BACK TO TOPIC
OPINI PENALAR
Ketua Umum ASITA ( Association of the Indonesian Tours & Travel Agencies) Indonesia
Indonesia Harus Sediakan Low Cost Carrier Bawa Wisatawan

Pemerintah harus mengevaluasi sektor pariwisata, apa kelebihan dan kekurangan yang ada sehingga kita bisa mencari solusi terbaik apa yang harus kita lakukan. Dari program yang berjalan,  bagaimana kita dapat mempertahankan sustainability, kesinambungan. Berikutnya, bagaimana kita mencari terobosan-terobosan dengan mencari pasar-pasar baru di luar pasar utama pariwisata saat ini.

Saat ini pasar utama pariwisata Indonesia adalah China, ASEAN, Australia, dan Eropa.  Belakangan pasar India sudah mulai banyak.  Di luar itu pasarnya masih belum tergarap.  Eropa Timur dan Timur Tengah belum tergarap. Kawasan tersebut merupakan pasar potensial yang harus digarap.

Indonesia juga harus melakukan terobosan dalam aksesibilitas. Kita  belum mempunyai low cost carrier (penerbangan berbiaya murah) dari Eropa dan AS. Ini problem kita saat ini, transportasi long haul hanya memiliki layanan full service dan mahal.  Indonesia harus mengupayakan adanya airline yang terbang ke Nusantara dengan harga murah.  Pemerintah bisa mengadakan sendiri atau melakukan kerja sama dengan maskapai penerbangan untuk mengadakan pelayanan low cost carrier. Maskapai diberikan insentif agar dapat membuka layanan low cost carrier.

Pemain di sektor pariwisata di luar negeri sudah meminta diadakannya low cost carrier ke Indonesia, karena harga tiket pesawat saat ini dirasakan mahal. Ini menjadi masalah bagi pariwisata di Tanah Air.

Indonesia juga perlu meningkatkan promosi pariwisata. Yang sekarang harus ditingkatkan adalah selling.  Branding pariwisata Wonderful Indoneia sudah cukup mengena dan bagus, tinggal  dilanjutkan ke tahap selling sebagai ujungnya.   Jika dibandingkan dengan Malaysia dan Singapura, Indonesia lebih maju dalam hal branding. Slogan Malaysia is truly Asia sudah tidak ada lagi. Demikian juga dengan Singapura.

Dalam tahap selling ini bagaimana Indonesia bisa menjual pariwisata secara langsung melalui jalur bisnis ke bisnis (B to B) ke pasar yang bisa kita ciptakan. Seperti pasar India, bisa dibuka jalur penerbangan baru ke daerah tujuan wisata, tidak hanya ke Jakarta. Ditambah lagi dengan perluasan jaringan di Tanah Air.

Keluar kita melakukan selling, ke dalam kita melakukan pembenahan. Banyak sekali yang harus dibenahi, terutama regulasi. Selain itu, pengembangan destinasi wisata.  Pemerintah mengembangkan 10 Bali baru sebagai destinasi  utama. Dari 10 destinasi baru tersebut, ada tiga yang menjadi prioritas untuk dikembangkan yakni Mandalika di Nusa Tenggara Barat, Borobudur di Jawa Tengah, dan Danau Toba di Sumatera  Utara. Pengembangan ini harus dipercepat dengan memberikan alokasi anggaran yang cukup.

Mengenai devisa, rata-rata  belanja wisatawan mancanegara di Tanah Air sekitar 1.200 dolar AS per wisatawan. Pada tahun lalu wisatawan yang datang mencapai 14,2 juta orang sehingga devisa yang diperoleh mencapai 17 miliar dolar AS atau sekitar Rp238,6 triliun dengan kurs Rp14.000 per dolar AS.

Pendapatan dari pariwisata seharusnya lebih besar lagi jika melihat potensi pariwisata Indonesia yang sangat besar.  Memang untuk menutup defisit transaksi berjalan tidak bisa hanya dibebankan pada sektor pariwisata. Menutup defisit harus dengan meningkatkan ekspor manufaktur karena sebagian besar ekspor kita masih berupa bahan mentah sehingga nilai tambahnya sedikit sekali. Ini yang menjadikan kita defisit.

Jika Indonesia mampu meningkatkan jumlah kunjungan wisatawan mancanegara sesuai target sebanyak 20 juta orang pada tahun dengan dengan perkiraan belanja wisatawan per orang 1.500 dolar AS maka devisa yang akan masuk sebesar 30 miliar dolar AS atau sekitar Rp420 triliun.

Industri pariwisata diharapkan menjadi sektor yang menunjang perekonomian Indonesia. Oleh  karena itu pemerintah harus fokus melalui kerja sama dan koordinasi lintas sektoral dari 21 kementerian. Industri harus dikembangkan karena kekuatan selling ada pada mereka sebagai ujung tombak. (sar)

SHARE ON
close

TOPIK TERPOPULER

PENALAR

PENALAR TERPRODUKTIF

Gigin Praginanto

Pengamat Kebijakan Publik, Wartawan Senior

Imam Ghozali

Dosen STAIN Bengkalis

FOLLOW US

Kegalauan Anies, Lahirkan Kebijakan Itu             Bukan Sekadar Buat Aturan, Tapi Bangkitkan Rasa Kepedulian              Tidak Ada Alasan Mengabaikan Putusan MK             Keputusan KPU Mengembalikan DPD Khittahnya             Awasi Distribus Beras dengan Benar!             Koordinasi dan Komunikasi Menko Perekonomian Buruk              Bersaing dulu di ASEAN             Harus Ada Transformasi Struktural Industri              Tingkatkan Daya Saing Produk Kita             Perlindungan Anak Harus Libatkan Pengurus RT dan RW