BACK TO TOPIC
OPINI PENALAR
Penulis buku
Hukum Berjilbab Masih Diperdebatkan Ulama

Pertama, menurut saya penting digarisbawahi bahwa kewajiban berjilbab itu masih menjadi perdebatan di kalangan ulama-ulama Islam terkemuka. Artinya pernyataan ‘dalam Islam berjilbab adalah suatu kewajiban’ itu saja sudah merupakan persoalan tersendiri, karena sadar atau tidak sadar telah menghilangkan nuansa perbedaan pemahaman tersebut. 

Kenapa ini adalah persoalan? Sebab keyakinan bahwa hanya ada satu kepastian bahwa ‘Islam mewajibkan berjilbab’ membuat bagaimanapun berjilbab dianggap pasti lebih baik daripada tidak berjilbab.  

Ini adalah persoalan paling mendasar. Semua anjuran, aturan, tekanan, teguran, lahir dari keyakinan ini, bahwa tidak ada kemungkinan lain, berjilbab pasti lebih baik dari pada tidak berjilbab.

Kita belum lagi masuk kepada persoalan tekanan untuk berjilbab.

Dalam perjalanannya di Indonesia, gagasan tentang jilbab juga sudah mengalami sejumlah transformasi, termasuk di dalamnya adalah gagasan tentang perempuan yang berjilbab dan tidak berjilbab ikut mengalami negosiasi di dalam proses tersebut. Ada fase di tahun 2000-an di mana industri fesyen jilbab sangat ramai dengan berbagai model penutup kepala dan pakaian. 

Namun jika kita perhatikan, tren itu kini telah bergeser, dalam berjilbab mulai muncul ‘kasta’. Ada jilbab biasa, ada jilbab syarí yang lebih panjang.   Lalu setelah beberapa waktu, jilbab syarí kemudian tidak cukup lagi, lalu muncullah tren menutup wajah atau niqab yang saat ini diartikulasikan dengan istilah ‘hijrah.’

Maka saya mulai melihat teman-teman saya yang berjilbab ‘biasa’ kemudian seperti merasa ‘kurang cukup’dengan jilbabnya. Mereka mulai menyatakan sesuatu seperti, ‘semoga suatu hari nanti saya siap hijrah’ dan yang dimaksudkan dengan ‘hijrah ‘di sini adalah siap untuk lebih menutup tubuh dan wajahnya alias berniqab.

Pembedaan perempuan yang didasarkan pada pakaiannya pun menjadi semakin kompleks di sini, dan semakin merugikan perempuan. Moral dan kualitas keimanan perempuan lagi-lagi hanya disandarkan kepada seberapa panjang dan tertutup pakaiannya. Kepada seberapa banyak bagian tubuhnya yang boleh terbuka.  
Landasan berpikir seperti ini, jika kita runut dengan teliti memiliki jalur berpikir yang sama dengan kenyataan bahwa perempuan masih selalu disalahkan jika menjadi korban pelecehan dan kejahatan seksual dalam berbagai bentuk. Landasan berpikir ini berada dalam jalur yang sama dengan mereka yang mengobjektifikasi perempuan seperti ustad yang menyamakan perempuan tak berjilbab setara lollipop yang terbuka.   

Saat ini,  muslimah yang tidak berjilbab memang kerap mendapat tekanan sosial dalam berbagai bentuk dari yang halus (kamu lebih cantik lho kalau berjilbab) hingga yang mengancam (nanti saja berjilbab, neraka masih luas kok).  

Saya  juga pernah mendengar kisah beberapa teman yang mengalami hambatan dalam kariernya karena tidak berjilbab.  Perempuan yang tidak berjilbab akan selalu cenderung diarah-arahkan untuk ‘menjadi lebih baik’ dan itu hampir selalu harus ditunjukkan dengan mengenakan jilbab, bagaimana pun bentuknya.

Jadi sebelum kita masuk kepada persoalan represi kepada perempuan untuk mengenakan jilbab, saya justru ingin menggali persoalan yang menjadi akarnya terlebih dulu, yang saat ini seolah menjadi satu-satunya kebenaran yaitu keyakinan bahwa berjilbab adalah kewajiban dalam Islam. JIlbab bukan perdebatan baru dalam Islam, tapi tidak semua pihak –bahkan yang menempatkan diri sebagai Muslim moderat pun – mau terbuka pada kemungkinan penafsiran berbeda. (ade)

SHARE ON
close

PENALAR

PENALAR TERPRODUKTIF