BACK TO TOPIC
OPINI PENALAR
Analis Geopolitik/ Doktor Hubungan Internasional Unpad/ Pendiri Pusat Kajian Timur Tengah ( ICMES)
Indonesia Bisa Melihat Konflik Palestina Secara Jernih

Negara-negara anggota OKI masing-masing punya kepentingan. Terkadang kepentingan itu bertentangan satu sama lain. Dalam KTT Luar Biasa (LB) OKI di Turki, Arab Saudi hanya mengirim wakil Menlu, Mesir dan Emirat hanya kirim Menlu. Ini menunjukkan ketiga negara ini tidak terlalu serius menanggapi keputusan Trump.

Sebenarnya Trump tidak akan berani membuat keputusan itu tanpa bersepakat dulu dengan Raja Salman dari Arab Saudi. Meski secara eksplisit mengecam keputusan Trump, ketidakhadiran pejabat tinggi atau sang Raja menunjukkan ketidaksinkronan dan ketidakseriusan Arab Saudi dalam upaya penyelesaian konflik. Ditambah adanya tawaran dari pihak Arab Saudi agar Palestina menjadikan Abu Dis sebagai ibu kota (alih-alih Yerusalem).

Jadi deklarasi hasil KTT yang lalu adalah hasil maksimal yang bisa diambil, daripada deadlock. Indonesia berperan penting dalam mengawal KTT. Ini dikarenakan sebagai negara yang jauh dari Timteng, Indonesia bisa melihat konflik dengan lebih jernih tanpa vested interest.

Kondisi riil keterpecahan, distrust, dan kepentingan negara-negara Timteng, membuat harapan kita pada OKI untuk penyelesaian konflik sebenarnya tipis. Tetapi sesuatu harus dilakukan. Kita patut mendukung upaya pemerintah Indonesia yang aktif melakukan pendekatan kepada negara-negara yang terlibat dalam konflik ini, agar mau lebih serius mengupayakan persatuan dan membantu Palestina meraih kembali haknya. (ast)

SHARE ON
close

PENALAR

PENALAR TERPRODUKTIF

Budi Arie Setiadi

Wakil Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi Indonesia

Edgar Ekaputra

Pakar Industri Keuangan dan Ekonomi, Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis UI

Lia KIan, Dr.

Staf Khusus Dewan Pengarah Badan Pembinaan Ideologi Pancasila