BACK TO TOPIC
OPINI PENALAR
Pengelola majalah POTRET dan Majalah Anak Cerdas. Direktur Center for Community Development and Education (CCDE) Banda Aceh
Impor Sampah, Menambah Musibah

Negara-negara maju adalah negara-negara yang sudah lebih dahulu terjaga dan sadar dari sebuah kondisi tidur atau kondisi kebodohan. Negara-negara maju ini, lebih dahulu bangkit dari masa-masa kegelapan. Mereka sudah jauh lebih lama membuka mata melalui sebuah proses belajar untuk mengubah kehidupan. Mereka meningkatkan kapasitas dengan pengetahuan, keterampilan dan sikap untuk berubah menjadi lebih baik, bahkan yang terdepan sebagai negara maju dan bahkan adi kuasa.

Kuncinya pada pengusaan ilmu dan teknologi yang kian hari ter-update dan terus berkembang. Sehingga the wind of change selalu datang dari negara-negara maju di semua sektor kehidupan. Artinya semua produk pengetahuan dan teknologi yang membawa dampak positif dan negatif, sudah terlebih dahulu mereka tahu, rasakan dan nikmati serta hal yang buruk yang mereka alami, sehingga melahirkan banyak pembelajaran yang kemudian ditransformasikan kepada negara-negara yang belum maju. Negara-negara maju telah dengan gegap gempita membangun industri yang memudahkan manusia menjalani kehidupan.

Salah satunya adalah memproduksi plastik untuk menggantikan bahan dan alat yang sebelumnya serba alami dan jumlahnya sangat terbatas. Plastik, adalah salah satu hasil industri yang telah mengubah perilaku  dan gaya hidup manusia menjadi sangat praktis, murah dan digunakan secara massal yakni oleh lebih kurang 7.1 miliar manusia di dunia saat ini.

Penggunaan plastik secara massal dan masif dalam kehidupan, menambah banyak produksi sampah, terutama sampah plastik. Kompas.com edisi 21 November 2018 menulis bahwa produksi sampah plastik global sejak 1950 hingga 2015 cenderung selalu menunjukkan peningkatan. Pada 1950, produksi sampah dunia ada di angka 2 juta ton per tahun. Sementara 65 tahun setelah itu, pada 2015 produksi sampah sudah ada di angka 381 juta ton per tahun. Angka ini meningkat lebih dari 190 kali lipat, dengan rata-rata peningkatan sebesar 5,8 ton per tahun. 

Kini, dengan semakin meningkatnya jumlah produksi sampah global, maka negara-negara maju penghasil sampah pun kian resah dan takut akan  masalah sampah yang mereka produksi sendiri. Di satu sisi ingin dimusnahkan dan didaur ulang di negara sendiri menjadi buah simalakama. Semua mengandung risiko bagi keselamatan bangsa. Maka, sampah-sampah global tersebut pun terus menimbulkan dan meningkatkan jumlah masalah sampah. Nah, Amerika dan Eropa sebagai bangsa yang memproduksi sampah-sampah berat, harus menjaga dan melindungi bangsa mereka dari musibah sampah berbahaya. 

Jalan satu-satunya adalah mengekspor sampah global tersebut ke negara-negara lain dalam berbagai bentuk. Misalnya dengan mendaur ulang menjadi barang kebutuhan masyarakat global di negara-negara yang sedang berkembang seperti ke negara-negara ASEAN, termasuk Indonesia.

Seperti dituliskan Yenglis di laman Watyutink.com bahwa Indonesia menjadi salah satu target pembuangan sampah impor dari negara-negara maju di Eropa dan Amerika Serikat. Sampah-sampah impor tersebut didominasi oleh sampah berbahaya dan tidak dapat didaur ulang. Lho, kok bisa sih?

Membuang sampah impor dari Amerika dan Eropa ke negara-negara ASEAN dan Indonesia sebagai salah destinasinya, adalah tindakan pengrusakan terhadap bangsa Indonesia yang harus dengan tegas ditentang. Karena sampah-sampah impor tersebut adalah racun-racun yang mematikan dan menyebabkan berkembangbiaknya berbagai penyakit mematikan yang bukan hanya memiskinkan rakyat Indonesia, tetapi juga keutuhan negara akan ikut hancur akibat dari menumpuknya bahan- bahan berbahaya dan beracun (B3) tersebut.

Oleh sebab itu, pemerintah harus melindungi rakyat dan segenap anak bangsa dari bahasa dan bencana memerima sampah import dari Amerika dan negara-negara Eropa tersebut. Apalagi saat ini, Indonesia sendiri juga sedang menghadapi masalah yang sama yang menghasilkan sampah sekitar 67 hingga 67 juta ton yang menjadi masalah besar saat ini.

Masih banyak fakta sampah yang meresahkan kita di Indonesia saat ini. Akan menjadi semakin membahayakan dan mengancam bangsa Indonesia, apabila menerima pembuangan sampah dari Amerika dan negara Eropa. Ya, ancaman sangat serius, selain ancaman dari rendahnya kesadaran masyarakat Indonesia terhadap bahaya sampah domestik dan plastik yang semakin sulit diurai.

Jadi, pemerintah di satu sisi harus dengan tegas menolak sampah dari Amerika dan Eropa, serta harus serius membangun kesadaran masyarakat Indonesia untuk lebih berbudaya dan beradab dalam mengelola dan menggunakan plastik di tanah air. Pemerintah harus mampu. Bila tidak, bersiaplah menghadapi bencana atau musibah akibat sampah. (yed)

SHARE ON
close

PENALAR

PILIHAN REDAKSI

PENALAR TERPRODUKTIF

Ujang Komarudin, Dr., M.Si.

Pengamat Politik dan Dosen Universitas Al Azhar Indonesia

Christianto Wibisono

Analis Bisnis/ Pendiri Pusat Data Bisnis Indonesia (PDBI)

Dadang Trisasongko

Direktur Eksekutif Tranparency Internasional (TI) Indonesia

FOLLOW US

Rekonsiliasi Politik di Level Elit Diharapkan Terjadi di Level Sosial.              Tak Ada yang Salah dengan Pertemuan Jokowi Prabowo             Perhatikan Lag antara Demand Side dan Regulasi dari Sisi Supply Side             Tantangan yang Harus Dihadapi Masih Besar             Kemiskinan Makin Sedikit, Sulit Dikurangi             Bansos Tak Efektif Kurangi Kemiskinan             UNHCR Harus Keluar             Pembangunan Negara Hukum Harus Jadi Agenda Prioritas             ‘Visi Indonesia’ Tidak Prioritaskan Pembangunan Hukum dan HAM             Perlu Pertimbangan Agar yang Dikurung Memang Pantas Dikurung