BACK TO TOPIC
OPINI PENALAR
Dosen hubungan internasional UGM, Tenaga Ahli Menteri Kominfo Bidang Kebijakan Digital
Hoax Berpotensi Ganggu Kualitas Pemilu dan Demokrasi

Anak muda penguasa media sosial dan internet. Menurut survei APJI (Asosiasi Pengelola Jasa Internet) dari usia 13-18 tahun menguasai 16,68 persen dari total pengguna internet di Indonesia. Dari usia 19-34 tahun menguasai 49 persen. Artinya, bila ditotal dari angka 13-34 tahun, mencakup 66 persen pengguna internet di Indonesia. Dan menurut survei We Are Social, seluruh pengguna internet di Indonesia juga pengguna media sosial. Yang berarti proporsi pengguna internet dan pengguna sosial boleh dibilang sama.

Saat pemilu ada dua hal genting menyangkut ancaman keamanan cyber. Pertama, serangan cyber. Misalnya, bila situs KPU diretas. Atau hasil pemilu dibajak lewat sistem TI. Kedua, operasi informasi. Ini juga sama mengerikannya. Karena telah kejadian  di dua negara: Amerika Serikat dan Brasil. Di AS, sepanjang pilpres 2016 yang dimenangkan Trump ada banyak sekali hoax yang digunakan untuk menjatuhkan salah satu calon tertentu. Sementara itu, di Brasil, kualitas proses pemilu dan demokrasinya terganggu hanya karena hoax membalikkan hasilnya, yang harusnya menang jadi kalah, dan yang seharusnya kalah jadi menang.

Ini jadi dua hal yang jadi fokus utama Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo). Untuk itu kami berjuang sama-sama membuat media sosial dan internet kita sepositif mungkin.                    

Saat ini kita berada pada posisi sangat rentan untuk diserang, entah website-nya atau sistem TI-nya. Tapi saya pikir KPU dan Bawaslu telah bekerja keras untuk mencegah hal itu. Namun, di persoalan penyebaran operasi informasi yang lebih mengerikan. 

Saat mempelajari ilmu tentang kajian informasi setidaknya ada tiga jenis penyakit yang harus diwaspadai. Yang pertama misinformasi, kedua disinformasi, dan ketiga malinformasi. Pengertian untuk masing-masing adalah, misinformasi adalah informasi yang disebarluaskan mengandung berita yang tidak benar atau berita bohong, tetapi tidak dengan sengaja disebarkan oleh seseorang. Misal, ada posting-an Instagram dari sebuah media, ternyata mengandung data yang salah. Datanya kemudian diperbaiki media tersebut. Jadi, di situ tidak ada intensi untuk menyebarkan kabar bohong atau berita tidak benar. 

Sedangkan pada disinformasi ada intensinya. Jadi, jika dengan sengaja menyebarkan berita bohong itu yang gawat. Itu yang paling dekat dengan hoax. Sementara malinformasi, yakni disinformasi yang disebarkan dengan tujuan untuk menyerang orang lain. Contohnya adalah ujaran kebencian atau hate speech atau juga membuka data pribadi orang lain. Malinformasi adalah serangan dengan informasi.

Di sini kita harus hati-hati. Karena hal tersebut bisa mendistorsi dan bahkan mengganggu kualitas pemilu dan demokrasi di Indonesia. (ade) 

Catatan: Opini ini disampaikan di acara talk show LINE TODAY, Kamis, 14 Maret 2019 di Jakarta. 

SHARE ON
close

PENALAR

PENALAR TERPRODUKTIF

Ujang Komarudin, Dr., M.Si.

Pengamat Politik dan Dosen Universitas Al Azhar Indonesia

Deddy Herlambang

Pengamat Transportasi

Djoko Setijowarno

Pengamat transportasi

FOLLOW US

Karena Tak Melibatkan Ahli Kesehatan             Perlu Rekayasa Kebijakan Naikkan Daya Beli             Civil Society Perlu Awasi Hitung Suara             Holding BUMN Penerbangan             Saatnya Rekonsiliasi             Klaim Prabowo-Sandi Perlu Dibuktikan             Perlu Sikap Kesatria Merespons Kekalahan Pilpres             KPU Jangan Perkeruh Suasana             Gunakan Mekanisme Demokratik             Pemerintah Harus Bebas dari Intervensi Pengusaha