lalu nanti ada Bernafas dalam Kubur (yang mengangkat cerita sundel bolong Suzzanna), lalu nanti ada film Ateng-Iskak baru. Itu semua cerita daur ulang, menjual momen-momen legendaris film lama. 

Jadi, Jokowi bermain di level itu. Bermain dengan referensi budaya pop yang dimiliki orang banyak. Suatu konvensi umum yang mudah dipahami. Ia ingin membumikan istilah ilmiah atau istilah politik dalam bahasa nge-pop.

Kenapa tidak pakai referensi lokal, seperti perang Bharata Yudha, misalnya? Di satu sisi ia bicara di forum internasional. Maka, ia menggunakan referensi budaya pop yang dikenal. Ketika mengutip Thanos, orang langsung kenal. Begitu sebut Game of Thrones orang langsung tahu.

Memang sih, Sujiwo Tejo mengkritik, seharusnya sebut referensi wayang, dong. Tapi ketika kutip cerita wayang agak riskan juga. Pertama, nggak semua orang  (di dunia internasional) paham dengan referensi itu. Kedua, meskipun paham, orang berpotensi salah persepsi. Wayang kan aslinya dari India. Sebagaimana
tidak ada orang yang murni pribumi asli Indonesia, tidak ada juga budaya asli yang berasal dari Indonesia.

Masalahnya kita tak punya identitas kultural yang jadi penanda sebuah negeri dalam konteks tokoh fiksi budaya pop yang dipahami semua orang secara internasional. Misal, saat pembukaan Olimpiade London, Ratu Inggris disandingkan dengan James Bond. Atau di penutupan Olimpiade Rio, PM Jepang Shinzo Abe berkostum Super Mario, tokoh fiktif game perusahaan Jepang Nintendo. Sedangkan Jokowi saat naik motor gede di pembukaan Asian Games kemarin merujuk ke film Mission Impossible dari Hollywood yang dibintangi Tom Cruise. (Tokoh fiktif) Indonesia-nya mana? Nggak ada.  

Artinya kita krisis ikon (tokoh fiktif) yang mengglobal. Mungkin itu juga kenapa Jokowi tak sebut referensi budaya pop Indonesia di pidato-pidato internasionalnya. Mau sebut Wiro Sableng belum tentu "bunyi". (ade)

SHARE ON
close

TOPIK TERPOPULER

PENALAR

PENALAR TERPRODUKTIF