BACK TO TOPIC
OPINI PENALAR
Peneliti Institute for Development of Economics and Finance (INDEF)
Hendaknya Turunkan Sukubunga pada Level Efektif

Kaitan dengan keengganan BI untuk menurunkan suku bunga, pertimbangannya karena ingin menjaga stabilitas sektor keuangan. Saat ini stabilitasnya tidak stabil. Selain akibat daya dorong investasi atas kebijakan suku bunga saat ini masih belum efektif mendongkrak gairah dan iklim investasi. Terutama terhadap kinerja industri. Bahkan pada 2018 kinerja industri manufaktur kontribusi terhadap GDP kian menurun, hampir mencapai 8 persen dari tahun sebelumnya.

Hal ini tidak hanya akibat dari kondisi industri kita, namun kebijakan suku bunga masih jauh dari harapan. Terutama dalam mendorong gairah industri kecil dan menengah. Termasuk mikro. Hal itu mengindikasikan bahwa selama ini kebijakan suku bunga kurang mampu mendorong gairah industri.

Terkait dengan kekhawatiran risiko kurs rupiah dengan diturunkan suku bunga dan adanya capital outflow terutama investasi portofolio. Justru karena itu, gairah investasi portofolio seharusnya ditopang oleh investasi berbasis industri. Semakin kuat investasi sektor riil maka investasi portofolio semakin aman. Artinya bagi para investor portofolio seharusnya BI tidak perlu menghawatirkan itu. Semakin baik investasi riil dlm negeri semakin menarik invetasi portofolio.

Lebih jauh lagi, jika BI tetap menahan kebijakan suku bunga di level saat ini, justru dikhawatirkan berimbas kepada investor portofolio. Karena para investor tidak ditopang oleh imbal hasil atas modalnya dari sektor riil.

Bertahannya kebijakan suku bunga seperti saat ini juga, justru hanya akan mengamankan para investor di sektor keuangan. Tetapi, sebaliknya bagi para pengusaha di sektor riil. Dimana industri dan usaha kecil dan menengah tidak mampu men scale up usaha dan produksinya. Apalagi kondisi pasar yang masih lesu terutama produk-produk industri pengolahan. Kondisi ini akan mendorong sisi permintaan. Kondisi ini berimplikasi terhadap dampak konsumsi atas harga produk domestik menjadi kurang kompetitif.

Meskipun konsumsi produk kian meningkat dan mendongkrak sebagai penyumbang terbesar terhadap pertumbuhan ekonomi nasional, tetapi itu bukan dari produk lokal, tetapi lebih banyak barang impor. Baik end product nya maupun faktor produksinya atau inputnya. Artinya, kebijakan BI yang tetap mempertahankan sukubunga harus segera dicek dan dikoreksi agar efektivitas kebijakan tersebut nyata dirasakan oleh sektor keuangan dan industri. Hendaknya segera diturunkan pada level efektif dengan melakukan sinkronisasi kebijakan fiskal.

Sekali lagi terkait kekhawatiran atas risiko capital outlow pada portofolio, seharusnya BI tidak hanya pada level kuatir seperti itu. Meskipun investasi portofolio dianggap sebagai investasi pemberi sumbangan besar dalam stabilisasi keuangan, namun BI juga melupakan transmisinya yang sangat lambat dalam mendorong sektor riil.

Oleh karena itu, tinggal memilih bagi BI. Akankah tetap pada stabilisasi investasi portofolio pada sektor moneter dalam jangka pendek, ataukah terhadap pertumbuhan ekonomi yang dampaknya jangka pendek dan panjang. (pso)

 

SHARE ON
close

PENALAR

PILIHAN REDAKSI

PENALAR TERPRODUKTIF

Ujang Komarudin, Dr., M.Si.

Pengamat Politik dan Dosen Universitas Al Azhar Indonesia

Christianto Wibisono

Analis Bisnis/ Pendiri Pusat Data Bisnis Indonesia (PDBI)

Dadang Trisasongko

Direktur Eksekutif Tranparency Internasional (TI) Indonesia

FOLLOW US

Rekonsiliasi Politik di Level Elit Diharapkan Terjadi di Level Sosial.              Tak Ada yang Salah dengan Pertemuan Jokowi Prabowo             Perhatikan Lag antara Demand Side dan Regulasi dari Sisi Supply Side             Tantangan yang Harus Dihadapi Masih Besar             Kemiskinan Makin Sedikit, Sulit Dikurangi             Bansos Tak Efektif Kurangi Kemiskinan             UNHCR Harus Keluar             Pembangunan Negara Hukum Harus Jadi Agenda Prioritas             ‘Visi Indonesia’ Tidak Prioritaskan Pembangunan Hukum dan HAM             Perlu Pertimbangan Agar yang Dikurung Memang Pantas Dikurung