BACK TO TOPIC
OPINI PENALAR
Peneliti Indef
Harus Serius Kembangkan Competitive Advantage

Perlu kita dudukkan dulu bahwa dasar dari setiap revolusi industri adalah munculnya penghargaan terhadap ilmu pengetahuan. Dalam Revolusi Industri 4.0 yang saat ini terjadi, terdapat pergeseran (transformasi) ekonomi dari berbasis sumber daya (resourses-based) ke ilmu pengetahuan (knowledge-based economy). Dari sektor pekerjaan terdapat pergeseran cukup besar dari agrikultur ke sektor pekerjaan yang bahkan tidak kita kenal sebelumnya.

Grafik McKinsey Global Institute tentang Pergeseran Pekerjaan Berdasarkan Sektor di Amerika Serikat tahun 1850-2015, terlihat bahwa sektor pertanian (agriculture) mengalami penurunan serapan tenaga kerja yang signifikan. Di sisi lain, banyak jenis pekerjaan lain yang bermunculan dan serapan tenaga kerjanya meningkat.

Dalam sektor-sektor pekerjaan yang muncul, kontribusi ilmu pengetahun (pendidikan) menjadi semakin signifikan. Titik tumpu perekonomian saat ini terletak pada kecepatan dalam mengembangkan teknologi dan informasi yang membutuhkan sumberdaya manusia dengan kualifikasi tinggi.

Ihwal kesiapan tenaga kerja menyongsong Revolusi Industri 4.0 maka kita harus lihat struktur pendidikan angkatan kerja. Harus membandingkan kesiapan SDM Indonesia dalam menyongsong Revolusi Industri 4.0 dibandingkan dengan negara tetangga Malaysia, dan perkumpulan negara maju (OECD).

Angkatan kerja yang menamatkan pendidikan tinggi (universitas dan diploma) di Indonesia hanya 12,18 persen, sementara itu Malaysia mencapai 20 persen dan OECD mencapai 40.40 persen. SDM dengan pendidikan tinggi ini secara konsep seharusnya yang menjadi penggerak dalam transformasi ekonomi. Sayangnya, jumlah angkatan kerja kita di level pendidikan ini masih tertinggal jauh.

Yang lebih menarik lagi, sudahlah hanya 12,18 persen angkatan kerja Indonesia yang menamatkan pendidikan tinggi, kondisinya diperburuk dengan tingginya angka pengangguran terbuka pada angkatan kerja berpendidikan tinggi.

Dari data yang ada, proporsi PENGANGGURAN TERDIDIK meningkat dengan signifikan. Jika kita bandingkan antara tahun 1998 (20 tahun yang lalu) dengan kondisi terkini, proporsi penggangguran terdidik (lulusan Universitas dan diploma) meningkat dari 8,51 persen menjadi 13,42 persen. Artinya apa? Angkatan kerja berpendidikan tinggi tidak terserap dengan optimal oleh industri. Terdapat mismatch antara pendidikan dengan lapangan pekerjaan.

Jadi permasalahan pendidikan dan keterampilan angkatan kerja akan menjadi tantangan utama dalam memasukin Revolusi Industri 4.0 dan ekonomi digital ke depan.

Akan tetapi perlu dicatat bahwa permasalahan ketenagakerjaan tidak akan bisa diselesaikan jika tidak menjadi agenda prioritas nasional karena permasalahannya sangat kompleks dan lintas sektoral.

Dalam World Development Report yang dikeluarkan World Bank pada tahun 2019 misalnya, salah satu bahasan ketenagakerjaan yang disoroti adalah permasalahan stunting (gizi buruk). Hal ini menjadi penting karena kesehatan pada usia seribu hari pertama kehidupan (dari masa kehamilan sampai dengan 2 tahun) akan mempengaruhi kualitas seseorang setelah usia 18 tahun. Seorang anak akan membawa efek masa kanak-kanak yang buruk dari kesehatan dan gizi buruk (stunting) yang membatasi kemampuan fisik serta kognitif numerikal dan literasinya sebagai orang dewasa.

Padahal kemampuan numerasi (angka) dan literasi menjadi modal utama dalam menghadapi lapangan pekerjaan kedepan yang semakin dinamis.

Terkait kondisi deindustrialisasi di Indonesia dihadapkan dengan Revolusi Industri 4.0, memang bisa dikatakan agenda Revolusi Industri 4.0 atau “Making Indonesia 4.0” lebih besar marketing gimmick-nya daripada program konkritnya. Industri manufaktur kita hanya tumbuh dibawah 20 persen, sangat berat untuk compete di Revolusi Industri 4.0.

Lebih tepat agendanya adalah menyikapi dinamisnya perekonomian dan dunia kerja saat ini. Kita bisa meniru negara-negara seperti Uganda, China, India, Filipina yang dalam waktu relatif singkat mencari (eksplor) dan serius dalam mengembangkan competitive advantage (keunggulan) baru mereka ditengah perkembangan dunia digital saat ini.

Uganda memiliki lebih dari 400.000 petani organik bersertifikasi internasional (seiring dengan cepatnya arus informasi, recognisi sertifikat semakin tinggi dan mempengaruhi penjualan produk).

China memiliki 100.000 validator data (data labeler) yang jenis pekerjaan ini tidak dikenal satu dekade sebelumnya dan saat ini telah menjadi competitive advantage China.

Filipina dengan SDM nya cenderung fasih dalam berbahasa inggris telah berkembang jadi negara penyedia call center utama di dunia. Coba cek, banyak perusahaan-perusahaan global menempatkan call center mereka di Filipina.

Terakhir India, akhir 2018 diprediksi ada 5,2 juta programmer di India.

Hal lain, ada yang menarik mengenai penggabungan Badan Riset yang diusulkan 01, dan link pemerintah, perguruan tinggi dan dunia usaha oleh 02. Hemat saya Kordinasi memang harga yang paling mahal dalam mendorong riset dan inovasi di Indonesia.

Ada penelitian saya tahun lalu tentang program Nawacita 100 Science dan Tekhno Park di seluruh wilayah di Indonesia.

Program ini bertujuan mendirikan pusat kolaborasi pemerintah, perguruan tinggi dan dunia usaha di 100 lokasi di Wilayah Indonesia. Lokasi-lokasinya serta Kementerian/ Lembaga (K/L) yang mendapatkan tanggungjawab ditetapkan dalam RPJMN 2015-2019.

100 lokasi telah ditetapkan dari awal dimana tidak jelas dasar penetapan lokasinya dan tidak berdasarkan rencana di daerah yang telah ditetapkan.

Kementerian/Lembaga yang mendapatkan tanggungjawab juga ditetapkan di awal tanpa melihat rencana prioritas masing-masing K/L.

Sementara itu tidak dapat dipungkiri memang kolaborasi pemerintah, perguruan tinggi dan dunia usaha (triple helix) sangat penting untuk untuk didorong agar perguruan tinggi tidak asik dengan riset temuan tanpa dukungan difusinya, industri kesulitan karena biaya riset yang mahal, dan pemerintah "membuang-buang" anggaran riset yang tidak tepat sasaran karena tidak bekerjasama dengan ahlinya (universitas) dan user-nya (industri dan dunia usaha).

Program 1.000 startup digital merupakan program yang sangat penting karena teknologi dan IT menjadi pendorong utama yang bisa membuat suatu model bisnis tumbuh dengan cepat dan berdampak besar bagi perekonomian seperti ojek online yang menjadi gelombang besar dan menyerap tenaga kerja baik driver, merchant makanan minuman, dan lainnya.

Akan tetapi perlu dicatat angka 1000 startup digital dalam 4 tahun terakhir pada umumya adalah angka startup yang di inkubasi. Risiko keberhasilan startup masih sangat rendah sehingga perlu pendampingan yang lebih serius. (pso)

SHARE ON
close

PENALAR

PILIHAN REDAKSI

PENALAR TERPRODUKTIF

Ujang Komarudin, Dr., M.Si.

Pengamat Politik dan Dosen Universitas Al Azhar Indonesia

Mohammad Faisal

Direktur Centre of Reform on Economic (CORE) Indonesia

Yahya Agung Kuntadi, Ir., M.M.

Kepala Kantor UGM Kampus Jakarta, Institute of Research and Community LPPM UGM

FOLLOW US

Insentif Pajak, Daya Tarik Sistem Pajak yang Paling Rasional             Menengok dan Menyiapkan SDM di Era Revolusi Industri 4.0             Polri Telah Berupaya Transparan Ungkap Rusuh 21-22 Mei             Possible and Impossible Tetap Ada             Ungkap Rusuh 21-22 Mei Secara Terang dan Adil             Banyak Masalah yang Harus Diselesaikan             Pilihan Cerdas Jadi Oposisi             Tergilas oleh Budaya Global             Penghambaan terhadap Simbol Dunia Barat             Tak Cukup Imbauan