BACK TO TOPIC
OPINI PENALAR
Pengelola majalah POTRET dan Majalah Anak Cerdas. Direktur Center for Community Development and Education (CCDE) Banda Aceh
Indonesia, Bangsa Pemenang Yang memilih Menjadi Pecundang

Bangga menjadi bangsa Indonesia. Bahkan semakin bangga dan menggembirakan serta disambut penuh euphoria ketika orang Indonesia, baik pribadi, kelompok atau delegasi Indonesia tampil memikat atau menjadi pemenang di pentas internasional. Miliaran kata tumpah memuji. Yes, I am proud of you my Indonesia. You are the best. You are amazing dan sebagainya.

Itulah seonggok kata yang merefleksikan rasa bangga dengan achievement atau prestasi yang diraih dalam berbagai kontes atau pertandingan di tingkat dunia. We are the winner! Ya, kita  pemenang. Kita bangga menjadi bangsa Indonesia. Kebanggaan itu, bukan saja dalam momentum-momentum kompetitif yang kadangkala menderaikan mata suka dan gembira, tetapi kita juga sangat bangga dengan keberagaman suku, budaya dan seni yang dimiliki bangsa Indonesia, yang justru dapat dikatakan sebanding dengan kekayaan sumber daya alam negeri ini. Kita bangga dengan kekayaan budaya dan seni bangsa ini. Selayaknya kita membakar semangat “ bangga dan cinta Indonesia”. I love Indonesia. Ya I love Indonesia, amazing and amazing, etc

Selain kekayaan dan kemenangan kita seperti disebutkan di atas, kita juga sesungguhnya memiliki banyak ilmuwan, teknokrat dan ahli lainnya yang memiliki kemampuan yang tinggi. Ali Khomsan, Guru Besar Fakultas Ekologi Manusia IPB di Koran Sindo ediai04 Oktober  2018 menulis “ Orang-orang Indonesia terutama ilmuwan yang bersekolah di luar negeri dan kemudian tidak pulang ke negeri sendiri melainkan berkarier di negara lain memunculkan pertanyaan mengapa mereka (diaspora) tidak tertarik pulang ke Indonesia?  Ya, begitu banyak sudah ilmuwan kita yang hebat dan telah mendapat pendidikan tinggi setingkat S2 dan S3 bahkan Profesor.

Namun, sangat disayangkan dan disesalkan, dalam banyak hal, rasa bangga sebagai  pemenang, pendukung, atau bahkan para inisiator dan khalayak bangsa ini, prestasi atau achievement yang telah diukir oleh mereka yang sudah dengan air mata darah berjuang untuk tampil membanggakan sebagai pemenang di pentas dunia, semua kemenagan dan kebanggaan itu, kadang hanya menyenangkan di kala sorak-sorai pengunjung atau penonton kala pengumuman, namun hilang perlahan bahkan dalam sekejap setelah event selesai.  

Kita cenderung melepaskan para ilmuwan, teknokrat, professor dan sejumlah ahli kita yang melakukan brain drain dan migrasi kreasi ke Negara-negara lain yang mau memberikan apresiasi dan memfasilitas mereka mewujudkan hasil karya besar mereka di negara lain tersebut.

Mengapa ini terjadi? Jawabannya sangat sederhana. Mereka, orang-orang hebat tersebut tidak dihargai di negeri sendiri. kapasitas luar biasa yang dimiliki mereka, sejatinya menggerakan kemajuan bangsa ini, diabaikan begitu saja dan bahkan dibunuh dengan berbagai cara, kebijakan dan juga supporting system lainnya. Secara fakta, tidak ada upaya, terutama pemerintah merawat semangat berprestasi. Pemerintah yang kerapkali mendorong agar kita menjadi bangsa yang berprestasi, namun miskin apresiasi.

Akibatnya, bangsa ini menjadi bangsa yang juga miskin prestasi. Bangsa pecundang, dan tidak menghargai karya anak bangsa sendiri. Karena semua potensi yang terbaik yang kita miliki memilih melakukan brain drain dan migrasi kreasi, karena alasan di negeri orang mereka lebih dihargai, mau difasilitasi dengan fasilitas yang cukup dalam mengembangkan kemampuan dan kehebatan ilmu pengetahuan dan teknologi yang super canggih dan memberikan ruang yang besar untuk berkarya.

Selain itu, mereka juga mendapat penghargaan secara finansial yang tidak pernah bisa diperoleh dari pemerintah sendiri. Padahal, umummya mereka yang memilih brain drain merupakan orang yang mendapat fasilitas beasiswa dari Negara. Namun, pemerintah lebih cenderung tidak memanfaatkan mereka.

Rendahnya apresiasi, kemauan pemerintah untuk memanfaatkan sumber daya manusia yang berkualitas untuk mengembangkan kemampuan di tanah air, adalah sebuah kerugian yang dibuat oleh pemerintah sendiri, yang membawa bangsa ini menjadi bangsa pecundang, bukan pemenang. Mari lebih bijak mengelola sumber daya yang ada. Pemerintah Indonesia harus mau berbenah diri. (grh)

SHARE ON
close

PENALAR

PENALAR TERPRODUKTIF

Yahya Agung Kuntadi, Ir., M.M.

Kepala Kantor UGM Kampus Jakarta, Institute of Research and Community LPPM UGM

Ujang Komarudin, Dr., M.Si.

Pengamat Politik dan Dosen Universitas Al Azhar Indonesia

Karyono Wibowo

Pengamat Politik. Peneliti di Indo Survey & Strategy. Peneliti Senior Indonesian Public Institute (IPI)

FOLLOW US

Kapan Merdeka dari KUHP Peninggalan Belanda?             Bangsa Parasit             Tinjau Kembali Politik Pangan             Semantik Munafik Lunatik Kembali Otentik              Indonesia Kehilangan Arah dan Tujuan             74 Tahun RI: Kedaulatan Sebagai Slogan Politik              Perlu Mekanisme Seleksi Khusus             Ketahanan Pangan Indonesia Masih Rapuh             Persoalan Ada Pada Tingkat Konsumsi             Kedaulatan Pangan Didukung Pola Makan dan Perilaku Konsumsi Pangan