BACK TO TOPIC
OPINI PENALAR
Wakil Ketua DPR RI
Indonesia Bisa Berperan Mempersatukan Negara-Negara OKI

Banyak tahapan yang harus dirancang dalam kompleksitas sikap dan posisi politik negara-negara OKI. Pertanyaannya adalah; apakah Indonesia pada masa mendatang bisa menjadi juru bicara dalam keadaan lain, yang membuat negara-negara OKI itu bersatu dulu dalam ide-ide dasar?

Pada dasarnya kalau kita berbicara dari pangkalnya saja, akan terlihat sulit bagi OKI untuk bersatu. Namun jika kita melihat umat Islam yang bersatu, maka kita bisa melakukan pembicaraan yang lebih mendalam karena lebih dahulu telah disatukan. Penting bagi Indonesia meletakkan satu narasi baru bagi OKI yang dapat menyatukan semua negara-negara anggota OKI. Menyatukan pengertian yang sama tentang keadaan mereka. Ini pertama-tama harus dilakukan Indonesia.

Untuk tujuan mempersatukan inilah pemimpin Indonesia harus memiliki kharisma. Tanpa kharisma sekuat yang dimiliki Soekarno, akan sulit untuk mengumpulkan dan menyatukan negara-negara lain. Indonesia baru merdeka 10 tahun (1945-1955), tetapi dengan kharismanya Bung Karno berhasil mengumpulkan negara-negara di kawasan Asia-Afrika dalam sebuah konferensi (Konferensi Asia-Afrika/KAA). Dalam platform-nya, KAA ini banyak mengubah wajah dunia. Namun musti diingat untuk melakukan itu dibutuhkan pemimpin kharismatik yang memiliki kemampuan berbicara yang kuat, baik, dan membawa narasi yang kuat.

Selanjutnya kondisi untuk menyatukan bangsa-bangsa OKI adalah harus mencari celah untuk menemukan kesatuan kata. Misalnya sebelum masuk ke masalah teknis seperti sekarang, coba masuk dulu ke isu-isu strategis, misalnya kedudukan Al Quds (Yerusalem). Umat Islam tidak boleh mempunyai perbedaan pendapat mengenai Al Quds, kedudukan Palestina, dan sejarah bangsa Palestina. Kedudukan Palestina dan Al Quds itu disatukan oleh pandangan secara Qath’i, istilahnya dalam fundamental ada di dalam kitab suci dan naskah-naskah Hadist Nabi. Jika hal itu terlebih dahulu diletakkan, akan mudah bagi bangsa-bangsa Islam untuk bersatu. Setelah meletakkan hal itu barulah kita letakkan kepentingan politik pada hari ini yang memang memerlukan adanya negosiasi-negosiasi. Alur berpikirnya paling tidak seperti itu. Dimulai dengan pemimpin Indonesia yang kharismatik, insya Allah Indonesia bisa menjadi pemersatu bangsa-bangsa OKI.

Dalam pertemuan OKI paling tidak pemimpin Indonesia atau bangsa Indonesia jangan sampai mengambil posisi paling lemah. Mengutuk, mengecam, dan meminta adalah kalimat yang tidak boleh dikeluarkan bangsa besar seperti Indonesia. Harus ada kekuatan yang lebih, baik pada konteks OKI maupun PBB. Indonesia harus memiliki sikap yang lebih kuat. Ini tentu dapat mengubah wajah dunia kita juga. (ast)

SHARE ON
close

PENALAR

PENALAR TERPRODUKTIF

Andry Satrio Nugroho

Peneliti Institute for Development of Economics and Finance (INDEF)

Ahmad Heri Firdaus

Peneliti Institute for Development of Economics and Finance (INDEF)