BACK TO TOPIC
OPINI PENALAR
Hindari Dominasi Satu Negara

Secara filosofis konsep One Belt One Road (OBOR/BRI) sebenarnya ingin membuat jalur maritim baru. Kalau dulu China punya jalur sutera, tetapi sekarang ingin membuat jalur lewat laut atau Maritime Silk Road (MSR).

Salah satu tujuannya adalah ingin merevitalisasi perekonomian China yang sekarang memang sedang terus menurun dibanding beberapa tahun terakhir. China butuh sumber-sumber ekonomi baru yang salah satunya lewat jalur MSR atau OBOR. 

Buat Indonesia, seharusnya bisa bermanfaat karena sebagaimana jalur sutera ratusan tahun lalu, hal itu bermanfaat bukan saja bagi China tapi juga bagi pengguna jalur sutera tersebut disepanjang rutenya. Seharusnya juga kita bisa manfaatkan untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat, dengan menggunakan jalur itu. Juga bisa meningkatkan ekspor dan pada gilirannya hal itu akan dapat menekan current account devisit (CAD). 

Tetapi yang harus kita waspadai adalah OBOR sekarang China melakukannya dengan terlalu agresif. Kalau dulu jalur sutera terbentuk secara natural dan pesertanya dari lintas Negara. Melakukannya juga secara natural. Sehingga terbentuklah jalur sutera tersebut. 

Bedanya sekarang, memang sangat didominasi oleh China. Jangankan Amerika, Jepang pun sebenarnya tidak setuju dengan agresifnya China sekarang. Saya pun melihatnya cukup agresif seperti tahun lalu saya diundang ke Dalian dan juga beberapa sentra produksi China. Waktu itu dalam rangka North East Asia Think Tank Working Group Forum. Mereka mengatakan secara eksplisit atau implisit bahwa China akan mengejar target-target jalur sutera tersebut. 

Bahkan di salah satu dokumen China yang kita protes, menunjukkan dan ingin menarik-narik Indonesia ke pertarungan trade war dengan Amerika. 

Salah satu alasan China adalah Amerika dengan Trump yang sekarang over proteksionist, maka penting bagi Asean untuk bersatu dan setuju dengan inisiasi One Belt One Road. Waktu kami menolak karena kita nilai terlalu agresif. Kita ajukan bahwa posisi Asean netral dan kita tidak mau ditarik ke putaran konflik China melawan Amerika. 

Indiapun sekaran sudah menolak karena bertentangan dengan kepentingan nasional India. OBOR sebenarnya berpotensi bagi perekonomian Indonesia tetapi jangan sampai kemudian dominasi China menjadi terlalu besar.

Dalam kaitan utang dengan China sebenarnya utang dalam kerangka G to G selalu saja punya masalah. Oleh karenanya Indonesia setelah 2016 fokus dengan lebih ke market dengan penerbitan obligasi. Meskipun tentunya bunganya lebih tinggi. Namun tentunya manejemen surat utang harus sangat baik dan untuk mencegah kemungkinan default. 

Jika default dengan Negara lain kita masih bisa melakukan nego ulang. Tetapi berbeda dengan market yang bisa jadi berakibat investment grade kita turun. Tetapi keunggulannya adalah kita tidak terlalu dikendalikan oleh agenda-agenda Negara lain. 

Kalau pinjaman G to G maka akan tergantung pada Negara yang memberikan dana atau kreditor. 

Utang dengan China sebenarnya jauh lebih tinggi rate-nya ketimbang utang dengan Jepang. Kalau dihitung-hitung sebenarnya buat apa berutang dengan China. Lebih baik menerbitkan obligasi yang memang berbunga lebih tinggi tetapi tidak terlalu dikendalikan. Kalau mau mencari utang berbunga rendah kenapa tidak dengan Jepang? 

Memang saya lihat salah satu tujuan lain dari pemerintah adalah diversifikasi Negara pengutang. Tetapi Indonesia juga harus berhati-hati karena China dibanding Jepang secara manajemen masih jauh kalah secara kualitas dibanding Jepang.   

Hasil proyek infastruktur China juga sepertinya tidak dibuat dengan perhitungan matang. Contohnya dalam proyek HST (high speed train), Jepang mengkajinya dalam 3 tahun, tetapi China hanya butuh 3 bulan. Itupun sampai sekarang tidak jelas bagaimana perkembangan kereta api cepat Jakarta-Bandung. Padahal China menjanjikan pada 2019 proyek itu selesai, semenara Jepang tidak berani. (pso)

SHARE ON
close

TOPIK TERPOPULER

PENALAR

PENALAR TERPRODUKTIF

Lana Soelistianingsih, Dr., S.E., M.A.

Ekonom Universitas Indonesia, Kepala Riset/ Ekonom Samuel Aset Manajemen

Mohammad Faisal

Direktur Centre of Reform on Economic (CORE) Indonesia

Ahmad Heri Firdaus

Peneliti Institute for Development of Economics and Finance (INDEF)

FOLLOW US

Perkuat Investasi, Industri dan Ikatan Kewilayahan di ASEAN             Perubahan Nomenklatur Tak Efektif dalam Jangka Pendek             Ketergantungan pada Komoditas Dikurangi, Perbanyak Industri Olahan Berbasis Komoditas             Setia Ekspor Komoditas Alam, atau Diversifikasi Ekspor?             Perlu, Optimalisasi Non Tariff Measure (NTM)             Kebijakan NTM akan Bermanfaat, Selama Tidak Berlebihan.             Sesuaikan pilihan jenis NTM dengan karakteristik produk impor             Kebijakan Mandek Terganjal Implementasi, Koordinasi, Eksekusi               Pemerintah Sibuk Urusi Poliitk             Tinjau Kembali Struktur Industri Nasional