BACK TO TOPIC
OPINI PENALAR
Harus Pandai Memanfaatkan Momentum

Masalah yang terjadi pada Pertamina memang salah satunya adalah kebijakan BBM satu harga. Hal itu yang menggerogoti keuangan Pertamina.

Dengan turunnya harga minyak dunia sebenarnya adalah momentum bagi pemerintah terutama Pertamina untuk mengkaji lagi kebijakan ini dan juga kemudian mengurangi subsidi BBM. Saat ini adalah saat yang paling tepat untuk mengurangi subsidi.

Tetapi posisi Indonesia sekarang memang sebagai net importer, namun ada juga bagian yang di ekspor. Hal itu juga akan berpotensi negatif karena harga jual BBM menjadi turun sehingga nilai ekspor tidak akan sebesar sebelumnya.

Karena sekali lagi posisi kita adalah net importer, maka seharusnya posisi ini menjadi lebih baik buat Indonesia.

Untuk mengurangi beban yang berlebihan terhadap Pertamina maka kebijakan subsidi BBM dan kebijakan satu harga BBM selayaknya dikaji kembali.

Peluang perbaikan bagi Pertamina masih bisa dilakukan meski pertumbuhannya tidak secepat sebelumnya ketika harga komoditas dunia atau harga minyak masih tinggi. Dulu ketika harga minyak dunia masih tinggi dan harga dipatok berdasarkan pergerakan pasar, Indonesia masih menikmati peningkatan harga komoditas minyak. Sebab, ketika pada 2015 belum ada kebijakan BBM satu harga sehingga laba Pertamina bahkan bisa menyalip laba Petronas Malaysia.

Tetapi kebijakan BBM satu harga kemudian secara persisten menggerus keuangan Pertamina. Laba Pertamina menjadi terus menerus turun, meski bukannya merugi.

Kemungkinan Pertamina bisa bangkit masih tergantung pada harga-harga di pasar internasional.

Momentum turunnya harga minyak dunia bukan hanya bagus secara politik bagi incumbent, tetapi juga bagus bagi Pertamina. Di mana tekanan harga tidak terlalu tinggi, maka evaluasi kebijakan yang disebutkan di atas sebenarnya harus dilakukan. Sejauh yang terlihat belum nampak adanya langkah-langkah strategis yang disiapkan untuk memanfaatkan momentum tersebut. (pso)

SHARE ON
close

TOPIK TERPOPULER

PENALAR

PILIHAN REDAKSI

PENALAR TERPRODUKTIF

Ujang Komarudin, Dr., M.Si.

Pengamat Politik dan Dosen Universitas Al Azhar Indonesia

Mohammad Faisal

Direktur Centre of Reform on Economic (CORE) Indonesia

Christianto Wibisono

Analis Bisnis/ Pendiri Pusat Data Bisnis Indonesia (PDBI)

FOLLOW US

Polisi Tunduk Pada Hukum             Inovasi Kebijakan yang Tidak Menjual             Kebijakan Tergantung Tujuan Awalnya             Kebaya Tak Perlu Dipertanyakan             Penggalian Nilai Budaya Dibalik Kebaya             Berkebaya Adalah Kesadaran             Penangkapan Faisol Tidak Berdasar             Lembaga Negara Bukan Pemungut Upeti!             Cost Recovery Bukan dari APBN             Blok Masela, Akankah mengulang sejarah Freeport?